Listrik dari PLTU Batubara Bukan Energi Murah

Aktivis Greenpeace Indonesia membentang spanduk desakan kepada pemerintah agar menggunakan energi bersih, demi udara bersih (dok. greenpeace)
Aktivis Greenpeace Indonesia membentang spanduk desakan kepada pemerintah agar menggunakan energi bersih, demi udara bersih (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia meluncurkan hasil riset terbaru yang memperhitungkan kerugian ekonomi dari dampak kesehatan akibat PLTU batubara di Indonesia. Riset ini adalah kelanjutan dari laporan Greenpeace dan Universitas Harvard yang mengungkap potensi kematian dini yang mencapai 6.500 jiwa per tahun akibat PLTU batubara yang saat ini sedang beroperasi.

Riset terbaru ini mengungkapkan potensi kerugian ekonomi yang besar. Terhitung dari seluruh total PLTU yang saat ini beroperasi dan yang akan dibangun, biaya kesehatan setiap tahunnya mencapai Rp351 trilliun, jauh lebih tinggi dari alokasi APBN 2016 untuk sektor kesehatan yaitu Rp110 triliun.

Biaya kesehatan ini akan ditanggung baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Selain itu, kualitas hidup dan produktivitas masyarakat secara terus-menerus makin merosot. Polusi udara dari emisi PLTU batubara meningkatkan risiko penyakit serius seperti kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, penyakit pernapasan kronis dan infeksi saluran pernapasan akut.

“Bayi, ibu hamil, dan orang tua yang paling rentan terhadap efek akut dari polusi udara” ujar Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika, di Jakarta, Rabu (21/9).

Setelah memasukkan biaya kesehatan ke dalam struktur biaya PLTU batubara, listrik dari batubara tidak lagi menjadi sumber energi yang murah seperti propaganda industri dan promotor batubara selama ini. Saat ini biaya listrik dari PLTU batubara tercatat sebesar US$51,22/MWh.

Biaya PLTU batubara akan naik secara signifikan menjadi US$152,65/MWh setelah biaya kesehatan dan CO2/pemanasan global diinternalisasikan ke dalam struktur biaya. Angka tersebut sudah melebihi biaya dari semua jenis pembangkit energi terbarukan. Misalnya, biaya biomassa dan solar PV masing-masing adalah US$112,76/MWh dan US$108,07/MWh.

Sebagai jalan keluar, Pemerintah Indonesia harus segera meninggalkan batubara sebagai sumber energi utama di negeri ini.  Kemudian melakukan pemantauan emisi secara berkala serta penguatan standar emisi  PLTU batubara yang saat ini sudah beroperasi.

“Pemerintah Indonesia harus menetapkan target yang lebih ambisius untuk pengembangan energi terbarukan, dan memastikan implementasi dari target ini dipayungi oleh regulasi yang mendukung, seperti penetapan harga energi terbarukan yang  kompetitif dan mendukung pengembangan teknologinya di Indonesia,” pungkas Hindun.

Ikuti informasi terkait PLTU Batubara >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *