Makarel Mengandung Cacing, Sistem Keamanan Pangan Masyarakat Rentan

Ikan makarel segar (dok. petworlds.net)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi IX DPR RI Ahmad Zainuddin mengatakan, pengungkapan kasus 27 merek ikan makarel kalengan yang mengandung cacing parasit oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menunjukkan, sistem keamanan pangan masih rentan. “Ternyata keamanan pangan di masyarakat kita masih sangat rentan. Merek-merek yang ditarik itukan merek-merek populer yang sudah lama beredar, tapi baru sekarang ditemukan cacing. Ini persoalannya,” kata Zainuddin, dalam siaran persnya, Senin (2/4).

Dia mengatakan, langkah BPOM tersebut layak diapresiasi, namun di sini lain dia mengaku prihatin atas rentannya merek-merek populer atas adanya kandungan cacing didalamnya. “Penemuan kasus tersebut juga menunjukkan sistem pengawasan di hulu tidak berjalan optimal,” ujarnya.

Zainuddin menegaskan, sistem impor produk makanan harus dievaluasi agar produk makanan bermasalah tidak sampai masuk beredar di masyarakat. “Merek-merek ikan makarel kalengan yang ditarik kan bukannya tidak legal atau tidak prosedural. Tapi tidak higienis. BPOM akhirnya hanya mengawasi di hilir, pengawasan ketat seharusnya juga dilakukan di hulu. Jangan jadikan masyarakat sebagai eksperimen produk,” ujarnya.

Zainuddin mempersoalkan, mengapa temuan itu terjadi pada produk yang sebenarnya mendapatkan kelulusan dari sejumlah institusi termasuk BPOM, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perdagangan.

Selain itu, menurut politisi PKS ini, koordinasi BPOM dengan kementerian atau institusi yang terlibat dalam perdagangan impor produk makanan ini harus diperkuat serta mengevaluasi sistem pengawasan total dari hulu ke hilir. “Jangan produknya sudah di masyarakat, sudah dikonsumsi banyak orang. Apalagi merek lama, baru diketahui ada yang tidak higienis,” imbuhnya.

Dia meminta pemerintah tidak hanya sekadar menarik semua 27 merek ikan makarel kalengan. “Pemerintah juga harus mengevaluasi ulang semua produk makanan impor yang sudah beredar di masyarakat,” tegasnya.

Zainuddin juga meminta masyarakat teliti dalam membeli produk. “Baca produknya. Karena ketelitian ini bagian dari keamanan pangan. Tidak semua yang sudah beredar di masyarakat itu aman, meskipun idealnya harus aman. Laporkan jika menemukan produk makanan yang mencurigakan,” pungkasnya.

Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia Ady Surya menerangkan, 27 merek dagang produk ikan makarel yang ditarik dari peredaran, sudah melewati standarisasi ketat dan utuh. “Kami telah melakukan semua SOP, secara ketat. Selama 30 tahun industri ini, baru kali ini terjadi, dan kami menilai ini adalah accident,” ujarnya di Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (31/3).

Sementara itu, pakar standarisasi mutu produk Perikanan Sunarya, menjelaskan cacing anisakis yang terdapat pada ikan makarel kaleng disebabkan oleh faktor di sekeliling lingkungan hidup ikan. “Jadi ini tidak semua (berdampak pada ikan makarel), hanya pada saat tertentu saja. Bisa saat ini memang terjadi, tapi besok atau berikutnya tidak lagi,” ujar Sunarya.

Menurut Sunarya, cacing anisakis memang hidup di dalam tubuh mamalia laut, seperti paus. Cacing yang biasa ada di ikan yang berenang di lautan Eropa. Pada musim atau musim tertentu, ikan itu terinfeksi cacing. Hingga, saluran pencernaannya mengeluarkan telur cacing anisakis. “Telur itu akan menjadi larva stage 1,2, dan 3. Larva ini yang dimakan, termasuk dimakan ikan makarel,” ujar Sunarya.

Cacing itu masuk ke dalam daging ikan makarel. Namun, kejadian seperti ini, ucap Sunarya, merupakan kejadian langka yang belum tentu terjadi dalam rentang waktu setahun sekali. “Ikan kaleng yang mengandung cacing by accident. Accident alami. Memang industri harus meningkatkan quality control di bahan baku,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *