Limbah Ponsel Ancam Indonesia

Tumpukan limbah elektronik berupa tekepon di Nanyang, China (greenpeace/natalie behring)
Tumpukan limbah elektronik berupa tekepon di Nanyang, China (greenpeace/natalie behring)

Jakarta, Villagerspost.com – Indonesia merupakan pasar potensial bagi prodeusen telepon seluler (ponsel). Saban tahun puluhan jenis model ponsel baru diperkenalkan. Sayangnya, dibalik gegap gempita penjualan ponsel tersebut terdapat ancaman nyata dari limbah ponsel terhadap lingkungan Indonesia. Hal itu terungkap dari survei yang dilakukan Greenpeace East Asia bekerjasama dengan Ipsos MORI di 10 negara, termasuk Indonesia, terkait limbah ponsel.

Di Indonesia survei dilakukan dari tanggal 29 Juli hingga 16 Agustus 2016. Dari hasil survei diketahui, tidak ada satupun dari produsen ponsel yang menyediakan sarana daur ulang ponsel. Dari 1007 responden yang disurvei dengan rentang usia 18-55 tahun di Jawa, Sumatera dan pulau lainnya, mayoritas mengatakan produsen ponsel harus bertanggungjawab menyediakan sarana untuk mendaur ulang ponsel mereka. Sementara 97% responden berpendapat bahwa ponsel pintar baru harus mudah diperbaiki bila rusak.

Greenpeace melakukan survei tersebut sebagai bagian dari kampanye ‘True Innovation’ , yang menantang sektor teknologi agar melakukan inovasi untuk melindungi lingkungan dan masa depan kita. “Ponsel pintar memberikan tekanan yang begitu besar bagi lingkungan kita mulai dari saat mereka diproduksi, seringkali menggunakan bahan kimia berbahaya, hingga mereka dibuang di tempat-tempat pembuangan limbah elektronik,” kata Ahmad Ashov Birry, Juru Kampanye Detox¬† Greenpeace, dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Minggu (18/9).

Dari hasil survei, diketahui, sebanyak 77% responden di Indonesia setuju bahwa produsen memperkenalkan terlalu banyak model ponsel baru, banyak diantaranya didesain untuk bertahan hanya dalam beberapa tahun saja. “Faktanya, menurut hasil survei, hampir semua pengguna berpendapat bahwa ponsel pintar baru perlu didesain untuk bertahan lama, mudah diperbaiki dan terbuat dari bagian-bagian yang dapat didaur ulang sepenuhnya,” kata Ashov.

Ponsel adalah produk elektronik ukuran kecil yang paling sering diganti. Sebuah laporan dari United Nations University pada tahun 2014 menunjukkan bahwa sebesar 3 juta metrik ton dari limbah elektronik merupakan barang elektronik ukuran kecil seperti ponsel pintar dan komputer personal.

Hal tersebut merepresentasikan sumber daya besar yang terbuang percuma dan sumber kontaminasi bahan kimia berbahaya. Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa pada tahun 2014 jumlah limbah elektronik di Indonesia diperkirakan mencapai 745 ribu ton dan diperkirakan bahwa setiap warga Indonesia menghasilkan 3 kg limbah elektronik.

Beberapa temuan kunci dari survei di Indonesia adalah: Pertama, alasan utama responden untuk berganti ponsel adalah keinginan untuk mendapatkan gawai terbaru atau karena gawai sebelumnya tidak memberikan fungsi yang diharapkan.

Kedua, sebanyak 61% responden membeli gawai baru untuk menggantikan gawai lama yang masih berfungsi, sebanyak 66% responden mengatakan bahwa mereka bisa lebih jarang berganti gawai. Ketiga, sebanyak 98% responden mengatakan, penting bagi ponsel pintar model baru didesain untuk bertahan lama.

Keempat, sebanyak 96% responden mengatakan bahwa penting bagi ponsel pintar model baru tidak dibuat menggunakan bahan kimia berbahaya. Kelima, sebanyak 93% responden mengatakan, penting bagi ponsel pintar model baru mempunyai bagian-bagian yang dapat ditingkatkan tanpa harus membeli model baru.

“Kami yakin, inovasi sesungguhnya adalah pada saat gawai didesain untuk bertahan lama, mudah diperbaiki dan dapat didaur ulang. Ini adalah saatnya bagi para pemimpin teknologi untuk memikirkan bagaimana mereka bisa membuat produk elektronik yang tidak hanya inovatif, tapi juga ramah terhadap¬† planet tempat kita tinggal,” tegas Ashov.

“Jika merek-merek teknologi ingin membawa kita ke masa depan, mereka harus bergerak ke arah produksi dengan daur tertutup (closed-loop) dan ekonomi melingkar (circular economy), yang dapat mendatangkan manfaat bagi keuntungan mereka, bagi masyarakat dan bagi bumi,” pungkas Ashov.

Ikuti informasi terkait masalah limbah >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *