Kiprah Si “Kebo Ijo” di Munas Gerakan Petani Nusantara

Mobil Klinik Tanaman IPB memberikan pelayanan penyuluhan (dok. klinik tanaman IPB)

Ponorogo, Villagerspost.com – Sejumlah 200-an petani berkumpul di acara Musyawarah Nasional Gerakan Petani Nusantara (Munas GPN) di Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, pada tanggal 22-24 Februari lalu. Tak mau kalah, Si “Kebo Ijo” pun ikut pula mengumpulkan sejumlah petani di tempat yang sama.

Hanya saja, “Kebo Ijo” tidak sedang membuat acara tandingan untuk Munas Gerakan Petani Nusantara. Dia memang selalu hadir untuk para petani dalam rangka memberikan saran dan solusi jitu bagi petani dalam menghadapi masalah-masalah pertanian. Si Kebo Ijo ini tak lain adalah mobil Klinik Tanaman milik Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Para pakar pertanian yang mengawaki si Kebo Ijo, yang juga anggota GPN, ikut hadir bukan hanya dalam rangka munas, melainkan membuka gerai konsultasi bagi para petani, khususnya di sekitar lokasi acara. Dalam kesempatan itu, seorang petani mengeluhkan tanaman padinya yang menunjukkan gejala serangan blas.

“Penyakit seperti ini banyak ditemukan di lahan-lahan milik petani sekitar,” ujarnya, kepada tim Klinik Tanaman IPB.

Menanggapi keluhan itu, Bonjok Istiaji, salah seorang ahli penyakit tanaman mengatakan, serangan blas bisa dihindari dengan teknik budidaya tanaman yang baik. “Intinya budidaya tanaman padi yang baik akan menghasilkan hasil panen yang baik,” ujarnya.

Bonjok juga mengimbau petani untuk selalu waspada terhadap serangan hama maupun penyakit seperti blas. Bonjok menjelaskan, tanaman padi yang berisiko tinggi terkena blas ada beberapa ciri. “Pertama kekurangan air. Kedua, jerami padi tidak dikembalikan ke sawah dan tidak ada penambahan bahan organik,” jelasnya.

Ciri ketiga, kata Bonjok, adanya penggunan pupuk N (nitrogen) yang tinggi. Keempat penggunaan pupuk K (kalium) rendah. Kelima, penggunaan herbisida.

Mengembalikan jerami ke sawah, kata Bonjok, adalah dalam rangka mengembalikan Kalium ke tanah. “Jerami padi itu kaya akan Kalium,” ujarnya. Kandungan K dalam jerami mencapai 1,8%, sehingga dalam 1 hektare jerami padi yang dipanen, bila dikembalikan ke sawah nilainya mencapai setara 90 kilogram Kalium atau setara 150 kg KCl.

Para petani pun merasa terbantu dengan hadirnya Si Kebo Ijo. Mereka bahkan penasaran, dengan daya jelajahnya. “Sudah ada dimana saja mobil klinik seperti ini?” ujar salah satu petani yang hadir dalam musyawarah nasional GPN.

Bonjok menjelaskan, Si Kebo Ijo selama ini selalu mencoba hadir menghampiri petani, khususnya di wilayah yang terkena atau berpotensi terkena serangan hama dan penyakit tanaman. “Sejauh ini belum banyak pihak-pihak yang mengadopsi mobil Klinik Tanaman, ada di daerah Bojonegoro mengadopsi mobil klinik tanaman namun belum diketahui pasti apakah sudah beroperasi karena tenaga ahli yang sepertinya belum memadai,” ujar Bonjok.

Harapannya, kata dia, ke depan lebih banyak lagi petani yang mengenal klinik tanaman dan timbul klinik-klinik tanaman dengan mobilitas tinggi seperti Si Kebo Ijo,di berbagai daerah yang siap hadir untuk menemani dan memberikan solusi permasalahan pertanian demi pertanian Indonesia yang lebih sejahtera.

“Selain hadir untuk membuka gerai konsultasi, klinik tanaman juga hadir untuk menyambangi dan memperkenalkan lebih luas arti penting dan esensi dari klinik tanaman. Dengan begitu klinik tanaman dapat menjadi solusi permasalahan petani di seluruh Indonesia,” pungkas Bonjok.

Laporan: Raidi Rahman Moeis, Mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB
Foto: Klinik Tanaman IPB

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *