Larangan Cantrang Sulitkan Nelayan Kalbar

Nelayan memperbaiki jaring cantrang (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengatakan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikana (Permen KP) No.2 Tahun 2015 tentang Pelarangan Penggunaan Alat Tangkap Pukat Hela (thrawl) dan Pukat Tarik, atau Cantrang menyulitkan para nelayan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Akibat dari Permen tersebut, lanjut Wakil Ketua Komisi IV ini, tidak sedikit nelayan yang ditangkap. Padahal hingga saat ini di Kuburaya sendiri baru dua puluh persen nelayan yang mendapatan bantuan alat tangkap yang diperbolehkan oleh pemerintah, yang konon lebih ramah lingkungan.

“Sebelumnya ada kesepakatan pihak istana (diwakili oleh Staff Kepresidenan Teten Masduki-red) dengan nelayan yang salah satu isinya adalah bahwa pemerintah akan melakukan kajian atas beberapa kebijakan yang menyangkut nasib nelayan, salah satunya tentang Permen No.2 Tahun 2015, namun hingga dua bulan lagi (setelah perpanjangan waktu) peraturan tersebut akan diterapkan, kajian tersebut belum juga ada hasilnya,” papar Daniel dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (30/10).

Daniel menegaskan, jika pelarangan alat tangkap ikan seperti cantrang terus diimplementasikan, akan berdampak besar bagi kehidupan nelayan. “Banyak nelayan yang takut melaut, sehingga penghasilannya pun menurun dan akhirnya akan timbul dampak sosial lainnya seperti pengangguran, peningkatan angka kejahatan dan sebagainya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ketidaksesuaian data nelayan dan data yang ada pada dinas perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait jumlah nelayan yang harus mendapat bantuan alat tangkap pukat juga berbeda. Kondisi ini tentu akan membahayakan, karena akan menyebabkan konflik horizontal, kecemburuan antar nelayan penerima bantuan alat tangkap.

“Ketidaksinkronan data yang dimiliki dinas Perikanan KKP dengan data di lapangan terkait jumlah nelayan yang seharusnya menerima bantuan alat tangkap (yang diperbolehkan) akan berdampak dan membahayakan juga. Data yang ada pada dinas perikanan sekitar 1400 an, sementara data di lapangan ada sekitar 2500 an nelayan di Kuburaya yang seharusnya mendapatkan bantuan alat tangkap baru, ini sangat jauh berbeda. Untuk itu saya meminta pendataan ulang agar menghasilkan data yang lebih valid,” terang Daniel.

Terkait Permen No.2 Tahun 2015, politisi dari Fraksi PKB ini mengatakan, pihaknya sudah melakukan desakan terhadap pemerintah untuk segera meninjau ulang kebijakan tersebut. Bahkan, sebagai langkah akhir, pihaknya tidak segan untuk menahan atau tidak menyetujui anggaran Kementerian KKP jika pemerintah belum menemukan solusi atau kajian yang disepakati oleh nelayan dan bisa meningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Tangkap Syarief Hidayat mengatakan, saat ini pemerintah masih terus melakukan kajian atas segala kebijakan yang telah dikeluarkannya. Ia meyakini bahwa segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tujuan akhirnya untuk kesejahteraan rakyat, dalam hal ini nelayan.

“Bantuan alat tangkap, saat ini memang masih 221 buah yang kami berikan untuk nelayan Kuburaya, Kalbar ini. Namun akan menyusul pada pekan atau bulan berikutnya. Jika ada yang belum terdaftar boleh menyusul pendaftarannya. Sekaligus apa yang menjadi kebutuhan nelayan bisa dilaporkan pada kami,” papar Syarief. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *