Koalisi Melawan Limbah Valuasi Kerugian Akibat Pencemaran

Pencemaran Sungai Cikijing akibat pencemaran dari limbah industri mencapai ratusan miliar rupiah untuk aspek kesehatan warga saja (dok. greenpeace.org)
Pencemaran Sungai Cikijing akibat pencemaran dari limbah industri mencapai ratusan miliar rupiah untuk aspek kesehatan warga saja (dok. greenpeace.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Aksi warga yang tergabung dalam Koalisi Melawan Limbah yang aktif melawan pencemaran limbah di Jawa Barat, khususnya di kawasan industri seperti di Rancekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tak berhenti pada gugatan atas SK Bupati Sumedang yang mengizinkan pembuangan limbah ke Sungai Cikijing. Koalisi Melawan Limbah juga melakukan perhitungan atau valuasi kerugian akibat pencemaran sungai yang terjadi selama 10 tahun belakangan.

“Kerugian ekonomi sudah dirasakan oleh masyarakat sejak begitu lama. Tidak hanya sumber air mereka yang terancam, namun juga sumber mata pencaharian mereka,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Dadan Ramdan, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (24/12).

Dadan mengatakan, hasil investigasi Koalisi menemukan bahwa perhitungan pemerintah akan kerugian lingkungan hidup dan masyarakat akibat pencemaran limbah industri mencapai lebih dari Rp710 miliar. “Namun bagaimana pertanggungjawaban industri pencemar terhadap kerugian yang ditimbulkan tidak jelas dan tidak transparan?” katanya.

Oleh karena itu, Koalisi sedang dan akan melakukan valuasi kerugian ekonomi bersama ahli dan akademisi, termasuk estimasi biaya pemulihan lahan yang tercemar. Hingga saat ini dari perhitungan sementara diketahui bahwa total kerugian masyarakat di bidang kesehatan saja, akibat penurunan kualitas udara dan air sejak tahun 2004 hingga 2015, mencapai lebih dari Rp800 miliar.

Sementara itu Koordinator Pawapeling Adi M Yadi mengatakan, pencemaran limbah B3 industri secara terang-terangan terus terjadi tidak hanya di Rancaekek, tapi juga diberbagai tempat. Khususnya di daerah aliran Sungai Citarum, salah satunya karena absennya tindakan hukum yang tegas terhadap para pencemar.

“Bila ini terus dibiarkan, maka tidak hanya kerugian ekonomi yang sangat besar akan kita alami, namun juga masa depan generasi mendatang yang teracuni oleh bahan berbahaya beracun industri,” pungkas Adi.

Sebelumnya, Koalisi Melawan Limbah telah melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung kemarin dengan nomor registrasi 178/6/2015/PTUN-BDG. Melalui gugatan yang dilayangkan, Koalisi mendesak diambilnya tindakan tegas berupa pencabutan IPLC para pencemar sungai Cikijing yang merupakan sumber air bagi lahan produktif pertanian di Rancaekek. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *