Krisis Air Sawah Indramayu, 6000 Hektare Sawah Berpotensi Puso | Villagerspost.com

Krisis Air Sawah Indramayu, 6000 Hektare Sawah Berpotensi Puso

Kunjungan Ketua Tim Upsus Pajale Jawa Barat Banun Harpini ke areal persaahan di Indramayu yang puso dan terancam puso karena krisis air (villagerspost.com/zaenal mutaqin)

Indramayu, Villagerspost.com – Ketua Tim Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) Provinsi Jawa Barat Banun Harpini melakukan peninjauan irigasi di Kecamatan Kandang Haur dan Losarang Kabupaten Indramayu, Selasa (31/7). “Kita mengecek langsung kondisi lapangan, mengevaluasi penanganan masalah air di 3 kecamatan dan siapkan langkah antisipasi untuk perkecil dampak cuaca ekstrim yang diperkirakan bakal datang sampai 2,5 bulan mendatang,” kata Banun.

Banun hadir bersama Komandan Kodim 06/16, Letkol Kav Agung Nur Cahyono, Wakil Bupati Indramayu, H. Supendi serta instansi terkait Pemda yakni: Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Kepala Dinas PSDA Kabupaten Indramayu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu serta Direktur Irigasi Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian dan Kepala Bagian Umum Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Dalam kunjungan tersebut, ditemukan 258 hektare tanaman padi umur 50-60 hari yang puso dan sekitar 6.350 ha yang berpotensi puso jika dalam waktu 7 hari kedepan tidak terairi. Banun juga mengidentifikasi kelompok tani yang terkena puso dan segera mengusulkan untuk pengajuan klaim asuransi pertanian ke Jasindo atau bank yang terkait dan juga meminta pejabat dari Ditjen PSP untuk percepatan proses pembayaran klaimnya.

Belajar dari pengalaman ini, Banun mengajak para petani yang belum mengikuti program asuransi pertanian yang telah dikembangkan oleh Kementerian Pertanian, untuk dapat segera bergabung di musim tanam depan. Ia pun mengimbau para petani untuk berdisiplin melaksanakan tanam serentak per golongan air. Menurut pengamatan di lapangan, terlihat bahwa tanaman yanb puso, rata-rata adalah lokasi dengan masa tanam yang terlambat.

Saat ini untuk penyelamatan tanaman padi yang berpotensi puso seluas 6.350 ha, Banun dan Wakil Bupati Indramayu meminta BBWS Cimanuk Cisanggarung untuk mengaliri air sawah di 3 kecamatan terdampak selama 7 hari tanpa gilir giring dan menugaskan Kepala PSDA Kabupaten Indramayu untuk kawal mengawal gelontoran air tersebut. Bahkan, secara khusus Dandim 06/16 Indramayu memerintahkan kepada Koramil Gabus Wetan untuk tegas melakukan tangkap tangan kepada oknum pencuri air yang yang diduga mengkomersialkan air. “Air ini sumber kehidupan petani, maka tidak boleh ada mafia yang memain-mainkan air,” tegas Agung.

Langkah antisipasi yang dilakukan jajaran tim Upsus dikoordinasikan dengan jajaran Pemda Cirebon dan Indramayu, tambah Banun. Seperti dilansir oleh BMKG Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka diprediksi bakal ada empat desa di wilayah Ciayumajakuning yang berpotensi dilanda kekeringan ekstrem pada musim kemarau kali ini, yaitu Desa Sindangjawa dan Desa Wanasaba Kidul di Kabupaten Cirebon, Kelurahan Kesunean di Kota Cirebon, serta Desa Talaga di Majalengka.

“Lokasi ini yang akan menjadi fokus untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem sekecil mungkin, dan saya minta jangan sampai ada yang memanfaatkan kondisi ini, kita harus bersama support petani,” tegasnya saat gelar rapat koordinasi pengelolaan air bersama bupati Cirebon dan Indramayu di pendopo kabupaten Indramayu, Selasa (31/7).

Bahkan menurut data BMKG, keempat desa tersebut diperkirakan bakal mengalami hari tanpa hujan hingga lebih dari 60 hari atau 2 bulan. Bahkan, Desa Sindangjawa dan Kelurahan Kesunean diprediksi mengalami hari tanpa hujan selama 85 hari. Sementara Desa Wanasaba Kidul diperkirakan mengalami hari tanpa hujan selama 84 hari, sementara Desa Talaga, Majalengka, diprediksi hanya mengalami 64 hari tanpa hujan.

Menurut Banun, seperti tahun lalu pihaknya bekerjasama dengan dua pemerintah daerah terdampak dengan mengoptimalkan embung dan saluran irigasi untuk mengairi sawah yang alami kekeringan. Tim Upsus dan jajaran Pemda bersepakat untuk lakukan pengaturan alokasi air lewat sistem gilir giling dan diprioritaskan untuk lahan sawah yang mengalami kekeringan atau kondisi menjelang puso.

Sementara itu, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung mengalokasi volume debit air dari Bendung Rentang berdasarkan kesepakakatan pada rakor yang telah dilakukan sebelumnya di Kantor BBWS Cimanuk, Cisanggarung. Pertama, air dialirkan kesaluran induk Cipelang sebesar 25 m³/detik dan dialirkan kesaluran induk Sindupraja sebesar 33 m³/detik.

Kedua, waktu pengaliran air dari Bendung Rentang yang di sepakati yaitu pada pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB dan pukul 18.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB, kecuali hari Senin/Libur air dialirkan tanpa adanya batas waktu untuk irigasi pertanian.
Ketiga, Dinas PUPR Kabupaten Indramayu, Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu serta Kodim 0616/ Indramayu diminta untuk selalu siap melaksanakan pengawalan gilir giling air sesuai dengan jadwal yang telah disepakati tersebut.

“Pemantapan langkah koordinasi ini diharapkan dapat memperkecil dampak cuaca ekstrem dan menjamin petani dapat tetap tanam dan panen sehingga pasokan beras dari wilayah sentra utama di propinsi Jawa Barat ini dapat tetap dapat diandalkan,” pungkas Banun.

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqin, Petani Muda Desa Muntur, Losarang, Indramayu, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *