Massa Aksi Tolak Tambang Emas PT LMR Tagih Janji Lembaga DPRK Aceh Tengah | Villagerspost.com

Massa Aksi Tolak Tambang Emas PT LMR Tagih Janji Lembaga DPRK Aceh Tengah

Warga menolak kehadiran tambang PT LMR memasang spanduk penolakan tambang emas (dok. istimewa)

Aceh Tengah, Villagerspost.com – Warga masyarakat Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak aktivitas pertambangan PT Linge Mineral Resources (LMR) terus mempersiapkan diri untuk melakukan aksi unjuk rasa menolak tambang emas PT LMR di Gedung DPRK Aceh Tengah, yang bakal digelar pada 16 September mendatang. Koordinator Lapangan Aksi Tolak Tambang Nur Anissa mengatakan, ratusan warga dari beberapa desa yang bakal terdampak aktivitas tambang di gunung Abong Linge oleh PT LMR akan hadir, ditambah elemen masyarakat sipil.

“Aksi ini merupakan aksi menagih janji tuntutan tolak tambang terhadap Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Tengah pada hari Jumat dua pekan yang lalu,” kata Annisa, dalam siaran pers yang diterima Villagerpost.com, Kamis (12/9).

Dia mengatakan, sesuai dengan kesepakatan antara Pimpinan DPRK sementara dan massa aksi waktu itu, pihak DPRK berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Gubernur Aceh. Massa meminta agar Gubernur Aceh melanjutkan moratorium tambang.

“Senin 16 September mendatang kami akan datang kembali menyerbu gedung DPRK Aceh Tengah menagih janji tuntutan penolakan tambang di Linge oleh Lembaga DPRK Aceh Tengah serta menyurati Gubernur Aceh untuk melanjutkan moratorium tambang,” tegas Annisa.

“Kami akan terus menggelar aksi untuk menyuarakan penolakan tambang oleh PT LMR di linge, supaya suara penolakan masyarakat ini menjadi tugas mereka (DPRK-red) untuk disampaikan kepada Gubernur Aceh untuk melanjutkan moratorium,” tambahnya.

Anissa menegaskan, keberadaan usaha pertambangan resmi berskala besar bukan hanya berdampak buruk pada lingkungan sekitar dataran tinggi Gayo dan juga kehidupan sosial masyarakat. Kaum perempuan pun juga akan terkena dampak yang parah. “Sumber daya alam yang biasanya digunakan untuk kebutuhan hidup kami dirusak dan diabaikan oleh perusahaan,” ujarnya.

Nissa menyoroti lemahnya pemenuhan hak kaum perempuan di wilayah tambang. Menurutnya, kaum perempuanlah yang paling banyak menerima dampak negatif dari eksploitasi tambang, baik dari sisi sosial dan ekonomi.

“Kehadiran pertambangan besar mengancam kehidupan dan mata pencaharian penduduk setempat, seperti berkebun, bersawah, berternak dan kehilangan sumber daya hutan, seperti rotan, madu, bambu, rusa, menangkap ikan, kebutuhan air bersih yang selama ini menghidupi kami,” pungkas Nissa.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *