KLHK Dorong Pesona Mart Pasarkan Produk Perhutanan Sosial

Poster program perhutanan sosial yang menegaskan pendayagunaan hutan untuk kepentingan rakyat (dok. kementerian koordinator perekonomian)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong hadirnya Pesona Mart sebagai jendela mengenalkan sekaligus memasarkan produk-produk komoditi hasil hutan yang dilahirkan dari program perhutanan sosial kepada khalayak umum. Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Bambang Supriyanto mengatakan, kehadiran Pesona Mart diharapkan dapat meningkatkan akses pemasaran dan pendapatan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang hingga saat ini telah terbentuk sebanyak 5.245 kelompok di seluruh Indonesia.

“KLHK sedang melakukan upaya pengembangan usaha di bidang Perhutanan Sosial khususnya hasil hutan bukan kayu sebagai bentuk konkret memajukan kesejahteraan masyarakat dari pemanfaatan hutan,” kata Bambang, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (6/2).

Pendekatan baru negara memberikan izin kepada masyarakat untuk mengelola hutan melalui skema Perhutanan Sosial, menurutnya, telah membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitar hutan untuk bisa mengembangkan berbagai jenis usaha. “Dengan Perhutanan Sosial masyarakat dapat bermitra dengan siapapun untuk mengembangkan usahanya, harapannya dapat meningkatkan pendapatan melalui pengembangan komoditas, yaitu hasil hutan bukan kayu,” tambah Bambang.

Saat ini, usaha di bidang Perhutanan Sosial semakin berkembang. Dengan menerapkan asas kelestarian hutan dan asas ekonomi, beberapa KUPS telah mampu menghasilkan produk-produk komoditi hasil hutan yang layak untuk dipasarkan. Khusus untuk produk-produk komoditi hasil hutan bukan kayu, hingga saat ini kurang lebih ada 61 jenis produk yang telah mampu diproduksi oleh KUPS.

Di antaranya adalah Minyak Sari Buah Merah, Minyak Oles Gaharu, Jus Pala, Bio Spray Gaharu, Minyak Kayu Putih, dan Madu Mangrove. Kemudian ada pula Madu Karst, Madu Kelulut, Dompet Bordir Aceh, Kain Tenun Badui dan Kopi Codot. “Selain itu masih banyak lagi produk-produk komoditi hasil hutan bukan kayu lainnya,” jelas Bambang.

Dia menegaskan, kinerja skema Perhutanan Sosial sendiri sangat baik karena dalam empat tahun terakhir (2015-2018) telah menyerap tenaga kerja mencapai sekitar 2,4 juta jiwa. Dengan skema Perhutanan Sosial, kepala keluarga yang tergabung dalam KUPS bisa mendapatkan peningkatan pendapatan rata-rata Rp1 juta-Rp2 juta per bulan. “Artinya skema ini turut menyumbang penurunan angka pengangguran nasional,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *