Memanfaatkan Styrofoam Bekas untuk Medium Hidroponik Ala GUBUG | Villagerspost.com

Memanfaatkan Styrofoam Bekas untuk Medium Hidroponik Ala GUBUG

Anak-anak muda Desa Sidareja, Brebes yang tergabung dalam Generasi Muda Bergerak untuk Gemilang (GUBUG), memanfaatkan sampah styofoam untuk mengembangkan pertanian hidroponik (dok. villagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Sampah bekas styrofoam, merupakan ssalah satu jenis sampah yang paling sulit terurai. Namun, para pemuda yang tergabung dalam Generasi Muda Bergerak untuk Gemilang (GUBUG), Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, punya cara tersendiri untuk memanfaatkan bahan tersebut agar tak menjadi sampah yang mencemari lingkungan.

Anak-anak muda GUBUG memanfaatkan styrofoam bekas sebagai medium tanam hidroponik. Hasilnya, tak hanya mencegah pencemaran, tetapi juga bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan. Ketua GUBUG Aji menyampaikan, untuk membangun kebun hidroponik memanfaatkan styrofoam bekas di pekarangan rumah cukup mudah.

Untuk lahan pekarangan sekira 50 meter persegi, anak-anak GUBUG memanfaatkan 11 buah kotak styrofoam bekas sebagai medium tanam untuk berbagai jenis sayuran. Kemudian, net pot sebanyak 99 buah. Setelah itu untuk kepeluan pemeliharaan tanaman diperlukan 2 liter nutrisi untuk setiap kali tanam, alat pengukur kekeruhan air atau Total Dissolve Solid (TDS) meter. TDS adalah suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui kadar nutrisi atau kekuatan nutrisi yang terlarut dalam air pada sistem hidroponik.

Terakhir, tentu saja bibit sayuran yang akan ditanam. “Kami hanya mengeluarkan modal awal yang cukup murah sebesar 230 ribu rupiah saja,” kata Aji kepada Villagerspost.com, Senin (21/5).

Selain murah, anak-anak GUBUG juga mencegah sampah styrofoam menjadi sampah yang mencemari lingkungan (dok. villagerspost.com/suharjo)

Aji melanjutkan, setelah bahan-bahan tadi siap, maka langkah membuat media tanam hidroponik pertama adalah dengan melubangi kota styrofoam sebanyak 9 buah lubang tanam, dengan jarak 15 cm antar lobang. Dalam lubang itu kemudian ditambahkan rockwool.

Rockwool merupakan salah satu media tanam yang banyak digunakan oleh para petani hidroponik. Media tanam ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media lainnya terutama dalam hal perbandingan komposisi air dan udara yang dapat disimpan oleh media tanam ini.

Di kotak styrofoam kemudian digenangi air yang sudah diberikan nutrisi. Lalu tanaman diletakkan pada net pot dan kemudian diletakkan menempel pada rockwool dan dibiarkan mengapung pada larutan nutrisi, sehingga bibit bisa tumbuh di atas medium rockwool.

“Jangan lupa untuk memeriksa kondisi air dan larutan nutrisi agar tanaman tidak kekurangan nutrisi,” kata Aji.

Anggota GUBUG Solikhin menyampaikan, ketika kita terlambat mengecek nutrisi maka perkembangan sayuran menjadi terhambat, sayuran akan menjadi kekuningan yang semula hijau. “Pengecekan saya lakukan rutin setiap hari, setiap pulang sekolah,” kata Solikhin.

GUBUG menanam dua jenis sayuran yaitu pakcoy dan bayam merah (dok. villagerspost.com/suharjo)

Menurut Tuti pendamping desa dari Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Brebes, budidaya hidroponik memang perlu ketekunan karena harus mengecek kekeruhan nutrisi dalam air. Misalnya jika jika tanaman masih kecil maka TDS-nya harus di angka 300 ppm (part per million). “Semakin besar tanaman maka TDS-nya juga akan ditambah dengan cara ditambah nutrisi, ketika sudah siap panen TDS di atas 1000 ppm lebih,” ujarnya.

Dalam melaksanakan kegiatannya, anggota GUBUG yang terdiri dari remaja yang sudah bekerja, petani muda dan pelajar ini, biasanya bisa berkumpul pada waktu luang yaitu pada malam hari. Mereka biasanya berkumpul untuk merencanakan kegiatan, diskusi sampai melakukan pembibitan.

“GUBUG rencananya akan mencoba mengembangkan hidroponik dengan menggunakan wadah media paralon, difasilitasi komunitas hidroponik Brebes,” kata Aji.

Hasil panen langsung dikemas dan dijual ke pembeli yang datang ke kebun (dok. villagerspost.com/suharjo)

Hasil tanam hidroponik yang dilakukan GUBUG sendiri sejauh ini cukup memuaskan. Aji mengatakan, sayuran yang sudah berhasil dipanen ada sejumlah 9 bungkus pakcoy, 7 bungkus bayam merah. Setiap bungkus terdiri dari 3 net pot dengan harga jual pakcoy sebesar Rp9000 perbungkus, sementara bayam merah Rp4500 perbungkus.

Aji mengatakan, pada mulanya anak-anak GUBUG belajar bertanam secara hidroponik dengan cara melihat langsung praktik yang dilakukan oleh para pegiat hidroponik yang sudah berhasil. Mereka sendiri mendapatkan dukungan dari Dispora Kabupaten Brebes untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

“Dengan semangat tinggi, kami pemuda-pemudi mencoba mempraktikkan apa yang telah dipelajari dan didukung oleh pendamping desa dari dinas pemuda dan olahraga provinsi Jawa Tengah dan Alhamdulillah dapat terealisasi,” pungkas Aji.

Laporan/Foto: Suharjo, Petani Muda asal Desa Sidamulya, Brebes, Jawa Tengah, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *