KKP Bangkitkan Kembali Budidaya Lele di Pandeglang | Villagerspost.com

KKP Bangkitkan Kembali Budidaya Lele di Pandeglang

Ilustrasi peternakan lele rakyat (villagerspost.com/tim jurnalis desa kalensari)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya membangkitkan kembali usaha budidaya lele di Kabupaten Pandeglang, Banten, pasca bencana tsunami. Belum lama ini pihak KKP kembali menyerahkan bantuan bagi pembudidaya ikan dan masyarakat terdampak bencana tsunami, berupa 35.000 ekor benih lele dan 1,4 ton pakan ikan. Selain itu, KKP juga menyalurkan bantuan paket sembako kepada 160 KK.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, bantuan itu merupakan sebagian dari rencana KKP untuk membangkitkan kembali usaha perikanan budidaya di Kabupaten Pandeglang pasca bencana tsunami. Pada tahun 2019 ini KKP berencana menyalurkan 1,5 juta ekor benih ikan dan udang, 3.000 ekor calon induk ikan unggul, 10-15 ton pakan ikan, paket budidaya bioflok, bahan baku pakan mandiri, serta pendampingan dalam berbagai usaha perikanan termasuk budidaya.

“Kami berkewajiban memotivasi masyarakat untuk segera bangkit. Kami ingin pembudidaya segera kembali melanjutkan usahanya. Produksi perikanan baik dari budidaya maupun penangkapan harus kembali bangkit. Kami tahu potensi perikanan budidaya yang dimiliki pandeglang luar biasa,” ujar Slamet.

“Kami yakin ini belum cukup. Kami minta Pak Kadis untuk mengidentifikasi lebih lanjut serta meng-update kerusakan-kerusakan sarana prasarana budidaya dan jumlah pembudidaya yang terdampak bencana,” lanjutnya.

Slamet juga mengharapkan kepada masyarakat membentuk kelompok berbadan hukum atau koperasi untuk memudahkan pembinaan dan penyaluran bantuan dari pemerintah termasuk KKP, perbankan, serta lembaga lainnya.

“Untuk mengatasi penyakit ada balai khusus yang menangani penyakit ikan di Serang sini. Persoalan pakan, maka akan ada bantuan pakan, mesin pakan mandiri. Oleh karena itu, saya minta agar membentuk kelompok baik pembudidaya, nelayan maupun pengolah, anggotanya 10, 11, 12 orang, boleh lebih,” terang Slamet.

Terkait isu dan ketakutan masyarakat untuk makan ikan hasil tangkapan di laut, ia kembali mengingatkan bahwa itu adalah anggapan yang salah. “Ikan di lautan itu tidak makan jenazah korban tsunami yang terbawa ke laut. Itu anggapan yang tidak tepat. Ikan di laut makan berbagai jenis plankton dan makan ikan lain yang ukuran badannya lebih kecil dari bukaan mulutnya,” ia menjelaskan.

Slamet meminta masyarakat kembali dan semakin menggemari makan ikan. Saat ini jelasnya, konsumsi per kapita penduduk Indonesia sudah mecapai 50,69 kg/kapita/tahun dan ditargetkan 5 tahun ke depan sudah mampu mencapai 73 kg/kapita/tahun.

“Usaha di perikanan itu berguna untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, perekonomian keluarga bapak ibu. Juga untuk meningkatkan gizi keluarga dan masyarakat,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *