Kopi Indonesia Berkelas Dunia

Kopi hasil produksi petani lokal di Sumatera Utara (dok. taputkab.go.id)
Kopi hasil produksi petani lokal di Sumatera Utara (dok. taputkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Herman Khaeron menegaskan, kopi Indonesia adalah kopi berkelas dunia. “Ini bisa jadi semangat baru, kopi Indonesia adalah kopi berkelas internasional. Mestinya bisa lebih dibanggakan oleh masyarakat Indonesia,” kata Herman saat Komisi IV menggelar audiensi dengan Coffee Lovers Indonesia (CLI) dan Asosisasi Kopi Spesialti Indonesia (AKSI), di gedung DPR, Senin (15/8).

Dalam kesempatan itu, Komisi IV bersama CLI dan AKSI juga membahas kebijakan dan langkah-langkah pengembangan agribisnis Indonesia. Dalam kesempatan itu, Herman juga menegaskan, Komisi IV sudah mengembangkan komoditas kopi di beberapa lahan, baik milik Perhutani maupun di lahan milik masyarakat.

(Baca juga: Bangga Seduh Kopi Papua)

Berdasarkan informasi dari Perhutani, kata Herman, penghasil kopi terbesar justru di kawasan Perhutani. Karena itu, pemerintah bersama DPR dan pemangku kepentingan komoditas kopi di Indonesia tinggal mencari solusi bagaimana membangun interkoneksi bisnisnya, agar bisa dihubungkan dan dijalankan secara bersama.

Saat ini kopi telah menjadi salah satu andalan bagi perekonomian Indonesia. Diketahui, ekspor kopi merupakan penyumbang devisa keempat terbesar untuk sektor pertanian setelah crude palm oil, karet dan kakao. Kopi juga diketahui telah berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan hidup baik untuk konservasi daerah aliran sungai (DAS), juga terhadap kenyamanan iklim mikro dan makro sebagai penyerap CO2 (karbon).

Selain itu komoditas kopi juga menjamin pendapatan bagi sekitar dua juta petani kopi. Kemudian, kopi juga menjadi penggerak ekonomi karena ikut membuka lapangan kerja dan pendapatan bagi pekerja di sektor ini. Karena itu, para pihak terkait berupaya agar sektor ini bisa memberikan kontribusi lebih kepada seluruh pemangku kepentingan.

Salah satu isu yang disampaikan dalam rapat tersebut adalah mengenai naiknya tingkat konsumsi kopi didalam negeri, namun dari segi produksinya stagnan, bahkan cenderung mengalami penurunan. Indonesia termasuk tiga besar negara penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam, tetapi secara produksi dan provit masih dibawah kedua negara tersebut, padahal Indonesia memiliki lahan yang lebih luas.

“Kita akan merespons terhadap apa yang disampaikan oleh perwakilan pecinta kopi, dan kalau nanti dihasilkan suatu rencana strategis ke depan, baik berupa aksi sosial maupun diseminasi tentang kopi, tentu DPR akan dukung sepenuhnya,” tegas Herman.

Komisi IV sendiri sebelumnya juga mengkritik Kementerian Pertanian yang dinilai menganaktirikan kopi dan komoditas andalan ekspor lainnya. Anggota Komisi IV Daniel Djohan mengatakan, hal itu tercermin dalam penganggaran di Kementan yang terlalu fokus untuk peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (pajale).

Untuk ketiga komoditas itu, Kementan menganggarkan hingga sebesar Rp20,5 miliar yang dialokasikan untuk pembelian alat dan mesin pertanian komoditas pajale. Sementara untuk kopi dan karet tidak mendapatkan alokasi yang memadai.

“Komoditas seperti karet sedang terpuruk, sementara kopi dan lainnya market sedang bagus, tetapi ini malah tak diperhatikan. Pemerintah selalu fokus dengan pajale sejak dulu,” kata Daniel dalam kesempatan pembahasan APBNP 2016 dengan Kementan beberapa waktu lalu.

Dia menilai, saat ini kopi tengah menjadi andalan ekspor, namun pemerintah justru tak memberikan anggaran yang memadai, misalnya untuk peremajaan tanaman. “Saya sejak dulu tak pernah mendengar ada program atau anggaran besar buat kembangkan ke sana,” tegasnya. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas kopi >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *