KKP Gandeng WWF Dorong Budidaya Udang Windu Berkelanjutan

Budidaya udang dalam tambak plastik. (dok. pusluh.kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng organisasi lingkungan internasional WWF dalam mendorong pengelolaan budidaya udang windu berkelanjutan. Keterpurukan usaha budidaya udang windu sejak hampir dua dekade yang lalu disinyalir akibat pola pengelolaan yang mengabaikan prinsip-prinsip budidaya yang bertangung jawab.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, sebagai komoditas unggulan asli Indonesia, udang windu memiliki nilai ekonomi penting, sehingga eksistensinya harus dipertahankan sebagai bagian dari plasma nutfah Indonesia. “Oleh karenanya dalam pengelolaan udang windu harus mempertimbangkan kesesuaian lokasi dan konservasi sumber daya udang windu khususnya induk-induk dari alam,” ujarnya saat membuka lokakarya sistem pengelolaan budidaya udang windu di Jakarta, Rabu (15/2).

Lokakarya ini bertujuan untuk menghasilkan dokumen sintesa terkait strategi bagi pengelolaan budidaya udang windu secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Slamet mengatakan, prinsip-prinsip sustainable aquaculture menjadi hal mutlak yang harus dipenuhi jika ingin ada jaminan usaha budidaya dapat berkelanjutan. “Kegagalan udang windu pada tahun tahun yang lalu tidak boleh terulang lagi,” tegasnya.

Apalagi menurutnya, saat ini permintaan pasar udang windu terbuka luas. Slamet juga menegaskan pentingnya melakukan pengelolaan sumber daya udang windu berbasis ekosistem. Oleh karenanya, KKP bersama WWF telah melakukan percontohan implementasi budidaya berbasis ekosistem (Ecosystem Approach for Aquaculture/EAA) di Kabupaten Pinrang dengan menggandeng PT Bomar sebagai eksportir udang windu, di mana nantinya percontohan ini akan menjadi rujukan bagi penerapan EAA di seluruh Indonesia.

“Saat ini ada image bahwa akuakultur ini menjadi penyebab menurunnya kelestarian sumber daya ikan. Ini disebabkan karena eksploitasi sumber induk dan benih yang berasal dari alam. Di sini saya ingin tegaskan bahwa mulai saat ini eksploitasi sumber induk dan benih dari alam harus dihentikan,” ujar Slamet.

Untuk mencegah eksploitasi tersebut, upaya yang dilakukan yakni mendorong pemuliaan induk melalui breeding program. “Saat ini kita memiliki broodstock center khusus udang windu di BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar yang akan didorong untuk menghasilkan induk-induk unggul dan SPF (Spesifik Pathogen Free),” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Marine and Fisheries WWF Wawan Ridwan menyambut gembira komitmen KKP dalam mendorong pengelolaan akuakultur secara bertanggung jawab. Terlebih menurutnya, udang windu merupakan udang endemik dan menjadi keragaman plasma nutfah Indonesia.

“Ada hak ekologi terkait sumber daya udang windu ini, dimana Indonesia bertanggung jawab menjamin kekestarian sumber daya udang windu ini. Artinya jika udang windu punah, maka negara lain bisa menuntut Indonesia,” ujarnya.

“Kita sering terlena dan merasa bahwa sumber daya ini tidak tak terbatas, sehingga pertimbangan carrying capacity terabaikan. Inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan stok, imbasnya tidak ada jaminan ketersediaan bagi lintas generasi. Lokakarya ini akan membangun komitmen, bagaimana menjamin kualitas ekosistem sebagai habitat udang windu, sehingga penurunan stok ini dapat dipulihkan,” jelas Wawan.

Sementara itu, General Manager Moana Technology, Hawaii USA Walter Coppens menyatakan, induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu. Keberhasilan selected breeding program yang dilakukan Moana saat ini yakni kematangan gonad induk yang mampu dipersingkat dari semula 12 bulan menjadi hanya 9 bulan. Kemudian Moana juga menerapkan sistem ketelusuran yang efektif dan jaminan terbebas dari hampir 20 jenis penyakit dan gejalanya.

“Moana memberikan jaminan bahwa induk yang digunakan betul betul telah melalui seleksi yang ketat dan telah terbukti benih yang dihasilkan memiliki SR yang tinggi. Saat ini kami setidaknya memiliki tiga lokasi multiplication center antara lain di Vietnam, Bangladesh, dan India,” kata Walter.

Bahkan, ujarnya, National Broodstock Center Vietnam misalnya telah menghasilkan 60.000 induk per tahun. “Ini salah satu ambisi Vietnam untuk menguasai pangsa pasar udang dunia. Saya rasa Indonesia perlu melakukan hal yang sama agar tidak ketinggalan,” ungkap Walter.

Sementara itu, Manajer PT Bomar Irsan Surya Centama menuturkan, potensi tambak untuk pengembangan udang windu di Sulawesi dan Kalimantan diperkirakan mencapai 263.000 ha tersebar di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara dengan pembudidaya yang dapat dilibatkan mencapai 100.000 orang. Ia menambahkan, PT Bomar akan mendorong intagrated factory, dan saat ini tengah bekerjasama dengan WWF untuk memenuhi ASC (Aquaculture Stewardship Council) sertifikasi.

“Demand udang windu ini sangat besar dan terbuka, dan saat ini kami masih kekurangan suplai. Indonesia punya potensi pengembangan besar, saya rasa dengan upaya pengembangan induk dan benih unggul dan pengelolaan budidaya yang berkelanjutan, peluang ini dapat kita capai,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *