Lovebird, Si Mungil Seharga Mobil | Villagerspost.com

Lovebird, Si Mungil Seharga Mobil

Burung lovebird di kandang penangkaran milik H. Rudianto di Kalensari, Indramayu, Jawa Barat. (dok. villagerspost.com)

Burung lovebird di kandang penangkaran milik H. Rudianto di Kalensari, Indramayu, Jawa Barat. (dok. villagerspost.com)

Indramayu, Villagerspost.com – Tubuhnya kecil, beratnya tak lebih dari dua butir telur ayam, tapi si cantik “berbaju warna warni” ini harganya ternyata selangit. Butuh uang seharga satu mobil keluarga untuk bisa memilikinya. Itulah lovebird, burung mungil yang saat ini sedang digandrungi pehobi.

Karena harga yang tinggi inilah Kardi (46), seorang penangkar burung love bird di Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Indramayu, Jawa Barat, menangkarkan burung yang termasuk keluarga Psittacidae (burung paruh bengkok) yang berasal dari Afrika ini. “beternak lovebird itu gampang-gampang susah. Harus memiliki kesabaran dan keuletan yang ekstra agar penangkaran berjalan lancar,” kata Kardi, kepada tim jurnalis desa Kalensari, Sabtu dua pekan lalu.

Dia mengaku, hasil dari memelihara ‘burung cinta’ yang dimulainya sejak dua tahun lalu itu, sangat membantu perekonomian keluarganya. “Dalam sebulan saya bisa mendapat penghasilan minimal 300 ribu rupiah dari hasil menjual anakannya,” papar Kardi.

Untuk yang terhitung biasa-biasa saja, misalnya varian bulu dan suaranya tak begitu istimewa, harga loverbird memang tak mahal-mahal amat. Paling murah, oleh Kardi seekor dihargai Rp150 ribu. Namun, untuk yang memiliki warna istimewa dengan suara merdu apalagi sudah memenangi kontes, harganya jangan ditanya. “Beberapa waktu lalu ada yang juga sampai Rp95 juta, ada juga yang sampai Rp150 juta,” katanya.

Warna yang dinilai istimewa adalah warna merah atau oranye mencolok yang memenuhi dari kepala hingga bagian dada burung yang dipadu dengan warna hijau muda. Atau, kata Kardi, ada juga yang berwarna abu-abu padanan hitam mirip warna burung elang, sehingga terkesan gagah. Burung-burung lovebird model beginilah yang kebanyakan coba ditangkar oleh Kardi.

Dia bercerita, usaha penangkaran burung cinta ini memang menguntungkan. Proses penangkaran relatif mudah karena selain gampang berbiak, juga relatif jarang terkena penyakit. Modal untuk menangkar lovebird untuk pembuatan kandang, dia hanya keluar Rp2 juta.

Sementara untuk pakan, burung ini cukup diberi berbagai macam sayur mayur, semacam wortel dan caisim atau sayuran lain yang ada sehari-hari di sekitar. Juga modal membeli sepasang indukan bagus yang biasanya bisa seharga antara Rp500 ribu-Rp1 juta. “Dalam waktu satu tahun modal sudah kembali bahkan sudah untung,” ujarnya.

Soal pasar, Kardi mengaku tidak kesulitan karena peminatnya masih tinggi. “Apalagi usaha ini sedikit yang menekuninya,” tegasnya.

Selain soal keuntungan, menurut Kardi, menangkar burung istimewa ini juga menyenangkan, karena mengajarkan banyak hal terutama kesetiaan. “Burung ini setia banget. Kalau sudah punya pasangan dia tak mau lagi sama yang lain biarpun dirayu-rayu,” ujarnya.

Di dalam kandang penangkaran, Kardi menunjukkan burung cinta nya. Kardi menunjukkan setiap burung dan pasangannya. “Nah, yang biru dadanya itu pasangannya yang biru juga. Dia enggak mau sekalipun dikasih burung yang lain,” tukasnya.

Dari berbagai literatur diketahui burung cinta memang tipe burung monogami atau setia pada pasangan dalam jangka waktu yang lama. Sifat ini tentu saja sangat menarik karena umumnya dalam kehidupan liar burung atau hewan lainnya sangat sulit untuk ‘setia’.

Poligami menjadi ciri umum hewan yang memiliki kehidupan diwilayah yang luas. “Burung ini ibarat manusia mah, cuman punya satu cinta, cinta sejati. Kita juga harusnya begitu ya. Kalo udah punya rabi (menikah-red) kudu setia,” pungkas Kardi.

Alasan yang sama juga dikemukakan H Rudianto, yang juga merupakan penangkar Lovebird. Rudianto memilih membudidayakan burung tersebut karena perawatannya lebih mudah dan tahan penyakit di bandingkan dengan burung lainnya semisal burung kenari. Sama seperti Kardi, Rudianto juga memulai usaha penangkaran lovebird sejak tahun 2014 lalu.

Untuk menangkar secara efektif, menurut Rudianto, ketika induk sedang dalam proses pengeraman jangan sering dilihat karena akan mengganggu proses pengeraman. “Setelah telur menetas selama 14 hari, bayi lovebird dipisahkan dengan induknya dan diberi makan bubur bayi dengan peralatan tertentu, cara ini akan mempercepat proses bertelur kembali,” ujarnya.

Untuk burung lovebird yang siap bertelur adalah sekitar usia 8 bulan. Setiap bertelur, satu induk bisa menghasilkan 4-6 butir telur dengan proses pengeraman selama 21 hari. Berbeda dengan ayam, dalam proses pengeraman burung lovebird tidak diam di sarang yang sudah disediakan.

“Dia akan keluar sarang ketika lapar dan membuang kotoran. Penggunaan vitalur atau vitamin burung juga diperlukan untuk mempercepat proses bertelur induk lovebird. Pemberian vitalur dilakukan setiap hari selama 14 hari sebanyak tiga tetes setiap harinya,” jelas Rudi.

Sementara untuk membedakan kelamin jantan dan betina, caranya adalah dengan memegang area di sekitar bagian bawah perut dan meraba alat kelamin si burung. Jika bentuknya seperti supit udang atau bentuk paruh, dipastikan burung itu jantan. “Ini akurasinya sampai 70 persen,” ujarnya.

Dia mengaku, untuk penjualan lebih suka menjual dengan sistem borongan ketimbang satuan. “Untuk burung lovebird yang siap dijual sekitar umur 3 bulan, saya udah punya bakul (pemborong) sendiri, keuntungannya untuk membantu perekonomian keluarga,” pungkasnya. (*)

Laporan: Tim jurnalis desa Kalensari, Indramayu Jawa Barat

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *