Mari Selamatkan Keanekaragaman Pangan Lokal Kita

Perempuan Papua memanen hasil kebun yang dibangun secara swadaya (Dok. Villagerspost.com)
Perempuan Papua memanen hasil kebun yang dibangun secara swadaya (Dok. Villagerspost.com)

Jakarta, Villagerspost.com – Selama ini kita lebih mengenal beras sebagai bahan pangan pokok kita. Akibatnya, negara kita menjadi salah satu negara dengan konsumsi beras terbesar di dunia. Padahal sejak dahulu kita mengenal keberagaman sumber pangan lokal.

“Dahulu kita mengenal beragam sumber karbohidrat, seperti sagu, talas dan ubi di Papua dan Maluku, umbi-umbian Papua dan Jawa, gebang, sorghum/cantel NTT, sukun dan lainnya. Demikian juga sumber kacang-kacangan, buah dan sayuran lokal,” kata Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI MS Sembiring dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (15/1).

Data SEAMEO BIOTROP di tahun 2009 mengungkapkan, lebih dari 800 spesies tumbuhan tumbuh di Indonesia, denganĀ  77 jenis tanaman karbohidrat, 75 jenis tanaman lemak/minyak, 26 kacang-kacangan, 389 buah banyak ditemukan di Indonesia.

“Jumlah ini akan berkurang jika kita tidak memiliki kepedulian untuk melestarikan keanekaragaman hayati kita. Ini yang melandasi Yayasan Keanekaragaman Hayati terus berupaya melestarikannya dengan memberikan apresiasi kepada masyarakat yang berupaya melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati, termasuk pangan lokal,” tegas Sembiring.

Maria Loretta, seorang petani dari Way Otan Farm, Adonara Barat, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur telah melestarikan tanaman pangan lokal seperti sorgum, jelai, beras hitam, jewawut dan bahan pangan lain yang sudah mulai susah ditemui di kampungnya. Padahal, bahan makanan tersebutlah yang dikenalkan dari kecil oleh orang tua mereka.

Bahan pangan tersebut juga tahan terhadap perubahan cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur yang merupakan gugusan pulau-pulau kecil. Atas upaya kerja keras Maria Loretta, Yayasan KEHATI menganugerahinya dengan Prakarsa Lestari KEHATI di tahun 2012.

Mbah Suko, petani dari Dusun Kenteng, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah juga mendapat penghargaan Prakarsa Lestari KEHATI di tahun 2001. Yayasan KEHATI sangat menghargai upaya-upaya almarhum Mbak Suko dalam melestarikan bibit padi lokal yang sudah jarang ditemui.

Tak kurang dari 35 jenis bibit padi lokal telah dikembangbiakkan, seperti rojo lele, ketan kuthuk, kenongo, rening, menthik wangi, menthik susu, gethok, leri, papah aren, berlian, tri pandung sari, dan si buyung.

Sementara itu, di tahun 2002 Yayasan KEHATI memberikan penghargaan kepada Nicholas Maniagasi, Ketua Yayasan Sagu Suaka Alam, Yapen Waropen, Papua yang telah melakukan upaya pengembangan pengolahan sagu di kampung-kampung di Papua.

“Banyak sekali upaya-upaya dari masyarakat untuk terus melestarikan keanekaragaman hayati terutama pangan lokal. Mereka adalah salah satu dari banyak masyarakat yang telah kami temukan. Masih banyak sekali pahlawan-pahlawan di kampung yang telah berupaya melestarikan pangan yang mungkin belumĀ  kami temukan. Kami hanya ingin berbagi, agar upaya mereka dapat terus menjadi inspirasi dalam melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati kita, terutama pangan lokal,” tutup Sembiring. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *