Laporan IPCC: Krisis Iklim Makin Nyata, Pemerintah Diminta Tetapkan Target Ambisius Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Pencemaran udara akibat industri di kota besar (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim, telah meluncurkan laporan terbarunya, pada Selasa (5/10). Dalam laporan bertajuk: “Basis Ilmu Fisika Perubahan Iklim 2021” itu, IPCC menekankan beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius dunia.

Salah satunya adalah terkait kontribusi manusia terhadap perubahan iklim. IPCC mengingatkan, kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius dapat terjadi pada tahun 2040 mendatang atau bahkan bisa lebih cepat, jika tidak ada aksi iklim yang signifikan dan pengurangan emisi karbon besar-besaran.

Lima tahun terakhir adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850. Laju kenaikan permukaan air laut saat ini merupakan yang tercepat dalam 3000 tahun. Kejadian siklon tropis dan kebakaran hutan yang yang semakin sering dan semakin parah, curah hujan tinggi dan banjir, kehidupan laut yang sekarat akibat pemanasan global adalah dampak nyata Indonesia berada dalam posisi rentan jika kita tidak segera mengambil aksi.

Menanggapi laporan tersebut, Peneliti kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Adila Isfandari mengatakan, saat ini dunia memang tengah berada di ambang krisis iklim. “Kita dalam krisis iklim, lalu apa solusi yang cepat dan tepat mengatasi dampaknya? Hanya ada satu cara yaitu, semua pihak harus turun tangan sekarang! Kita harus melakukan segalanya lebih cepat dan lebih berani, di semua tingkatan, di semua sektor,” ujarnya, dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi Villagerspost.com, Kamis (7/10).

Adila menekankan, dunia telah banyak berubah. Kita sekarang memiliki kesepakatan iklim global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan untuk membatasi kenaikan temperatur global pada 1,5°C. Sementara itu, banyak harapan yang mulai bermunculan, termasuk energi terbarukan yang telah menjadi bentuk listrik baru dan biayanya terus menurun, investor global mulai meninggalkan bahan bakar fosil dan berinvestasi kepada energi terbarukan.

“Namun ada satu yang paling penting yaitu kekuatan rakyat meminta keadilan dan tindakan semakin masif,” tegasnya.

Lantas seberapa besar peluang kita mengatasi dampak perubahan iklim? Adila mengungkapkan, tantangan menghadapi perubahan iklim sangat besar, tetapi juga peluangnya. “Tidak satupun dari aksi di atas cukup. Bahkan tidak mendekati. Tapi semua itu menunjukkan potensi baru untuk perubahan,” ujarnya.

Ketika pemerintah bisa ambisius terhadap target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), maka prinsip ‘pencemar bertanggung jawab’ akan memainkan peran penting dari upaya kita mencegah dampak perubahan iklim. “Tidak boleh ada perusakan lingkungan dan iklim. Yang merusak harus bertanggungjawab,” tegas Adila.

Karena itu, menurut dia, sekarang adalah waktu paling baik bagi Indonesia untuk menerapkan pembelajaran dari pandemi yaitu tidak mengabaikan peringatan ilmuwan. “Itulah mengapa saya beserta tim Greenpeace Indonesia terus berkampanye lebih keras di saat seperti ini,” kata Adila.

“Gugatan warga negara atas pencemaran udara Jakarta sudah kita menangkan dan pelaksanaannya harus kita kawal, tanggung jawab perusahaan yang membakar dan merusak hutan di Papua harus terwujud, dan lestarikan kehidupan laut Indonesia serta lindungi ABK Indonesia. Bersama dengan kamu, kampanye kita akan semakin berdampak untuk lingkungan,” pungkas Adila.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *