KKP Lepasliarkan Satwa Endemik dan Langka

Belangkas atau kepiting tapal kuda (dok. klhk)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) melakukan pelepasliaran atau restocking 1.000 ekor Ikan Oliv berukuran 5–10 cm di Bendali Sudirman Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, daerah paling timur Indonesia. Hal ini sebagai upaya pelestarian ikan endemik di bumi Cenderawasih tersebut. “Kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan dan diharapkan ikan endemik di Kabupaten Merauke tetap lestari,” kata Kepala BKIPM, Rina di Jakarta, Jumat (3/7).

Rina mengungkapkan, restocking menjadi bagian dari Bulan Mutu Karantina Ikan Tahun 2020 melalui Bakti Lingkungan yang dilaksanakan oleh Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Merauke. Menurutnya, ikan Oliv tergolong jenis ikan hias yang hidup di perairan tawar Kabupaten Merauke.

Ikan ini diperoleh dari masyarakat (pengumpul). Lokasi pelepasliaran berada di Bendali Soedirman yaitu sebuah waduk buatan pada koordinat 8°23’49.8” S, 140°28’47,2” E, berjarak 500 meter dari Kantor Kepala Kampung Marga Mulya atau sekitar 30 menit dari Kota Merauke. “Pemilihan lokasi pelepasliaran tersebut didasarkan pada keberadaan alamiahnya di semua tipe perairan air tawar di Kabupaten Merauke, baik tergenang maupun mengalir,” ujarnya.

Sementara itu Kepala SKIPM Merauke Nikmatul Rochmah mengungkapkan alasan lain pemilihan lokasi tersebut karena kondisi kelimpahan air yang stabil di musim kemarau serta relatif minimnya ikan introduktif invasif seperti ikan Gabus dibandingkan di perairan umum.

Pelepasliaran dilakukan pada pukul 11.00 WIT dengan kondisi cerah dan melalui proses aklimatisasi (penyesuaian lingkungan) selama 5-10 menit pada Rabu, 1 Juli. “Melalui pelepasliaran ini semoga keberadaan ikan Oliv yang sudah jarang ditemukan kembali berkembang dan lestari dan tentunya bermanfaat untuk masyarakat Merauke,” kata Nikmatul.

Upaya pelestarian terhadap satwa yang dilindungi juga dilakukan oleh Pengawas Perikanan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan bersama dengan TNI AL dan Kelompok Konservasi Pasar Sorkam dengan melepasliarkan dua ekor Belangkas yang tertangkap oleh jaring nelayan setempat. Pelepasliaran tersebut dilakukan pada Jumat (3/7) di wilayah perairan Pasar Sorkam, Tapanuli Tengah.

“Pelepasliaran ini merupakan upaya untuk melestarikan satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Belangkas ini merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang jumlahnya semakin berkurang karena banyak diburu,” jelas Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.

Tb Haeru menjelaskan, penyelamatan Belangkas tersebut tidak lepas dari sinergi yang baik antara masyarakat dan aparat di lapangan. Koordinasi dilakukan dengan baik dan cepat sehingga Belangkas tetap hidup untuk kemudian dilepasliarkan. “Apresiasi kami sampaikan khususnya kepada Kelompok Konservasi Pasar Sorkam yang segera melakukan penanganan awal dan melaporkan adanya Belangkas yang tertangkap oleh jaring nelayan,” terang Tb.

Belangkas atau mimi merupakan salah satu satwa dilindungi yang memiliki bentuk yang unik, sekilas tubuhnya terlihat seperti ikan pari dengan kulit yang kaku dan keras. Bentuk tubuh bagian depannya juga dianggap mirip dengan tapal kuda sehingga dikenal juga sebagai Perahorseshoe crab atau kepiting tapal kuda.

Belangkas ini hidup di perairan dangkal, yaitu kawasan payau dan mangrove. Hewan ini sering disebut fosil hidup, karena telah ada di bumi hampir 200 juta tahun sebelum munculnya dinosaurus. Belangkas juga diyakini sebagai satu-satunya wakil dari kelompok Xiphosurida yang masih bertahan hidup di bumi.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Matheus Eko Rudianto menyampaikan, pelestarian Belangkas ini merupakan upaya menjaga kelestarian sumber daya perikanan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009.

Sebelum dibentuk KKP, secara khusus pengaturan terhadap satwa yang dilindungi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Kemudian lebih lanjut Belangkas ditetapkan sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Eko menambahkan, Belangkas memiliki peran penting bagi ekosistem perairan karena merupakan organisme yang membantu dalam proses penguraian sampah di laut. “Sebagai organisme yang membantu proses penguraian sampah di laut, belangkas ini tentu perannya sangat penting,” jelasnya.

Eko menambahkan, menurunnya jumlah Belangkas di alam selain dipengaruhi oleh penurunan kualitas perairan karena pencemaran dan perusakan habitat, juga tidak lepas dari maraknya perburuan secara ilegal. Upaya melindungi keanekaragaman hayati terus dilakukan oleh aparat Ditjen PSDKP-KKP. Tercatat, selama masa pandemi COVID-19, ada 13 kasus yang ditangani oleh Ditjen PSDKP bersama dengan instansi terkait di berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa ikan dilindungi seperti Dugong, penyu dan paus berhasil diselamatkan dalam kurun waktu tersebut.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *