Komisi VI DPR: Revitalisasi Pabrik Gula Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas Tebu Petani

Petani tebu menyiangi tebu siap panen (dok. asosiasi gula indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi VI DPR Mohammad Hatta menilai, revitalisasi pabrik gula hanya pada pabriknya saja, melainkan juga harus didukung kualitas tebu yang dihasilkan oleh petaninya. “Jadi yang ditekankan pada revitalisasi itu bukan hanya produksinya saja. Sedangkan kualitas produksi tebu petani tidak ter-manage secara baik,” kata Hatta, baru-baru ini.

Hal itu dia katakan terkait program revitalisasi pabrik gula yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX akan direvitalisasi menggunakan anggaran dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp225 miliar. “Revitalisasi itu tujuannya juga untuk meningkatkan produktivitas petani tebu itu sendiri. Jadi pabriknya siap dan kualitas tebu yang ada juga bagus,” tegas Hatta yang baru-baru ini, melakukan kunjungan kerja ke Pabrik Gula Mojo, di Sragen, Jawa Tengah.

Politikus PAN ini menambahkan, dalam meningkatkan kualitas tebu pilihannya harus ada pendampingan dari PG kepada petani tebu. Pasalnya, produksi tebu yang dihasilkan oleh pabrik gula swasta bisa mencapai 90 ton per hektare. Sementara petani hanya bisa menghasilkan 60 ton tebu rakyat per hektare.

Untuk itu, dengan adanya pendampingan dari PG Mojo diharapkan dapat memaksimalkan produksi tebu. Di sisi lain, Hatta menilai langkah revitalisasi PG lebih efisien dibanding harus membangun PG baru. Apalagi di tengah kondisi finansial Indonesia yang belum tentu siap menggelontorkan anggaran sebesar itu.

“Saya kira kalau membangun pabrik baru sangat besar anggarannya, dan belum tentu efisien. Sedangkan kalau revitalisasi itu memaksimalkan pabrik yang sudah ada,” ujarnya.

“Saya kira dari kunjungan kita ke PG Mojo ini, pilihan pertamanya revitalisasi, daripada membangun pabrik baru yang biayanya terlalu besar. Jadi, seharusnya revitalisasi ini dimaksimalkan, kualitas tebu produksi petani juga ditingkatkan, dan sehingga otomatis tujuan negara ini tercapai untuk memaksimalkan produksi gula di republik ini,” tambah Hatta.

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi VI DPR Martri Agoeng menilai, guna melihat efektivitas PMN yang sudah digelontorkan dari keuangan negara, pihaknya menunggu hasil revitalisasi PG Mojo, termasuk hasil produksinya.

“Revitalisasi ini termasuk program baru yang belum pernah ada (di PTPN IX-red). Kita akan melihat dulu bagaimana hasil dari revitalisasi yang sekarang dilakukan. Kalau ini memang sukses, ya berarti mungkin kita support juga untuk pabrik-pabrik yang lain. Ini evaluasi kita sebagai fungsi pengawasan dan anggaran yang sudah menyetujui PMN untuk diturunkan kepada PTPN IX,” kata Martri.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menambahkan, untuk melihat hasil revitalisasi PG ini, pihaknya menunggu hasil giling PG Mojo pada Mei 2019 mendatang. Menurutnya, jika hasil rendemen dan serapan tebu dari petani meningkat, berarti bisa dikatakan revitalisasi ini sukses.

Hal ini juga bisa diartikan revitalisasi menjadi solusi dalam meningkatkan produksi PG. Namun jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, berarti revitalisasi bukan solusi bagi produksi gula nasional, justru menjadi pemborosan bagi keuangan negara.

“Saya kira itu yang harus kita awasi bersama. Makanya saya pertanyakan, persoalan produktivitasnya apakah benar semata karena dari mesin, pabrik, atau kaitannya dengan produksi tebu dari petani. Itu kan perlu dilihat,” jelasnya.

“Karena yang saya tahu, dari beberapa informasi, produktivitas petani Jawa Tengah memang lebih rendah dari petani Jawa Timur. Itu menjadi PR lagi, bagaimana meningkatkan produktivitas petani, supaya nanti faktor rendemen tidak semata-mata karena dari fungsi pabrik, tapi bahan bakunya juga harus dievaluasi,” kata Martri menganalisa.

Terkait produksi tebu petani yang menjadi modal PG Mojo dalam menjalankan produksinya, legislator dapil Jawa Tengah V itu menekankan agar PG Mojo mengoptimalkan pembinaan dan pendampingan kepada petani tebu. “Petani (di Sragen) mayoritas memang tidak punya alternatif pilihan untuk pindah tanaman selain tebu, karena memang lahannya memang cocok hanya untuk tebu. Nah, ini harusnya menjadi peluang besar bagaimana membina petani agar produktivitasnya tinggi, sehingga betul-betul memberikan hasil yang terbaik,” saran Martri.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PTPN IX Iryanto Hutagaol mengatakan, dibanding membangun pabrik baru, revitalisasi terhadap PG Mojo menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas. Ia menjelaskan, sebelum direvitalisasi, PG Mojo memiliki kemampuan giling sebesar 2500 ton cane per day (TCD), dan setelah direvitalisasi kemampuan gilingnya akan menjadi 4000 TCD. Saat ini sedang dilakukan penyesuaian, sehingga pada musim giling Mei 2019 nanti, PG Mojo sudah bisa melakukan aktivitas penggilingan.

Terkait progress revitalisasi PG Mojo, perwakilan PT Adhi Karya (Persero) Tbk menjelaskan, sampai dengan saat ini progres pekerjaan Enginering Procurement and Construction oleh kontraktor EPCC PT. Adhi Karya telah mencapai 95,77 persen. Sementara progres pembayaran sampai dengan saat ini telah mencapai Rp 202,41 miliar. Dalam menjalankan revitalisasi ini muncul kendala dalam sinkronisasi peralatan lama dan peralatan baru. Langkah yang diambil dengan melakukan improvement peralatan dan koneksinya.

Seperti diketahui, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX mendapat alokasi Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp1 triliun. Rencananya, anggaran itu digunakan untuk revitalisasi Pabrik Gula (PG) Mojo sebesar Rp225 miliar, revitalisasi PG Rendeng sebesar Rp225 miliar, dan pembangunan PG baru sebesar Rp550 miliar. Revitalisasi PG Mojo sudah dimulai, dan dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *