Mandiri Benih, KKP Kembangkan Teknologi Perbenihan Skala Rakyat

Tebar benih lele dalam kolam bioflok oleh pihak KKP (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Jakarta, Villagerspost.com – Upaya untuk menuju mandiri benih diterjemahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui inovasi teknologi bidang perbenihan. Salah satunya adalah teknologi perbenihan ikan nila skala rakyat yang dikembangkan KKP melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Teknologi ini akan didorong untuk diadopsi oleh masyarakat pembenih di berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebijakto mengatakan teknologi perbenihan ikan nila skala rakyat yang dirancang sebagai Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). “Saya menyambut baik hasil rekayasa teknologi perbenihan ikan nila skala rakyat atau HSRT yang berhasil dikembangkan BBPBAT Sukabumi. Ini sangat positif dalam mendukung kebijakan KKP dalam mendorong industrialisasi benih nasional,” ujar Slamet, di Jakarta, Kamis (12/3).

Slamet mengatakan, suplai benih berkualitas yang sesuai kebutuhan menjadi syarat mutlak untuk menggenjot produksi perikanan budidaya nasional. Oleh karenanya, KKP akan fokus pada program industri benih nasional termasuk penataan sistem logistiknya di sentral sentral produksi budidaya.

Slamet juga menilai inovasi HSRT ikan nila merupakan bagian yang akan didorong mulai tahun ini. Dengan penerapan teknologi ini, para pembenih akan mampu menaikan produktivitas benih hingga dua kali lipat dari sistem biasa. Disamping itu, inovasi ini sangat efisien baik dalam penggunaan air maupun lahan.

Cocok untuk di wilayah urban, sehingga diharapkan juga akan menjadi alternatif usaha bari di kalangan masyarakat perkotaan. “Tahun ini kita akan mulai kembangkan di masyarakat. Langkah awal saya telah menunjuk BBPBAT Sukabumi untuk mendorong diseminasi teknologi ini di dekat sentral sentral produksi budidaya ikan nila”, jelas Slamet.

Kepala BBPBAT Sukabumi Supriadi mengatakan, inovasi HSRT nila ini telah melalui berbagai kajian yang cukup lama, hingga menemukan hasil yang pas untuk bisa diadopsi. “Selama dua tahun terakhir ini, tim kami melakukan kajian. Adapun kajian tersebut mulai dari bagaimana kepadatan tebarnya, pakan dan performa hasilnya. Saat ini kami sudah mendapatkan hasil yang secara teknis dan nilai keekonomian pas untuk diadopsi di masyarakat,” ungkap Supriadi.

Supriadi mengatakan, inovasi HSRT nila ini memiliki berbagai keunggulan diantaranya sangat efisien air karena dirancang dengan sistem sirkulasi tertutup, tidak membutuhkan lahan yang luas dengan desain kolam bulat. “Keunggulan lainnya adalah SR yang tinggi mencapai 80%, bisa dilakukan pemijahan sepanjang tahun dan yang membedakan dengan sistem biasa yakni produktivitas yang tinggi mencapai 2 kali lipatnya,” jelasnya.

Supriadi menambahkan, sebagai gambaran dalam satu kolam bulat diameter 4 meter bisa diisi oleh 96 ekor induk dengan perbandingan 1 ekor jantan dan 7 ekor betina. Induk betina yang digunakan adalah jenis sultana dan induk jantannya menggunakan jenis gesit.

Dari pemijahan tersebut dihasilkan larva 25 ribu ekor per dua minggu atau 50 ribu ekor per bulan. “Pakan alami yang diberikan pada pemelihaaran larva adalah menggunakan Chlorella. Untuk mencapai batas nilai keekonomian Supri menyarankan agar pembenih mengoperasionalkan kolam sebanyak 10 unit,” ujarnya.

Dengan demikian menurutnya, secara ekonomi dari penjualan larva, dengan harga per ekor Rp10, maka akan dihasilkan margin keuntungan sebesar Rp4 juta per bulan per 10 kolam. Supriadi juga menjelaskan bahwa HSRT nila juga bisa didorong untuk berbagai segmentasi usaha pendederan.

“Kelebihan HSRT nila ini juga bisa kita dorong untuk segmentasi usaha. Sebagai ilustrasi, pada pendederan 1 dengan larva yang kita tebar sebanyak 20.000 ekor dapat menghasilkan benih ukuran 1-2 cm sebanyak 15.000 ekor. Dengan harga benih Rp50 per ekor maka keuntungan bersih yang bisa diraup mencapai 4,5 juta per bulan per 10 kolam,” imbuhnya.

Tahun 2019 lalu pihaknya telah melakukan diseminasi di Kabupaten Sleman dan Bantul, Provinsi DIY. Hingga saat ini menunjukkan hasil yang sangat baik. “Saya kira ini yang bisa membantu upaya pengembangan industri benih nasional. Nanti bisa kita petakan dimana saja yang perlu fokus kita kembangkan,” ujarnya.

“Unit HSRT nila bisa kita dorong sebagai larvae center dan pusat benih untuk mensuplai benih langsung ke pembudidaya di sentral produksi terdekat. Disamping, balai akan kita dorong untuk terus memproduksi calon induk/induk unggul. Saya kira ini langkah konkrit bagaimana membangun sistem logistik benih yang efektif,” pungkas Supriadi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *