Koperasi Petani Dorong Kebangkitan Budidaya Cabai

Ilustrasi perkebunan cabai rakyat (dok. pemkot malang)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengapresiasi terobosan yang dilakukan petani cabai di Pasuruan dalam mempersingkat proses budidaya cabai. Terobosan tersebut berupa pembuatan cetakan soil block dalam penyemaian benih cabai.

Cara ini mempercepat proses budidaya cabai dibandingkan dengan menggunakan polibag kecil. Sistem pembenihan semacam ini mengurangi penggunaan plastik yang bisa mencemari lingkungan. “Ini menarik, dan bisa dicontoh oleh petani-petani yang lainnya. Apalagi ini sangat ramah lingkungan karena menghindarkan penggunaan plastik,” kata Prihasto, dalam kunjungan kerjanya ke korporasi cabai di Kecamatan Pasuruan, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (24/6) lalu.

Prihasto mengungkapkan, pertanaman cabai di daerah-daerah sentra produksi saat ini semakin baik. Prihasto sangat optimis harga cabai akan tetap stabil menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). “Insya Allah menjelang HKBN, cabai rawit merah dan khususnya cabai besar ini aman, cuma mungkin sedikit distorsi, tapi harga di petani cukup baik. Pemerintah pasti akan melakukan apapun untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, harga cabai rawit merah di tingkat petani berada di kisaran Rp30 ribu dan harga cabai merah besar sekitar Rp18 ribu per kilogram. Harga ini disinyalir sudah menguntungkan petani dan terjangkau di tingkat konsumen.

Kebangkitan budidaya cabai juga dipicu oleh hadirnya koperasi petani. Koperasi ini akan menjadi off taker bagi semua anggota dalam budidaya cabai. Segala bentuk saprodi, benih, pupuk, dan obat-obatan ditanggung oleh koperasi, nantinya anggota akan membayar saat panen.

Salah satunya adalah Koperasi Sri Lestari. Dalam hal pemasaran, koperasi ini bermitra dengan PT Indofood. Total pertanaman yang dimitrakan mencapai 70 hektare per tahun yang diatur pola tanamnya. Saat ini Koperasi Sri Lestari mampu mengirimkan cabai besar minimal 4-10 ton per minggu dengan dua kali pengiriman. Harga kemitraan antara koperasi dengan Indofood minimal berada di angka Rp13.500/kg.

Terkait naiknya harga cabai, dalam kesempatan terpisah, anggota Kelompok Tani Muda Sejahtera, Temanggung, Jawa Tengah, Anton mengatakan, kenaikan harga rawit yang terjadi beberapa hari terakhir bukan karena tidak ada panenan, tetapi karena faktor cuaca.

“Hujan terus, jadi perubahan warna cabai dari hijau ke merah lebih lama. Biasanya pemetikan bisa dilakukan 4 hari sekali tapi jika hujan terus begini 5-7 hari sekali baru petik,” ujar Anton.

Anton mengatakan, beberapa petani di wilayahnya menanam varietas lokal sendiri yang diberi nama dalem. Cabai ini cocok lebih tahan hama patek dan busuk batang yang biasa menyerang saat musim hujan. Hingga saat ini kondisi tanaman sehat meskipun intensitas hujan tinggi.

Selain itu cabai varietas dalem ini juga memiliki kualitas buah yang lebih awet umur simpannya. Dalam suhu ruang, buah ini dapat bertahan hingga tujuh hari.

“Kulit buah yang tebal membuatnya lebih tahan dan tidak mudah rusak. Biji buahnya pun lebih padat sehingga kuantitas per kilonya lebih sedikit dibanding cabai rawit varietas lainnya. Jika perawatan instensif, produktivitasnya dapat mencapai 18 ton per hektare,” terangnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.