Lebih Dari 90 Persen Garam Bermerek di Dunia Tercemar Mikroplastik

Tumpukan sampah plastik kemasan dari beberapa produk konsumsi (dok. greenpeace indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Lebih dari 90 persen garam bermerek yang diteliti oleh Greenpeace Asia Timur dan Profesor di Universitas Incheon Seung-Kyu Kim kedapatan tercemar mikroplastik. Dari sejumlah sampel tersebut, garam bermerek yang tercemar mikroplastik kebanyakan berasal dari sampel garam yang bersumber di Asia.

“Penelitian terbaru telah menemukan plastik dalam makanan laut, margasatwa, air keran, dan sekarang dalam garam. Sudah jelas bahwa kita tidak bisa melarikan diri dari krisis plastik ini, terutama karena sampah plastik terus memasuki perairan dan lautan kita,” kata Mikyoung Kim, Jurukampanye Greenpeace Asia Timur, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (17/10).

Penelitian, yang telah diterbitkan di jurnal ilmiah Environmental Science & Technology, menganalisis 39 merek garam secara global, menunjukkan bahwa kontaminasi plastik dalam garam laut adalah yang tertinggi, diikuti oleh garam danau, kemudian garam batu – sebuah indikator tingkat polusi plastik di daerah-daerah sumber garam tersebut. Ke-39 sampel garam itu diambil dari dari 21 negara/wilayah yaitu, Australia, Belarus, Brasil, Bulgaria, China daratan, Kroasia, Perancis, Jerman, Hungaria, India, Indonesia, Italia, Korea, Pakistan, Filipina, Senegal, Taiwan, Thailand, UK, US, dan Vietnam.

Berdasarkan lokasi produksi dan bahan mentah, sampel produk garam terdiri dari 28 garam laut dari 16 negara/wilayah, 9 garam batu dari 8 negara/wilayah, dan 2 garam danau dari 2 negara/wilayah. Dari sejumlah sampel itu ditemukan hanya tiga dari merek garam yang diteliti tidak mengandung partikel mikroplastik dalam sampel yang direplikasi.

Ketiga sampel itu berasal dari Taiwan (garam laut yang dimurnikan), China daratan (garam batu yang dimurnikan), dan Perancis (garam laut yang tidak dimurnikan yang diproduksi dengan evaporasi sinar matahari). Ketiganya tidak mengandung partikel mikroplastik di kedua sampel replikasi.

“Kita harus menghentikan polusi plastik pada sumbernya. Demi kesehatan manusia dan lingkungan kita, sangat penting bagi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan mereka pada plastik sekali pakai dengan segera,” tegas Mikyoung Kim.

Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai pencemaran mikroplastik dalam garam, penelitian ini adalah yang pertama dalam hal skala untuk melihat tingkat kontaminasi dari penyebaran geografis dari garam laut, dan korelasinya dengan pelepasan dan tingkat pencemaran plastik terhadap lingkungan.

Studi ini menyoroti Asia sebagai hotspot untuk polusi plastik global yang berarti bahwa ekosistem dan kesehatan manusia di pinggiran laut Asia berpotensi berada pada risiko yang lebih besar karena polusi mikroplastik laut yang parah.

Dalam satu sampel garam laut dari Indonesia, para peneliti menemukan jumlah mikroplastik tertinggi. Negara ini dianggap sebagai penyumbang sampah plastik terburuk kedua ke lautan dunia.

Dengan asumsi asupan garam 10 gram per hari, konsumen dewasa rata-rata dapat mencerna sekitar 2.000 mikroplastik setiap tahun melalui garam saja, menurut studi tersebut. Bahkan ketika sampel garam Indonesia yang sangat terkontaminasi dikeluarkan dari penelitian ini, rata-rata orang dewasa masih bisa mengonsumsi ratusan mikroplastik setiap tahun.

Konten mikroplastik dalam merek-merek garam bervariasi dengan cukup berbeda dan terbilang tinggi di Asia. Berdasarkan konten mikroplastik rata-rata yakni 506 mikroplastik/kg untuk semua sampel garam termasuk sampel dari Indonesia, diperkirakan seorang dewasa mengonsumsi sekitar 2.000 mikroplastik per tahun melalui garam.

“Temuan menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik manusia melalui produk laut sangat terkait dengan emisi plastik di wilayah tertentu,” kata Profesor Seung-Kyu Kim.

“Untuk membatasi paparan terhadap mikroplastik, langkah-langkah pencegahan diperlukan, seperti mengendalikan pelepasan sampah dari sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dan yang lebih penting, mengurangi sampah plastik,” tambahnya.

Awal bulan ini, Greenpeace bersama dengan koalisi Break Free From Plastic merilis laporan yang menyebut Coca-Cola, PepsiCo, dan Nestlé sebagai sejumlah perusahaan yang kemasannya masih bergantung pada plastik sekali pakai yang mencemari lautan dan saluran air kita secara global.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *