Mabuk Pestisida: Petani Desa Widasari Semprot Pestisida Sebelum Hama Menyerang

Karnita, Petani padi dan cabai Desa Widasari, Indramayu menjelaskan fenomena “mabuk pestisida” yang terjadi di desanya (villagerspost.com/Setyawan Jatmiko)

Indramayu, Villagerspost.com – Peribahasa “sedia payung sebelum hujan” yang maknanya bersiap siaga sebelum datang suatu bencana atau bahaya, rupanya dipahami secara salah kaprah oleh petani Desa Widasari, Kecamatan Widasari, Indramayu. Maka lahirlah sebuah budaya “mabuk pestisida” yang jelas salah kaprah, yaitu kebiasaan Petani Desa Widasari menyemprotkan sejumlah tertentu pestisida pada tanaman padi, meski belum ada pertanda serangan hama.

Karnita (49), salah seorang petani di desa tersebut mengakui, di desa Widasari, penggunaan pestisida sintetik sangat tinggi dalam praktik budidaya tanaman, khususnya padi yang dilakukan oleh petani. “Penggunaan pestisida bisa mencapai 11 kali dalam satu musim tanam. Pestisida yang digunakan pun bermacam-macam mulai dari harga puluhan ribu sampai ratusan ribu dari berbagai merek dagang dan bahan aktif,” kata Karnita kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Sebagai, salah satu kawasan lumbung padi nasional, Indramayu memang merupakan kawasan penghasil padi yang utama untuk menyokong kebutuhan beras nasional. Berbagai program pemerintah melalui Kementerian Pertanian pun dilaksanakan di kabupaten ini. Salah satunya adalah pola tanam padi tiga kali dalam setahun alias IP300.

Sayangnya, alih-alih meningkatkan produksi padi, program bertanam padi tiga kali setahun ini malah menyebabkan semakin masifnya serangan hama, terutama wereng. Tanaman padi terus menerus ditanam tanpa adanya pergiliran tanaman sehingga dapat memicu perkembangan hama dan penyakit, karena siklus hama dan penyakit sendiri tidak terputus.

Panik menghadapi situasi serangan hama yang kerap sulit dikendalikan, membuat penggunaan pestisida yang dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) sejatinya merupakan alternatif terakhir, justru malah dijadikan senjata utama oleh petani. Karnita mengakui, pestisida menjadi pilihan petani karena aplikasi yang mudah dan dapat diaplikasikan hampir di setiap waktu pada areal yang luas.

“Mendapatkannya juga mudah di kios-kios pertanian terdekat, dan hasilnya dapat terlihat dalam waktu singkat,” ujarnya memberikan alasan atas maraknya penggunaan pestisida.

Sejak pemerintahan Orde Baru menggaungkan Revolusi Hijau, pestisida sintetik memang seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari teknik budidaya pertanian “modern”. Petani juga dipaksa untuk menjadi petani yang “modern” dengan menggunakan aplikasi teknologi baik pupuk kimia maupun pestisida.

Lahan cabai milik Karnita di desa Widasari (villagerspost.com/setyawan jatmiko)

Itu tak terkecuali terhadap mayoritas petani yang berada di Desa Widasari yang didominasi petani dengan lahan kecil dan petani penggarap lahan orang lain yang bukan miliknya dengan sistem yang ditentukan sejak awal yang disepakati. Namun akibat “mabuk pestisida” ini, selain membuat serangan hama justru sulit dikendalikan, juga semakin melambungkan biaya bertanam padi.

Biaya produksi yang tinggi menjadi masalah petani di desa Widasari, dan biaya terbesar dikeluarkan untuk membeli pestisida. Selain itu juga untuk biaya produksi yang lain seperti buruh tanam, pupuk, traktor dan buruh panen.

Karnita bercerita, biaya yang dikeluarkan dalam satu kali penyemprotan pestisida bisa mencapai Rp1,5 juta tergantung dari jenis pestisida yang dipakai. Dengan pengeluaran yang tinggi, petani rela merogoh kocek dalam-dalam agar dapat menghasilkan produksi padi secara maksimal.

“Penyemprotan dalam satu musim tanam bisa mencapai 10 atau 11 kali tergantung hama yang menyerang dan biasanya penyemprotan dilakukan untuk antisipasi hama,” ujar Karnita.

Karnita mengungkapkan, pestisida yang dipakai juga beragam alias formula oplosan. Dalam satu tangki kapasitas 15 liter, bisa terdapat campuran enam jenis merek dagang yang berbeda dalam satu tangki, dengan formulasi bahan aktif yang juga berbeda-beda .

“Penggunaan pestisida dengan mencampurkan berbagai merek dagang bertujuan untuk efisiensi waktu pengendalian, tenaga kerja, dan dapat mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit dalam waktu yang relatif singkat,” ujar Karnita.

Celakanya, praktik salah kaprah ini ternyata juga mulai menjalar ke petani yang menanam komoditas lainnya, seperti cabai. Alhasil, pertanian biaya tinggi juga mencakup para petani cabai.

Karnita menyebutkan pengeluaran biaya produksi untuk pestisida dapat mencapai Rp25 juta dalam satu musim tanam untuk luasan 3000 m2. “Menanam cabai merupakan sektor yang menjanjikan, untuk luasan 3000 m2 penghasilan bisa mencapai Rp200 juta tergantung dari harga pasar. Meskipun menjanjikan keuntungan yang besar, diperlukan modal yang besar pula untuk biaya produksi,” katanya.

Dengan pola bertani yang padat pestisida dan menyebabkan semakin mahalnya modal ini, membawa dampak pada semakin turunnya kesejahteraan petani. Salah satu dampak dari petani penggarap adalah minimnya akses petani terhadap sarana pendukung dan ketidakberdayaan petani dalam menentukan harga pasar.

Dengan biaya produksi tinggi petani tidak memikirkan berapa jumlah uang yang yang sudah dikeluarkan untuk pembelian pupuk dan pestisida yang katanya dapat meningkatkan produksi. “Bahkan bisa jadi pendapatan petani tidak mengalami kenaikan dalam segi keuntungan hanya mengalami kenaikan dalam segi kuantitas, namun keuntungan yang didapat petani sama saja atau bahkan tidak ada untungnya,” urai Karnita.

Melihat kenyataan di lapangan ini, perlu usaha dari petani untuk lebih bijak dalam menggunakan pestisida baik. Penggunaan pestisida secara berlebihan harus disadari malah membawa dampak negatif seperti keracunan dan kematian musuh alami hama. Kemudian juga terjadinya resistensi dan resurgensi dari hama dan dampak keracunan terhadap pemakai.

Sayangnya, pada umumnya petani di Desa Widasari hanya menghitung seberapa banyak hasil padi yang diperoleh namun tidak pernah menghitung seluruh pengeluaran dan keuntungan, sehingga perlu adanya pemahaman lebih pada petani dalam hal tersebut. Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara petani, akademisi dan pemerintah untuk menghasilkan terobosan yang mampu membantu petani dalam penyelesaian masalah yang ada di lapangan sehingga kesejahteraan petani meningkat.

Laporan/Foto: Novita Indah Sari dan Setyawan Jatmiko, Mahasiswa KKNT IPB di Kabupaten Indramayu

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *