KLHK Gelar Sekolah Lapangan Pencegahan Karhutla

Simulasi penanganan kebakaran hutan.  (dok. istimewa)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar sekolah lapangan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa desa di Sumatera. Lewat sekolah lapangan itu, KLHK terus mensosialisasikan upaya pengolahan lahan tanpa bakar, pada wilayah rawan karhutla.

Beberapa waktu lalu pendampingan ini telah dilakukan kepada kelompok tani di Desa Mencolok, Kecamatan Mencolok Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Pelaksanaan sekolah lapangan di Desa Mencolok turut didukung oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) KLHK, Manggala Agni, penyuluh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta mitra terkait.

Materi yang disampaikan dalam sekolah ini terkait dengan metode-metode pengolahan lahan tanpa bakar, seperti sistem agroforestry, serta penggunaan cuka kayu hasil olahan sendiri untuk pemupukan tanaman. Sejak setengah tahun yang lalu, para petani di Desa Mencolok telah menggunakan sistem tumpang sari, yang memadukan tanaman keras dengan tanaman sayur. Hingga kini, panen sayur yang dihasilkan cukup berlimpah.

Jaenudin, Ketua Kelompok Tani Desa Mencolok mengungkapkan, kelompok mereka telah menerapkan sistem membuka lahan tanpa bakar, hal ini dikarenakan pengalaman yang buruk atas kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015. “Ketika kami bakar lahan, suburnya itu paling hanya seminggu, karena cacingnya mati sehingga tanah menjadi tidak subur,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (14/11).

Di sekolah lapangan, para penyuluh pendamping juga mengajarkan cara membuat cuka kayu dari bahan bakaran yang tersedia di lahan, dan membuat kompos sebagai pupuk dasar. Tidak lupa, materi pemadaman dini juga disampaikan, sebagai antisipasi kejadian karhutla yang mungkin terjadi.

Cuka kayu atau dikenal juga sebagai asap cair (liquid smoke), adalah produk cair yang terbentuk melalui proses destilasi (penyulingan), dan kondensasi (pengembunan) asap sisa proses pembuatan arang, yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan limbah biomassa. Manfaat cuka kayu tersebut antara lain, dapat menjadi pengental alami getah karet sehingga meningkatkan kualitasnya, sebagai penghilang bau dan anti bakteri untuk ternak, serta campuran makanan untuk ternak.

Terkait program ini, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles B. Panjaitan terus menekankan pentingnya upaya pencegahan karhutla, terutama melalui berbagai pendekatan kepada masyarakat. “Kami terus berusaha mendorong berbagai inovasi agar masyarakat memiliki pilihan lebih positif dalam membuka lahannya tanpa membakar,” jelasnya.

Ditambahkannya, inovasi sekolah lapangan merupakan proses pembelajaran non formal bagi petani, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, identifikasi dan mengatasi permasalahan.

“Petani juga diharapkan mampu mengambil keputusan, dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumber daya setempat. Mereka juga harus memiliki wawasan lingkungan sehingga usaha tani akan lebih efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan,” lanjutnya optimis.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *