Krisis Air Sawah di Indramayu Sementara Terpecahkan

Rembuk petani, pemerintah desa dan pihak dinas mengatasi masalah krisis air sawah di Indramayu (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Indramayu, Villagerspost.com – Krisis air untuk pengairan sawah yang terjadi di Indramayu, khususnya Kecamatan Losarang, Kandanghaur dan Trisi untuk sementara terpecahkan. Dari rembuk petani yang dilaksanakan di areal pesawahan Blok Tutupan Sanim pada Selasa (19/6) kemarin, para petani dan pihak Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengairan, disepakai pihak pengairan akan segera mengalirkan air ke sawah-sawah petani.

“Distribusinya sekarang ini untuk wilayah Kecamatan Kandanghaur dulu, dikarenakan kekhawatiran air asin masuk karena dekat dengan laut,” terang Edi, Perwakilan UPTD Pengairan Kecamatan Losarang.

Perwakilan petani muda Desa Muntur Tarmani,  mengungkapkan, dalam pertemuan itu terungkap adanya gesekan di antara dinas terkait, sehingga terjadi kendala yang merugikan petani. Akibat air tak mengalir, petani Indramayu bahkan harus “berlebaran” di sawah, menyewa pompa air untuk mengairi sawahnya. Mengandalkan pompa air, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu seminggunya.

Para petani Indramayu mengandalkan ketersediaan air dari sumber air irigasi di Rentang dan Sumur Watu. Untuk Desa Muntur, sumber air dari Rentang adalah yang paling dinanti. Namun apa daya aliran air tak kunjung tiba hingga jelang lebaran.

Petani meninjau kawasan pintu air (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Terkait adanya gesekan antar dinas terkait pengairan, Tarmani mengatakan, petani tidak mengerti permasalahan kedinasan di antara yang punya wewenang kewilayahan tugas antara kawasan Barat dan Timur Indramayu. “Mangga selesaikan secara kedinasan jangan benturkan kami di bawah antara petani dengan petani. Menjadi harapan besar dari petani muda, agar bisa diselesaikan secara kedinasan, bukan untuk konsumsi petani,” ujar Tarmani, kepada Villagerspost.com, Rabu (20/6).

Dia mengaku, masalah ini sebenarnya merupakan permasalahan klasik yang setiap tahunnya terjadi. “Bagi kami petani wilayah Muntur-Santing sampai Kandanghaur ini masalah menahun. Semoga ke depan bisa menjadi catatan bagi para pemegang kebijakan, luas lahan di tambah kebutuhan air sampai masa panen serta jalur irigasi yang perlu di benahi,” ujar Tarmani.

Pertemuan di Blok Tutupan Sanim itu sendiri dihadiri para petani dan pengurus desa dari Desa Muntur, Santing, Kandanghaur dan dinas terkait. Dari UPTD Pengairan hadir pula Bapak Edi yang menjelaskan permasalahan air ini ke petani. Kondisi krisis air ini sendiri sudah berlangsung kurang lebih dua minggu.

“Langkah yang di lakukan petani mendorong dinas terkait agar segera dalam waktu satu dua hari ke depan irigasi terisi air untuk mengairi sawah dengan cara memompa nya. Di karenakan wilayah Kandanghaur yang dekat dengan laut, dinas terkait mendahulukan karena dikhawatirkan kalau sudah kekeringan masuk air asin,” terang Tarmani.

Petani menggunakan pompa air untuk memompa air sungai untuk mengairi sawah (dok. villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Krisis air di kawasan Barat Indramayu ini mengundang keprihatinan Tarsono, petani muda pengamat cuaca dari Desa Nunuk, Indramayu. “Diam merasakan kesedihan sedulur tani yang sedang kekurang air di wilayah Kecamatan Trisi dan Losarang,” ujar pria yang akrab disapa Tatang itu kepada Villagerspost.com.

Menurut Tatang, bagi dirinya yang merupakan petani peneliti agrometeorologi, kondisi netral atau normal dalam periode di bulan Juni-Juli memang belum cukup bagi petani untuk mengandalkan hujan untuk mengairi sawah. “Petani harus ditopang atau dibantu air dari irigasi, seyogyanya harus ada pembagian jadwal untuk mengaliri irigasi golongan satu, dua, dan tiga kalau tidak maka akan terjadi puso atau gagal panen,” kata Tatang.

Dia menjelaskan, memang tanaman padi bukan tanaman air akan tetapi padi adalah tanaman yang butuh terhadap air “Perlu di ingat kondisi iklim sekarang sudah memasuki kemarau amat sangat wajar temperatur sangat panas membuat areal sawah cepat kering,” tegasnya.

Tatang berharap masalah ini menjadi perhatian bersama bagi pihak terkait dan masyarakat umumnya. “Masa sih cuma petani saja yang peduli dengan kondisi sedulur petani lain yang sedang membutuhkan air? Bukannya ada birokrasi yang mengatur dan menginfokan kondisi wilayah yang sedang membutuhkan air? Kalau tidak ada yang peduli dengan pangan di daerah yang konon katanya lumbung pangan nasional, sungguh sangat terlalu,” pungkas Tatang.

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqien, Petani Muda Desa Muntur, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *