Kisah Maharadi Berjuang Mempertahankan Kopi Sebagai Identitas Orang Gayo

Maharadi di kebun kopi miliknya (dok. pribadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Kopi bagi masyarakat suku Gayo, di Aceh, selaiknya anggota keluarga yang harus dirawat, dijaga dan disayangi dengan baik. Kopi memang sudah menjadi keseharian masyarakat Gayo, terutama yang tinggal di kawasan Dataran Tinggi Gayo yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

“Mereka sudah sejak turun temurun berkebun kopi, banyak dari mereka yang lahir dan besar di kebun kopi,” kata Maharadi Gayo, seorang pekebun kopi yang juga pemilik Bayakmi Kupi, kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Dia bercerita, perkebunan kopi di Gayo, umumnya masih dimiliki oleh rakyat. “Perusahaan masih belum masuk ke daerah tersebut. Namun terdapat kekhawatiran, lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, orang luar Gayo akan mulai melirik kepemilikan kebun kopi di Gayo,” ujarnya.

Bagi masyarakat Gayo, kehadiran industri menjadi kekhawatiran tersendiri akan memunahkan tradisi berkebun kopi masyarakat Gayo. “Karena lahir, hidup, besar dengan kebun kopi, kopi seperti kekasih dan keluarga bagi petani kopi Gayo. Mereka memiliki ikatan emosional dengan kopi,” ujarnya.

Kekhawatiran itu muncul lantaran saat ini mulai banyak hadir koperasi kopi yang dimiliki dan dikendalikan oleh orang luar Gayo. “Meskipun kebunnya tetap dimiliki orang Gayo,” tegasnya.

Kehadiran koperasi itu sendiri sebenarnya cukup membantu dalam hal pemasaran kopi, karena petani memang lebih suka bertanam dan kurang mahir dalam perdagangan. Namun dikhawatirkan ketika pemasaran dikuasai orang luar, ketergantungan petani semakin tinggi dan harga kopi Gayo di tingkat petani bisa dipermainkan, sehingga meski harga di luar sangat tinggi, di tingkat petani sangat rendah.

Hal itu dikhawatirkan akan membuat petani malas bertanam kopi sehingga tradisi berkebun kopi akan hilang. Oleh karena itu, Maharadi bersama komunitasnya mendorong petani kopi di Gayo untuk mengolah kopinya demi meningkatkan nilai tambah kopi agar tidak dijual murah kepada tengkulak.

“Kami mendorong anak muda pekebun kopi di Gayo, untuk mempelajari pengolahan biji kopi.¬†Untuk menarik anak muda lainnya, maka penting untuk memberikan teladan dengan memulai rangkaian proses itu, mulai dari bertanam, memanen kopi hingga kopi siap dijual dalam kemasan dan siap dipasarkan ke konsumen,” kata Maharadi.

Hal ini dilakukan oleh Maharadi melalui kedainya, Bayakmi Kupi. Maharadi membangun kedainya di sekitar kawasan kebun miliknya agar pengunjung tak hanya menikmati hamparan kebun kopi tetapi juga bisa sekaligus melihat proses pengolahan kopi hingga terhidang di meja.

Dia berharap dengan meningkatnya kemampuan anak muda Gayo dalam mengolah dan memasarkan kopi, petani kopi di Gayo akan lebih sejahtera dan tradisi berkebun kopi masyarakat Gayo yang sudah berlangsung turun-temurun tak hilang ditelan zaman.

Laporan: Hesti Al Bastari

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *