KKP Tetapkan Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut

Pelepasliaran duyung yang terperangkap di jaring nelayan di TN Bunaken (dok. tn bunaken)

Jakarta, Villagerspost.com – Perairan Indonesia merupakan tempat hidup dan jalur migrasi bagi 35 spesies mamalia laut. Semua jenis mamalia laut (termasuk duyung) yang ada di perairan Indonesia sudah ditetapkan menjadi jenis yang dilindungi melalui PP No. 7 Tahun 1999 yang selanjutnya diubah dalam Permen LHK No. 20 Tahun 2018 jo Permen LHK No. 92 Tahun 2018.

Karena itulah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut. Penetapan itu dilakukan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 79/KEPMEN-KP/2018.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengatakan, RAN yang ditetapkan memuat strategi, kegiatan, indikator, output, lokasi, waktu, penanggung jawab, dan unit kerja terkait dalam pelaksanaan upaya konservasi mamalia laut (duyung, paus, dan lumba-lumba) di Indonesia.

“Penetapan status perlindungan ini merupakan langkah awal dan bentuk komitmen nyata pemerintah Indonesia dalam rangka menjaga kelestarian mamalia laut dari ancaman kepunahan,” kata Brahmantya, pada kegiatan Simposium Nasional Duyung dan Lamun di Ballroom Gedung Mina Bahari III, Jakarta (21/11).

Brahmantya mengharapkan, Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut yang telah ditetapkan dapat menjadi acuan dan arahan bersama dalam mensinergikan gerak langkah dalam upaya perlindungan dan pelestarian mamalia laut di Indonesia. “Lebih lanjut, RAN Konservasi Mamalia Laut diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen perencanaan, tetapi benar-benar dilaksanakan oleh para pihak, terutama oleh instansi yang menjadi penanggung jawab kegiatan,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Brahmantya, KKP akan mengevaluasi pelaksanaan RAN tersebut setiap tahun. “Penetapan status perlindungan masih harus diikuti dengan upaya-upaya pelestarian lainnya mengingat terdapatnya beragam isu dan permasalahan yang mengancam kehidupan mamalia laut di Indonesia, baik yang disebabkan oleh kegiatan langsung manusia yang tidak ramah lingkungan atau merusak maupun hilangnya atau tercemarnya habitat hidupnya,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP Andi Rusandi menambahkan, saat ini KKP bersama P2O-LIPI, FPIK-IPB, dan WWF Indonesia sedang melaksanakan Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP), dengan sumber pembiayaan dari GEF. Program yang sudah berjalan sejak tahun 2016 difokuskan kepada 3 (tiga) isu utama yakni kebijakan, riset dan penyadartahuan serta konservasi berbasis masyarakat.

“Dalam rangka mendesiminasikan status capaian program dan mengembangkan exit strategy pasca implementasi DSCP, maka hari ini diselenggarakan Simposium Nasional Duyung dan Lamun kedua dengan mengundang lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai pemangku kepentingan,” papar Andi.

Menurut Andi, pelaksanaan program DSCP di Indonesia telah menunjukkan sejumlah output dan kontribusi positif terhadap upaya pengelolaan duyung di Indonesia. Di level kebijakan daerah, program DSCP telah memfasilitasi tersusunnya Rencana Aksi Daerah (RAD) Konservasi Duyung dan Lamun di 4 (empat) lokasi project, yakni di provinsi Kepri, Kalteng, Sulteng, dan NTT.

“RAD yang merupakan dokumen turunan dari RAN diharapkan akan menjadi acuan stakeholder di daerah, terutama Pemda, dalam upaya perlindungan dan pelestarian duyung di wilayahnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Andi, di lokasi-lokasi tersebut juga sedang dijalankan program insentif mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat seperti pengembangan budidaya spirulina di Kotawaringin Barat-Kalteng, pengembangan ekowisata duyung di Alor-NTT, pengembangan sambal khas lokal Ikan Tembang di Tolitoli-Sulteng, serta pengembangan CSR untuk pelaku wisata di Bintan-Kepri.

“DSCP di Indonesia adalah bukti bahwa kerjasama KKP dengan berbagai lembaga dapat dilakukan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Untuk kerjasama yang lebih baik di masa depan, intensitas komunikasi perlu ditingkatkan, terutama dengan masyarakat lokal. Bersama kita bisa menjaga duyung, dan melestarikan padang lamun,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *