Komisi VIII DPR Dukung Pemulihan Psikososial Dalam Penanganan Bencana

Pemantauan aktivitas Gunung Semeru oleh BNPB (dok. bnpb)

Jakarta, Villagerspost.com – Bencana erupsi gunung Semeru yang menimpa desa-desa di Lumajang, Jawa Timur, meninggalkan berbagai persoalan penting. Selain masalah tanggap darurat, banyak hal yang masih harus diperhatikan dalam melakukan penanganan bencana. Salah satunya adalah faktor pemulihan psikososial masyarakat penyintas bencana.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily mendorong agar kegiatan kebencanaan mencakup aspek psikososial yang ada di lokasi bencana mendapatkan payung hukum yang jelas. Hal itu disampaikan Ace, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pelatihan Daring Psychological First Aid KMI (Kesehatan Mental Indonesia) dan Rumah Konseling pada hari Minggu (19/11).

Turut hadir dalam acara tersebut, CEO Rumah Konseling Dr. Muhammad Iqbal dan Ketua KMI Hena Rustiana yang bertindak sebagai pembicara. Hadir pula Abah Rama Royani, penemu Talents Mapping yang menyampaikan pentingnya pendekatan berbasis kekuatan dilakukan oleh relawan dalam memberikan dukungan psikososial pada penyintas bencana.

Dalam kesempatan itu, Ace memaparkan, dari hasil observasi yang dilakukan saat memantau lokasi bencana di daerah Lumajang, kebutuhan saat ini selain kebutuhan dasar adalah dukungan psikososial untuk pemulihan mental masyarakat penyintas bencana.

Ace mengatakan, banyak persoalan psikologis yang dialami penyintas bencana erupsi Semeru yang juga harus segera ditangani. “Sebagai contoh, beberapa pengungsi tidak mau kembali lagi ke rumah yang lama. Hampir ada tiga ribuan jumlah pengungsi, dan mereka minta kepada Komisi VIII DPR RI untuk direlokasi,” ujarnya

Ace, yang juga menjadi Ketua Umum Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, akibat trauma yang menghinggapi penyintas, hampir semua pengungsi menginginkan relokasi. “Saat ini, sudah mulai dilakukan pembicaraan karena ada beberapa luas tanah yang dimiliki oleh Perhutani yang akan dijadikan hunian tetap,” tegasnya.

“Sebagai pimpinan Komisi VIII, saya punya keinginan yang sangat kuat dan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan psikososial mencakup Psychological First Aid (pendampingan awal psikologi), karena proses trauma healing akan membutuhkan proses panjang. Pendampingan anak-anak penting untuk dilakukan,” ujar Ace.

Hal inilah yang menurut Ace, saat ini sedang berupaya dilakukan oleh para alumni UIN Jakarta yang tergabung dalam IKALUIN Jakarta. “Saat ini, dukungan yang diberikan kepada penyintas, termasuk dari IKALUIN Jakarta adalah memberikan donasi dan turut berpartisipasi dalam penanganan bencana erupsi gunung Semeru di Jawa Timur,” ujarnya.

IKALUIN Jakarta bersama KMI sendiri akan segera terjun ke lokasi bencana untuk memberikan pendampingan psikologi kepada penyintas erupsi Semeru. Mereka juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mendukung kegiatan tersebut dengan membuka rekening donasi.

Donasi bisa disampaikan melalui rekening Kesehatan Mental Indonesia (KMI), di Rekening Bank Mandiri no. 127-00-5955555-5 a.n. Yayasan Kesehatan Mental Indonesia.

Selain masalah pendampingan psikologis awal, Ace juga masih menyoroti minimnya fasilitas untuk evakuasi. Saat ini, kata Ace, Di banyak lokasi rentan bencana, yakni sekitar gunung berapi, sama sekali tidak ada tempat evakuasi yang diarahkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Ketiadaan kelengkapan lokasi evakuasi inilah yang menurut Ace, kerap menimbulkan banyak korban ketika terjadi erupsi gunung berapi. Ace menambahkan, setiap daerah yang memiliki potensi bencana, harus mempunyai titik evakuasi.

“Penting juga ada simulasi bencana agar mereka bisa menyelamatkan diri di tempat tertentu, serta struktur bangunan yang siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana,” pungkas Ace.

Laporan: Hesti Albastari

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *