KKP 2015: Dari Penenggelaman Kapal Hingga Penghematan Anggaran

Kapal asing terlibat praktik illegal, unregulated, unreported fishing diledakkan (dok. kkp.go.id)
Kapal asing terlibat praktik illegal, unregulated, unreported fishing diledakkan (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Tahun 2015 akan segera berakhir. Sepanjang tahun ini, banyak hal yang sudah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam upayanya mewujudkan kesejahteraan bagi para nelayan dan pelaku perikanan nasional. Ada beberapa program yang menjadi andalan kementerian yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti tersebut.

Yang paling menonjol tentunya adalah program pemberantasan pencurian ikan atau illegal fishing. Salah satu yang menjadi sorotan dari program ini adalah upaya Susi dalam menenggelamkan kapal-kapal pelaku illegal fishing. Meski banyak kontroversi pada awalnya, Susi bergeming menjalankan program ini demi memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan perikanan.

Berdasarkan catatan KKP, sepanjang tahun 2015, terdapat sejumlah 157 unit kapal pelaku illegal fishing yang telah ditangkap. Dari jumlah itu, 107 kapal sudah ditenggelamkan. “Kami laporkan juga penggelaman kapal ada 107 yang kita tenggelamkan,” kata Sekretaris Jenderal KKP Sjarief Widjaja, lewat siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (30/12).

Kapal-kapal yang ditenggelamkan itu terdiri dari 39 kapal Vietnam, 34 kapal Filipina, 21 kapal Thailand, 6 kapal Malaysia, 4 kapal Indonesia, 2 kapal Papua Nugini, dan 1 kapal China. Terakhir, masih terkait dengan upaya ini, pihak TNI AL yang menjadi mitra KKP dalam pemberantasan illegal fishing juga bakal menenggelamkan kapal pelaku pencurian ikan.

Kali ini ada 10 kapal illegal fishing yang akan ditenggelamkan bersama-sama dengan KKP. “Hasil koordinasi KKP dengan TNI AL pada tanggal 28 Desember 2015. Rencana untuk menenggelamkan kapal ikan hasil tangkapan,” kata Kepala Dinas penerangan TNI AL, Laksamana Pertama M Zainudin, Rabu (30/12).

Ada beberapa lokasi tempat penenggelaman kapal yang berhasil ditangkap baik oleh TNI AL maupun KKP. Kapal yang akan ditenggelamkan itu sudah selesai kasus hukumnya di pengadilan. “TNI AL menyiapkan 10 kapal ikan hasil tangkapan, akan ditenggelamkan Kamis (31/12) besok,” kata Zainudin.

Zainuddin menerangkan, dari 10 kapal yang bakal ditenggelamkan tersebut, 6 diantaranya adalah kapal berbendera Indonesia. Sementara 2 kapal adalah kapal Filipina dan 2 kapal Malaysia. Sebanyak 6 kapal akan ditenggelamkan di Tahuna, Sulut, lalu 1 di Tarakan, Kalimantan Utara, dan 1 kapal di Tarempa, Kepulauan Riau.

Sisanya satu kapal lainnya akan ditenggelamkan di Belawan, Sumut. “Saat ini sudah ada 49 kapal yang TNI AL tenggelamkan. Kalau gabungan seluruhnya sudah 107 kapal yang ditenggelamkan,” tukas Zainudin.

Selamatkan Stok Ikan Nasional

Fokus KKP dalam memberantas illegal fishing memang cukup memberikan angin segar bagi perikanan Indonesia. Salah satu dampak positif yang dirasakan adalah meningkatnya stok ikan nasional, khususnya di wilayah pengelolaan perikanan yang tadinya kerap menjadi area pencurian ikan oleh kapal asing.

Sjarief Widjaja mengatakan, stok ikan di kawasan itu saat ini melimpah. “Berkat stok ikan yang melimpah, hasil tangkapan nelayan lokal lebih banyak, kesejahteraan nelayan pun jadi lebih baik,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Nelayan per November 2015 adalah 106,12%, naik dibanding November 2014 yang sebesar 104,2%. “Kesejahteraan nelayan juga mulai naik, secara keseluruhan dibanding tahun lalu mengalami kenaikan. Tapi di November sedikit turun lagi karena anginnya sedang kencang,” ujarnya.

Dampak positif lainnya adalah neraca perdagangan perikanan Indonesia yang semakin positif. Larangan transhipment alias bongkar muat ikan hasil tangkapan di tengah laut membuat pencurian ikan dari laut Indonesia semakin sulit. Akibatnya, ekspor ikan Thailand dan Filipina menurun, sebab selama ini nelayan dari kedua negara tersebut banyak mencuri ikan dari Indonesia.

Penurunan ekspor ikan Thailand dan Filipina dibarengi dengan meningkatnya ekspor ikan Indonesia. Ekspor ikan tuna Indonesia ke Amerika Serikat (AS) selama Januari-September 2015 misalnya, naik 7,73%. Pada saat yang sama ekspor Tuna Thailand dan Filipina ke AS anjlok masing-masing 17,36% dan 32,59%.

“Kebijakan moratorium dan larangan transhipment yang diberlakukan Indonesia memberikan dampak signifikan pada Thailand dan Filipina. Ekspor tuna Indonesia ke AS Januari-September naik 7,73% sementara Thailand dan Filipina turun. Thailand turun 17,36%, sedangkan Filipina turun 32,59%. Ekspor mereka terganggu,” ungkap Sjarif.

Melimpahnya pasokan ikan di dalam negeri juga membuat konsumsi ikan masyarakat Indonesia meningkat, rata-rata tahun ini 40,9 kg/kapita, naik dibanding 2014 sebesar 37,89 kg/kapita. “Konsumsi ikan nasional terus mengalami peningkatan, mudah-mudahan tahun depan lebih baik lagi,” kata Sjarief.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor perikanan juga bagus. PDB perikanan Januari-September 2015 naik 8,37% di 2015, jauh di atas rata-rata kenaikan PDB nasional sebesar 4,73%. Kenaikan PDB perikanan 2015 juga lebih tinggi dibanding 2014. Pertumbuhan PDB perikanan pada 2014 hanya sekitar 7%. “Pertumbuhan PDB perikanan mencapai 8,37%, jauh di atas pertanian,” tutup Sjarif.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.