Kupatan Batang, Berjuang Meraih Kemenangan Atas Perusakan Lingkungan

Berjuang menuju kemenangan melawan kerusakan masyarakat Batang menggelar tradisi kupatan (dok. batanglyon/riska farasona)

Batang, Villagerspost.com – Kerusakan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah akibat pembangunan PLTU barubara Batang disikapi dengan tegas oleh masyarakat Batang. Bertepatan dengan datangnya hari raya Idul Fitri, masyarakat Batang menggelar halal bi halal yang bertujuan untuk konsolidasi antar masyarakat dan aktivis pendamping agar selalu lurus jalannya dalam perjuangan.

Acara halal bi halal ini dibalut dengan acara tradisi kupatan, yang juga diselenggarakan di beberapa titik di Jawa Tengah seperti Rembang, Pati, Gombong (Kebumen), Surokonto (Kendal), dan Tambakrejo (Semarang), pada Selasa (19/6). Acara kupatan yang dimaknai sebagai upaya menuju kemenangan dalam perjuangan melawan kerusakan lingkungan di Batang ini, puncaknya akan diselenggarakan juga di Kota Semarang tepat seminggu setelah jatuhnya hari raya, atau pada Kamis (21/6) mendatang.

Robi, vokalis band Navicula yang turut memeriahkan acara kupatan berjamaah ini mengatakan, industri batubara dimana-mana, dari proses penambangan, pengangkutan, hingga pemanfaatan, juga limbahnya itu, adalah salah satu industri yang paling kotor di dunia. “Sangat disayangkan. Yang sekarang seharusnya dilakukan pemerintah adalah menyelamatkan profesi petani dan nelayan, karena itu adalah profesi yang sangat langka. Jadi ya seharusnya kebijakan berada pada masyarakat nelayan di sini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (20/6).

Masyarakat menikmati nasi tumpeng di acara kupatan berjamaah masyarakat batang (dok. batanglyon/riska farasona)

Tradisi kupatan sendiri merupakan sebuah tradisi membuat ketupat dan berdoa bersama di musholla dan masjid. Tradisi ini biasa dilakukan di daerah-daerah sekitar pantura seperti Jepara, Demak, Kudus, Pati, dan lain-lain. Kupatan dianggap sebagai simbolisasi keislaman manusia yang sudah sempurna. Kupatan berasal dari kata “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Mengandung makna filosofis bahwa manusia diperintahkan untuk mengakui kesalahannya, saling bermaafan dengan ditandai tradisi silaturrahim ke rumah sanak keluarga dan tetangga saat hari raya idul fitri.

Didasari semangat bersolidaritas, gelaran acara kupatan yang mulanya hanya diadakan di sekitaran pegunungan Kendeng ini berubah menjadi agenda kolektif, “Kupatan Berjamaah”, dengan membawa satu pesan besar yang jelas dan tegas, bahwa ada yang tak beres dengan pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Tengah. Dari tahun ke tahun, tak ada masalah lingkungan yang terurai dan menemui titik cerah.

Yang ada malah bertambahnya titik-titik konflik. Sementara, di tengah situasi pilgub Jawa Tengah, antara kedua calon nampak belum ada komitmen yang serius bagi lingkungan hidup. Kegiatan ini adalah suatu bentuk upaya konsolidasi di titik-titik konflik tersebut dengan harapan bahwa persoalan lingkungan hidup menjadi perhatian bersama masyarakat di Jawa Tengah. Bahwa kondisi lingkungan hidup di Jawa Tengah sedang tidak baik-baik saja dan perlu formulasi khusus untuk menyikapinya.

Melarung sesaji berisi persan perlawanan terhadap energi kotor batubara (dok. batanglyon/riska farasona)

Setelah perampasan besar-besaran terhadap lahan pertanian yang dimulai sejak awal 2016 lalu, kini pembangunan PLTU batu bara di Batang mulai meresahkan masyarakat nelayan. Dahulu, sebanyak 12.500 meter persegi lahan persawahan dan perkebunan milik sah lebih dari 50 orang telah direnggut paksa, dipagari, dan diputus aksesnya dari tangan-tangan yang turun-temurun puluhan tahun merawatnya.

Perampasan ini membuat ratusan orang yang bergantung hidupnya pada lahan tersebut merugi dan terkatung-katung. Pembangunan PLTU batu bara Batang juga telah menjarah kesejahteraan nelayan. Pembangunan yang telah merambah area perairan laut Batang perlahan tapi pasti menyingkirkan nelayan. Dari bangunannya yang kelak akan memakan sebagian luas area tangkap nelayan, proses pembangunan yang dilakukan secara serampangan pun sudah membuat begitu banyak kerugian.

Puluhan nelayan mengeluhkan jaringnya yang tersangkut material-material sisa yang dibiarkan terbengkalai di lautan atau gunungan-gunungan lumpur yang tinggi di dasar laut. Gunungan lumpur itu datangnya dari kerukan yang dibuang sekenanya di banyak titik.

Para nelayan, petani, masyarakat hingga aktivis bergabung bersama bermohon agar diberi kekuatan untuk berjuang melawan kerusakan lingkungan di Batang (dok. batanglyon/riska farasona)

Alhasil, nelayan harus menyayat jaringnya atau justru meninggalkan jaringnya yang tersangkut terlalu dalam. Alih-alih pulang membawa untung, mereka justru merugi karena harus memperbaiki jaring atau bahkan membeli jaring baru lagi.

Kejadian ini tak hanya terjadi sekali-dua kali pada satu-dua nelayan. Bahkan, seorang nelayan pun kapalnya pernah tertabrak kapal tongkang PLTU saat melaut di malam hari. Penerangan yang minim dan area jelajah kapal tongkang yang sama dengan nelayan menyebabkan kejadian ini berpotensi terjadi lagi.

Di kemudian hari, saat pembangunan PLTU batubara yang rencananya sudah bergulir sejak 2011 silam ini selesai, momok lebih besar akan dihadapi kaum nelayan dukuh Roban dan sekitarnya. Pasalnya, polusi, limbah, buangan air panas, dan air laut beserta ikan-ikannya yang turut tersedot dalam proses produksi listrik juga makin memperkeruh situasi.

Area tangkap semakin sempit, ekosistem rusak, kebutuhan solar meningkat karena harus melaut lebih jauh, sedang tangkapan semakin sedikit. Lagu lama dan terus didendangkan. Sebuah konsekuensi logis dari berdirinya PLTU batu bara yang terus menerus dipilih para pemangku kekuasaan.

“Apa yang terjadi di Batang pada kasus PLTU batu bara ini dapat disebut sebagai sebuah upaya pemiskinan yang nyata. Petani dirampas sawahnya, nelayan direnggut lautnya,” kata Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis sekaligus lakon di balik film-film dokumenter Watchdoc yang datang untuk mendokumentasikan acara kupatan tersebut.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *