Komisi IV: Lonjakan Harga Bawang Putih Tidak Wajar | Villagerspost.com

Komisi IV: Lonjakan Harga Bawang Putih Tidak Wajar

Bawang putih di pasar tradisional (dok. pemprov jabar)

Jakarta, Villagerspost.com – Harga bawang putih terus mengalami kenaikan pesat hingga mencapai harga Rp120 ribu per kilogram di bulan Ramadan, mendekati hari raya Idul Fitri ini. Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo pun mempertanyakan terjadinya kenaikan ini, mengingat, untuk impor bawang putih, Indonesia membeli dari negara lain dengan harga yang relatif murah. Edhy memaparkan, Indonesia membeli bawang putih di harga US$1 yang dengan kurs saat ini seharusnya berada di harga Rp14.400 per kilogram.

Karena itu dia menilai kenaikan harga bawang putih hingga ke angka Rp120 ribu per kilogram tidak wajar. “Itu hampir sepuluh kali lipatnya,” kata Edhy, saat memimpin RDP Komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Bulog, di Gedung DPR RI, Senayan Jakarta, Rabu (15/5).

Edhy menilai ada yang salah dengan sistem pembinaan perdagangan komoditas pertanian. “Apakah sistem komunikasi atau sistem pembinaan perdagangan ke pengusaha Indonesia seperti ini yang kita harapkan. Walaupun kita produsen, mengurusi produksi kita juga punya kewajiban. Sebagai produsen kita juga tidak mau tiba-tiba harga yang kita jual melonjak 10 kalinya di pasaran, ini akan membunuh sistem ekonomi kita sendiri,” tegasnya.

Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, untuk jangka panjang hal ini juga tidak akan mempertahankan keberlangsungan. Karena konsep utama dari berdagang adalah sustinable atau keberlangsungan.

Untuk itu, ia mengusulkan agar ke depan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian dalam memberikan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) kepada pengusaha, dicantumkan kontrak agar tidak mempermainkan harga.

“Pasalnya, jika dinaikkan harga menjadi Rp 40 ribu saja per kilogramnya, artinya sudah naik lebih dari tiga kali lipat dari harga beli di negara asalnya. Bagi masyarakat Indonesia, bawang putih ini sejatinya menjadi salah satu produk yang paling dinikmati. Tanpa bawang putih, makanan bagi masyarakat Indonesia masih terasa kurang,” tegas Edhy.

Hal senada juga diungkapkan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Hasanuddin yang mempertanyakan masih tidak keluarnya izin impor bawang putih yang diterima Bulog. Padahal sejatinya Bulog bisa melakukan impor bawang putih sebagaimana yang ditetapkan dalam rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Dia memaparkan, tanggal 18 April 2019, RIPH sudah diberikan 115 ton impor bawang putih kepada 8 importir, sementara rencananya 120 ribu ton lagi akan diberikan kepada 11 importir. Di sini, Bulog juga diberikan izin untuk mengimpor bawang putih.

“Lalu pertanyaannya kenapa sampai sekarang izin itu tidak juga diberikan oleh Menteri Perdagangan ke Bulog. Saya berharap ini dibuka sejelas-jelasnya,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, persetujuan impor bawang putih kepada Bulog sebesar 100 ribu ton itu ditetapkan dalam Rakortas beberapa Menteri pada 18 Maret lalu. Dengan skema RIPH yang di dalamnya terdapat wajib tanam lima persen, dan ditambah dengan skema penugasan kepada Bulog. “Kami berharap harga dalam enam bulan ke depan dapat dikendalikan,” ujarnya.

Semantara itu, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan jajaran Deputi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Direktur Utama Perum Bulog, Anggota Komisi VI DPR RI Linda Megawati menilai lonjakan harga komoditas tersebut tentunya sangat memberatkan masyarakat. Sehingga sebaiknya pemerintah harus cepat mengambil tindakan agar masalah tersebut dapat terselesaikan.

“Saya sering turun langsung ke pasar dan melihat harga yang melambung tinggi, apalagi di bulan puasa ini dan menjelang Lebaran, sehingga banyak masyarakat bawah yang tidak mampu untuk membelinya,” paparnya.

Memasuki bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, hampir bisa dipastikan harga komoditas pangan akan merayap naik. Pola kenaikan harga pangan ini selalu berulang kali setiap tahunnya dan menyasar hampir seluruh bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari.

Bahkan, harga sejumlah komoditas pangan ini akan semakin melambung tinggi ketika mendekati Lebaran. Dalam rapat itu terungkap sejumlah harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran sudah mengalami kenaikan harga, walaupun tidak signifikan, misalkan daging ayam, gula dan beras.

Untuk daging ayam sebelumnya seharga Rp30 ribu/kg, kini menjadi Rp35 ribu/kg. Untuk gula, yang sebelumnya seharga Rp10.500/kg, kini menjadi Rp11.500/kg. Namun ada sejumlah bahan pokok makanan yang sebelumnya naik, tetapi sekarang sudah turun. Misalkan harga bawang putih yang berada dikisaran Rp50-60 ribu/kg, kini Rp33 ribu/kg.

Linda menegaskan, pemerintah perlu melakukan standardisasi harga pangan. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan saat bulan Ramadan dan menjelang Lebaran ini terjadi diduga diakibatkan ulah pedagang yang ingin mengeruk keuntungan lebih pada momen khusus ini.

Untuk itu, politikus Partai Demokrat itu mendorong pemerintah untuk menindak tegas setiap pedagang yang menaikkan harga komoditas tanpa adanya standardisasi yang tepat agar kenaikan harga kebutuhan pokok dapat teratasi. “Kepada pemerintah sebaiknya menginformasikan hal ini kepada publik bahwa siapa saja pedagang yang menaikkan harga kebutuhan pokok tanpa melalui standardisasi yang tepat akan segera ditindak agar masalah ini dapat teratasi,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *