KNTI Tanjungbalai: BBM Bersubsidi Adalah Hak Nelayan Kecil

Suasana pelaksanaan survei bbm bersubsidi untuk nelayan (dok. knti)

Tanjungbalai, Villagerspost.com – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tanjungbalai-Asahan menilai, bahan bakar minyak bersubsidi bagi nelayan, adalah hak nelayan kecil-tradisional yang harus dipenuhi pemerintah. Karenanya, KNTI Tanjung balai, dalam waktu enam minggu ke depan, akan melakukan survei terkait hal ini.

Ketua KNTI Tanjung Balai-Asahan Imam Azhari mengatakan, survei akan dilakukan di 25 kabupaten/kota yang tersebar se Indonesia, salah satunya di Kota Tanjung Balai. “KNTI melakukan survei kepada nelayan tradisional (kecil) untuk mengurai permasalahan akses nelayan tradisional terhadap BBM Bersubsidi,” kata Iman, kepada Villagerspost.com, Rabu (9/6).

“Nelayan tradisional yang kita jumpai pada saat survei, menggantungkan harapannya kepada KNTI agar dapat membantu menyejahterakan nelayan khususnya kemudahan akses BBM bersubsidi serta kestabilan harga ikan,” terang Imam.

Suasana pelaksanaan survei bbm bersubsidi untuk nelayan (dok. knti)

Nelayan, kata Imam, juga meminta hasil data survei ini ditindaklanjuti agar ada solusi bagi nelayan agar mudah mengakses BBM bersubsidi. “KNTI sendiri berencana akan mempublikasikan hasil survei ini, dalam waktu dekat,” ujar Imam.

Dia menegaskan, aktivitas survei ini mendapatkan dukungan dari pemerintah dan DPRD Kota Tanjungbalai. “Walikota dan DPRD sangat mendukung dan mengapresiasi adanya survei ini. Survei yang dilakukan ini dapat meringankan atau membantu pemerintah khususnya Kepala Dinas Perikanan yang sangat mengapresiasi adanya survei ini,” terang Imam

Imam mengatakan, tolok ukur keberhasilan survei ini adalah realisasi dari hasil survei yang dilakukan, apakah dapat benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi nelayan. “Ketika data sudah terkumpul, kemampuan pemerintah kota diuji apakah bisa memberikan solusi atau tidak,” tegas Imam.

Dari hasil pengamatan di lapangan, Imam mengatakan, KNTI menemukan beberapa hal yang menjadi masalah keluarga nelayan. Salah satunya adalah ketidakmampuan mengatur keuangan terutama ketika mendapatkan hasil tangkapan yang lumayan di mana nelayan mendapatkan banyak pemasukan (uang).

“Ketika survei di lapangan ada sebagian nelayan yang mengaku pernah mendapatkan Rp5 juta hanya sekali melaut (pagi-sore), hal ini terjadi pada saat sedang musim ikan,” jelas Imam.

Suasana pelaksanaan survei bbm bersubsidi untuk nelayan (dok. knti)

Hanya saja uang sebesar itu menjadi tak berarti, ketika pada musim paceklik, nelayan kesulitan mendapatkan hasil tangkapan. Uang yang disimpan pada masa panen, biasanya akan cepat habis, sementara penghasilan tak menentu.

Selain itu, lanjut Imam, dari kegiatan survei diketahui pula fakta masih banyaknya nelayan kecil yang belum mendapatkan akses BBM bersubsidi. KNTI harus bekerja lebih keras agar nelayan bisa mendapatkan BBM bersubsidi.

“Soal kemudahan akses nelayan kecil terhadap BBM bersubsidi ini, harus segera kita upayakan sebagai wujud hasil dari kegiatan survei,” jelas Imam.

Hasil survei diharapkan bisa mendorong kesejahteraan nelayan kecil di Tanjungbalai dan Asahan. “Setelah hasil surveinya dipublikasikan, kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan DPRD, nelayan sendiri sebenarnya harapannya tidak muluk-muluk, nelayan hanya menginginkan hak-haknya terpenuhi,” pungkas Imam.

Editor: M. Agung Riyadi

 

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *