Komodo Yang Diperdagangkan Secara Ilegal Bukan Dari TN Komodo

Pemandangan udara Pulau Komodo (dok. kementerian atr/bpn)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) beberapa waktu lalu berhasil membongkar perdagangan satwa langka yang dilindungi yaitu komodo (Varanus komodoensis). Perdagangan sejumlah 41 ekor komodo itu dilakukan melalui jaringan media sosial. Direktur Reskrimsus Polda Jawa Timur Kombes Akhmad Yusep Gunawan mengatakan, seekor komodo tersebut diperdagangkan seharga Rp6-8 juta di tangan pertama.

Kemudian, di tangan kedua, harganya naik menjadi Rp15-20 juta. Polisi telah mengamankan sembilan pelaku yang tinggal di beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Satu pelaku lainnya masih buron.

Mulanya diduga komodo-komodo tersebut diambil dari Taman Nasional Komodo. Namun berdasarkan hasil uji DNA yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), disimpulkan, komodo yang diperdagangkan secara ilegal tersebut merupakan jenis yang berasal dari Flores Utara, dan bukan dari kawasan Taman Nasional Komodo.

Pelaksanaan uji DNA dilakukan untuk mengetahui asal-usul satwa Komodo yang diperdagangkan secara ilegal tersebut. Uji DNA ini dilaksanakan oleh Laboratorium Genetika Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI.

Peneliti LIPI Evi Erida menjelaskan, uji DNA tersebut dilakukan melalui pembandingan antara DNA sampel darah dari enam ekor Komodo yang merupakan barang bukti tindak pidana perdagangan satwa liar secara illegal, dengan delapan haplotipe Control Region (CR) 1 yang telah diketahui berdasarkan hasil penelitian LIPI sebelumnya.

“Keenam sampel darah Komodo yang diujikan tersebut mempunyai haplotipe yang khas di populasi Flores Utara, dengan jumlah 88% dari sampel populasi penelitian sebelumnya. Haplotipe tersebut juga ditemukan di Flores Barat, namun hanya dalam jumlah yang sangat kecil yakni kurang dari 2,5 % dari sampel populasi pada penelitian sebelumnya,” jelas Evi, di Jakarta, Senin (27/5).

Lebih lanjut Evi mengungkapkan hasil uji DNA juga menunjukkan bahwa keenam ekor komodo tersebut berjenis kelamin betina. Secara alami, satwa Komodo menyebar di kawasan Taman Nasional Komodo, dan di daratan Flores. Berdasarkan hasil monitoring tahun 2018, di kawasan Taman Nasional Komodo diperkirakan terdapat 2.897 ekor komodo yang tersebar di lima pulau besar yakni Pulau Komodo (1.727 ekor), Pulau Rinca (1.049 ekor), Pulau Padar (6 ekor), Pulau Gilimotang (58 ekor) dan Pulau Nusa Kode (57 ekor).

Sedangkan berdasarkan pengamatan dengan menggunakan camera trap yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT di daratan Flores didapatkan hasil sebagai berikut; di CA Wae Wuul terdapat 4-14 ekor (2013 s/d 2018); Pulau Ontoloe (TWA Riung 17 Pulau) 2-6 ekor (2016 s/d 2018); Hutan Lindung Pota 6 ekor (2016 s/d 2018); dan Pulau Longos 11 ekor (2016).

Saat ini, penanganan perkara perdagangan ilegal komodo tersebut dilakukan oleh KLHK melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, bersama Mabes Polri dan Polda Jawa Timur. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosisitem (KSDAE) Wiratno mengatakan, keenam ekor komodo itu aan dilepasliarkan setelah ada penetapan dari Pengadilan Tinggi Jawa Timur.

“Kemungkinannya dilepasliarkan tidak ke habitat asal mereka, melainkan ke Pulau Ontoloe, TWA Riung 17 Pulau, Kabupaten Ngada, dengan mempertimbangkan faktor keamanan,” kata Wiratno.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *