Komitmen Maybank Stop Danai Batubara di 2050, Dinilai Terlalu Lamban

PLTU Batubara Labuan 2 yang keberadaannya diprotes nelayan karena merusak lingkungan (dok. greenpeace indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Maybank baru saja mengumumkan rencananya untuk menghentikan pembiayaan aktivitas batubara baru. Maybank juga telah berkomitmen untuk mencapai target netral karbon pada tahun 2030 dan nol emisi karbon pada tahun 2050.

Hal ini menjadikan Maybank sebagai bank kedua di Malaysia yang tidak lagi membiayai kegiatan batu bara baru, meskipun mereka tidak seambisius CIMB, yang tahun lalu berkomitmen untuk menghapus batubara dari portofolionya pada tahun 2040. Bank Negara Malaysia, yang merupakan bank sentral Malaysia, telah berulang kali menyoroti peran strategis lembaga keuangan dalam mengelola risiko iklim.

Atas komitmen tersebut, Juru kampanye Greenpeace Malaysia Heng Kiah Chun mengatakan, sebagai bank terbesar ke-4 di Asia Tenggara dalam hal aset, Maybank memiliki peran penting dalam mengatasi krisis iklim. “Melalui aktivitas pinjaman dan investasinya, Maybank dapat mengalihkan dananya dari bisnis batu bara yang merusak,” kata Heng, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (7/5).

“Kami berharap rencana Maybank untuk mencapai nol emisi memasukkan metrik dan target seperti yang direkomendasikan oleh Gugus Tugas Pengungkapan Keuangan terkait Iklim (TCFD) sehingga investor dan pemangku kepentingan lainnya dapat melihat bahwa bank membuat kemajuan yang terukur,” tambahnya.

Pengumuman Maybank ini muncul setelah berlangsungnya kampanye oleh koalisi kelompok lingkungan, yang menyerukan Maybank untuk memenuhi komitmen Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (Environmental, Social, Governance atau ESG) dan mengakhiri pembiayaan untuk batu bara.

Organisasi lingkungan yang turut serta dalam aksi ini adalah Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), Trend Asia, Greenpeace Indonesia, Auriga Nusantara, Market Forces dan APMDD (Asian People’s Movement on Debt and Development).

Mereka menilai, energi kotor batubara merupakan satu-satunya sumber peningkatan suhu global yang paling signifikan hingga saat ini. Para ilmuwan mengatakan jika kita ingin memenuhi target Perjanjian Paris 1,5°C, batu bara harus dihentikan secara global pada tahun 2040.

Market Forces Energy Finance Campaigner Binbin Mariana mengatakan, komitmen Maybank untuk tidak lagi membiayai aktivitas batu bara baru merupakan langkah awal. “Tetapi sebelum kami terlalu bersemangat, kami membutuhkan Maybank untuk memastikan komitmennya terhadap dukungan keuangan perusahaan dan bentuk dukungan lain untuk sektor batu bara, seperti penerbitan obligasi atau sukuk untuk proyek batubara,” ujarnya.

“Kami juga ingin melihat Maybank menandingi atau mengalahkan kompetitornya CIMB, yang telah berkomitmen untuk menghapus pendanaan batubara pada tahun 2040,” tegas Binbin.

Widya Kartika, peneliti dari Auriga menambahkan, ilmu pengetahuan terbaru mengenai sisa anggaran karbon dunia menunjukkan nol emisi sangat diperlukan pada tahun 2040, satu dekade lebih awal dari komitmen Maybank.

“Kami akan terus mendorong bank untuk menghapus batu bara dari portofolionya pada tahun 2040. Mengingat bahwa pembiayaan batubara Maybank hanya 0,2% dari total portofolionya, sehingga akan mudah bagi Maybank untuk menghapuskan batubara pada tahun 2040,” jelas Widya.

Antara tahun 2010 dan 2019, Maybank menyediakan investasi sebesar US$1,8 miliar untuk batubara melalui aktivitas pengaturan pinjaman dan obligasi mereka. Tahun lalu, Maybank terlibat dalam sindikasi bank yang menyediakan dana US$2,6 miliar untuk proyek pembangkit listrik tenaga batubara Jawa 9 dan 10 di Indonesia.

Peneliti dari Trend Asia Andri Prasetiyo mengatakan, komitmen Maybank untuk menghentikan pembiayaan kegiatan batubara harus segera diwujudkan menjadi tindakan konkret dan segera sehingga tidak hanya menjadi komitmen semu untuk mendapatkan impresi kelembagaan yang baik. “Maybank harus segera meninjau ulang keputusan bermasalah mereka baru-baru ini dengan terlibat dalam pendanaan pembangkit listrik tenaga batubara Jawa 9 dan 10,” tegas Andri.

Dia menegaskan, Maybank masih memiliki momentum untuk mundur dari proyek ini karena pembangunannya belum dimulai akibat tekanan masyarakat yang kuat. “Maybank hanya akan mempertaruhkan reputasinya dengan bersikeras mengambil bagian dalam proyek energi kotor yang akan berdampak serius pada kelestarian lingkungan dan kesehatan jutaan orang di Banten, Indonesia,” ujar Andri.

Maybank juga terlibat dalam pinjaman sindikasi senilai US$400 juta kepada raksasa batubara Indonesia, Adaro Energy, bulan lalu. Adaro adalah produsen batubara terbesar kedua di Indonesia.

Adaro menguasai setidaknya 31.380 hektare lahan, menghasilkan 54 juta ton batubara pada tahun 2020 saja. Adaro memperkirakan cadangan batubaranya sebesar 1,1 miliar ton. Membakar semua cadangan ini akan melepaskan 2,2 miliar ton CO2-e, hampir setara dengan emisi tahunan India.

Sebagai bagian dari komitmen Maybank, bank tersebut berkomitmen untuk bertransisi bersama dengan para debitur yang ada untuk mencapai bauran energi terbarukan yang berkelanjutan.

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Merah Johansyah mengungkapkan, Adaro belum mengungkapkan rencana apa pun untuk memproduksi lebih sedikit batubara, melainkan berencana memproduksi batu bara pada tahun 2021 seperti yang dilakukan tahun lalu.

Sebagai pemberi pinjaman, Maybank harus menyampaikan keprihatinan tentang keterkaitan Adaro dengan batubara dan mendesak Adaro untuk mengembangkan rencana yang jelas dengan metrik dan target untuk penghentian batubara pada tahun 2040,” kata Merah.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *