Ketika Lamafa Dikriminalisasi Atas Nama Konservasi

Tradisi lamalera di NTT (dok. kementerian pariwisata)
Tradisi lamalera di NTT (dok. kementerian pariwisata)

Jakarta, Villagerspost.com – Menjelang hari HAM 2016, Goris Dengekae Krova seorang lamafa atau nelayan masyarakat adat Lamalera terancam kriminalisasi karena melakukan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak anggota komunitasnya. Goris terancam dikriminalisasi karena menangkap ikan pari jenis Pari Manta (Manta birostris).

“Goris juga mendapat penahanan sewenang-wenang tanpa diberikan surat perintah pemanggilan dan penahanan dari Pihak Kepolisian Resort Lembata,” kata Ketua Bidang Masyarakat Adat dan Kebudayaan Bahari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bona Beding dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Kamis (8/12).

Goris merupakan anggota dari komunitas nelayan masyarakat adat Lamalera sebagai komunitas orang asli yang menangkap ikan dengan cara yang telah dipraktikkan secara turun temurun. Sejak abad ke-16 hingga saat ini praktik penangkapan ikan secara tradisional dengan teknologi yang sederhana masih dipraktikkan terhadap ikan-ikan besar termasuk ikan Pari dan ikan Paus.

“Praktik tradisional ini terkadang memerlukan waktu hingga berhari-hari untuk menaklukkan ikan besar yang memiliki tenaga besar bahkan melampaui batas perairan teritorial Indonesia,” terang Bona.

Setelah mendapatkan ikan, para lamafa (orang yang memimpin dan menangkap dengan tombak) tidak mengambil sendiri hasil tangkapannya. Mereka harus memastikan kelompok yang paling rentan terlebih dulu mendapatkan hasil tangkapan.

“Kelompok prioritas untuk mendapat bagian hasil tangkapan yaitu ibu janda yang renta, perempuan dan anak dan termasuk yatim dan piatu baru bisa memanfaatkan hasil tangkapan,” kata Bona.

Ketua Bidang Pengembangan Hukum dan Pembelaan Nelayan DPP KNTI Marthin Hadiwinata mengatakan, kriminalisasi terhadap Goris ini dilakukan oleh Kementerian Kelautan Perikanan, Kepolisian Resor Lembata dan Wildlife Crime Unit. Mereka menangkap Goris dengan dasar Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

“Keputusan tersebut disahkan tanpa pernah melalui konsultasi publik bahkan sosialisasi kepada masyarakat adat lamalera, yang otomatis mengkriminalisasi segala penangkapan ikan pari manta jenis Manta Birostris dan Manta Alfredi,” kata Marthin.

Goris terancam dikenakan ketentuan pidana dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya khususnya Pasal 21 Ayat (2) huruf b dan d jo Pasal 40. Goris diancam dengan ancaman pidana penjara 5 (lima) tahun dan denda Rp100.000.000,00 (seratusjuta rupiah).

Namun jika dijerat menggunakan Undang-Undang Perikanan, Goris termasuk kategori nelayan kecil dapat dikenakan Pasal 100C UU No. 45 Tahun 2009 yang melanggar Pasal 7 Ayat (2) huruf n UU No. 45 Tahun 2009 mengenai pengaturan atas jenis ikan yang dilindungi. Untuk ini ancaman pidananya adalah denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Marthin menjelaskan, hingga kini Goris tidak mendapatkan kejelasan status apakah menjadi tersangka atau saksi. Dia mengatakan, tindakan kriminalisasi ini merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi UUD 1945 yang termasuk Sila kelima pancasila, Pasal 18B Ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C Ayat (1),  Pasal 28D Ayat (1), Pasal 28I Ayat (3), Pasal 28H Ayat (1), Pasal 32 Ayat (1)Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945.

Termasuk juga UU No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam  dan UU No. 27 Tahun 2007 jo UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. “Masalah yang dihadapi oleh Goris dengan kriminalisasi ini merupakan pelanggaran terhadap komitmen Indonesia atas implementasi Pedoman Perlindungan Perikanan Skala Kecil FAO Tahun 2014 yang berbasiskan pendekatan hak asasi manusia dalam perikanan,” pungkas Marthin.

Ikuti informasi terkait konservasi laut >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *