Mendorong Gairah Usaha Beras Organik Ngawi

Pertemuan para pihak di kantor Dinas Pertanian Ngawi, dalam upaya mendorong daya tawar petani di hadapan pasar (dok. krkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Kabupaten Ngawi merupakan kabupaten terbesar ketiga produsen padi di Provinsi Jawa Timur. Data BPS pada tahun 2018 mengungkapkan, luasan lahan sawah di Ngawi mencapai 93.310 hektare dengan produksi mencapai 753.199 ton pertahun. Sebagian besar lahan sawah berada di Kabupaten Ngawi bagian tengah yang bertopografi datar dan memiliki tanah yang subur.

Namun, capaian sebagai kawasan penghasil beras, rupanya belum cukup bagi para pemangku kepentingan di Kabupaten Ngawi. Karena itu, mereka juga mendorong mendorong produksi padi organik. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi Ir. Marsudi, MMA mengatakan, geliat produksi padi organik di Kabupaten Ngawi sudah diinisiasi sejak tahun 2001 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi dan komunitas petani.

Namun, dalam perjalanannya, perlu waktu lama untuk mewujudkan pengembangan padi organik. “Dalam pengembangan padi organik di Ngawi terdapat tantangan yang cukup berat seperti teknis sertifikasi yang tidak mudah dan membutuhkan biaya tinggi hingga mencapai 30 juta rupiah per satu kali sertifikasi,” kata Marsudi, kepada Villagerspost.com, yang berkunjung ke kabupaten tersebut beberapa waktu lalu.

Selain masalah sertifikasi, teknologi pendukung terwujudnya syarat organik seperti pupuk organik, agensia hayati, dan penyediaan benih organik juga terbatas. “Sedangkan pada proses budidayanya di lapangan saat ini, serangan hama tikus sangat merusak pertanaman, pergeseran ekosistem yang signifikan memicu serangan hama dan penyakit meningkat,” terang Marsudi.

Meski begitu, berkat kerja keras semua pihak, akhirnya pada tahun 2013 lalu, sertifikasi organik berhasil didapatkan. Keberhasilan mendapatkan sertifikasi ini mendorong perkembangan pertanian organik di Kabupaten Ngawi. Data yang dihimpun Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi mengungkapkan, saat ini terdapat 32 hektare lahan padi organik dengan produksi mencapai 196 ton pertahun, serta lahan ‘semi organik’ seluas 100 hektare yang kedepannya ditargetkan akan menjadi lahan padi organik.

Namun dibalik mulai bergairahnya, perkembangan usaha budidaya beras organik itu terdapat persoalan mendasar yang selalu dialami petani Ngawi. Persoalan itu adalah bagaimana pasar bisa menyerap hasil dari produksi padi organik, tentunya dengan harga yang saling menguntungkan bagi petani dan pihak lain yang terlibat.

Rumitnya masalah mengkoneksikan produk organik petani dengan pasar ini, diamini oleh salah satu petani padi organik Joko Purwanto. Saat ini lahan di kelompok pimpinan Joko, luasannya sudah mencapai 5 hektare dengan produktivitas 18 ton per musim tanam. “Saya dari Kelompok Tani Rukun Jaya, saat ini dalam pengembangan padi organik di kelompok saya sudah dibantu oleh provinsi untuk dana sertifikasinya. Tetapi untuk memasarkan hasilnya cukup sulit,” keluhnya.

Vera Ramashinta dari direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian, dalam forum diskusi penguatan hak petani dalam mendorong kemitraaan antara petani-swasta di Dinas pertanian Ngawi 11 September 2019 lalu, menjawab permasalahan tersebut. Vera berjanji akan membantu petani, terkait bagaimana mempromosikan beras organik. “Petani harus memperhatikan keinginan atau tuntutan mutu pasar dan serta kontinuitas pasokan beras organik,” ujarnya memberi saran.

Dalam rangka pengembangan pemasaran yang lebih menguntungkan petani, perlu dikaji peluang dan cara pemasaran di wilayah Kabupaten Ngawi yang efektif dan efisien. Untuk keperluan tersebut Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia (JAKER PO) bersama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan didukung oleh Oxfam Indonesia kemudian melakukan studi/assesment Rantai nilai pasok dari komoditi padi yang menjadi komoditi sektor unggulan di Kabupaten Ngawi.

Studi rantai nilai (value chain) kemudian dirancang dengan melibatkan Gapoktan dan kelompok tani, asosiasi, perusahaan swasta, pedagang, retail, dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan di Kabupaten Ngawi.

Produksi dan Rantai Pasok Komoditas

Berdasarkan data lapangan, rata-rata petani padi organik mengelola luasan 1 hektare lahan dengan sistem tanam satu tahun tiga kali dengan produktivitas 6-7 ton gabah kering panen (GKP) satu musim tanamnya. Hasil panen dijual oleh petani dalam bentuk kering panen kepada Komunitas (dalam studi ini Komunitas Ngawi Organic Center–KNOC). KNOC memiliki beberapa peran antara lain membeli gabah dari petani, proses pasca panen (penjemuran, penyimpanan, penggilingan, sortir, hingga pengemasan), dan menjual beras ke pasar.

Selain membeli lalu menjual, KNOC juga berperan menyediakan agen hayati dan pupuk organik cair kepada petani. KNOC merupakan komunitas atau wadah bagi petani organik di desa Guyung dan sekitarnya. Di Komunitas ini, antara pengurus dan kelompok tani kerap melakukan musyawarah untuk membicarakan masa tanam dan membangun kesepakatan harga jual GKP petani ke komunitas.

Secara menyeluruh aktor-aktor yang terlibat dalam rantai pasok padi organik di Kabupaten Ngawi antara lain: Petani, Pengolah (KNOC/KT Rukun Jaya), Pengecer (Toko/Super market/distributor), distributor besar/aksportir, dan konsumen yang di gambarkan dalam diagram berikut:

Panjang rantai pasok beras organik jika dibandingkan dengan beras non organik sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan, keduanya sama-sama melibatkan tujuh pihak. Perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada peran ‘pengolah’. Jika ditelisik lebih dalam, peran pengolah dalam rantai pasok padi organik lebih banyak.

Pada kasus ini contohnya KNOC berperan sebagai penyedia input pertanian seperti bibit, pupuk organik, dan agensia hayati alih-alih hanya berperan sebagai pengumpul dan mengolah gabah menjadi beras saja. Tidak hanya itu peran KNOC dalam rantai pasok juga mendorong sertifikasi organik dan menjaga kondisi tersebut tetap berkelanjut.

Selisih margin keuntungan dari masing-masing aktor rantai pasok komoditas padi organik bervariasi. Selisih harga tertinggi terdapat pada beras packing label KNOC terhadap Gabah Kering Panen petani yang mencapai Rp10 000-Rp13.000/kg. Selisih ini tidak dihitung biaya operasional KNOC dalam pemrosesan dari GKP menjadi beras kemasan. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap/fix cost (mesin, gedung, lantai jemur, sertifikasi organik, dan lain-lain) dan biaya variabel (upah pekerja, bahan bakar, dan lain-lain).

Selisih margin yang tinggi juga ditemukan pada beras packing label yang dijual supermarket/toko retail kepada konsumen dengan selisih sampai dengan Rp3000/kg. Selisih keuntungan ini didapat tanpa harus mengorbankan banyak pengeluaran seperti pelabelan karena supermarket/toko retail sudah membeli beras organik dalam kemasan siap jual, sedangkan biaya yang di tanggung toko retail terletak pada transportasi lokal. Peluang keuntungan yang lebih besar bisa didapatkan oleh KNOC jika beras organik dijual secara curah kepada eksportir karena tanpa harus melakukan pengemasan dan pelabelan serta menyasar konsumen langsung secara online.

Peluang Pengembangan Usaha Padi Organik

Dalam studi ini, KRKP dan JAKER PO menemukan peluang-peluang usaha yang dapat dikembangkan kedepannya dalam rantai komoditas padi organik. Pertama adalah peluang pengembangan benih padi, kebutuhan benih padi organik untuk saat ini KNOC didapatkan dari Balai Besar Penelitian Padi Subang, padahal dapat dikembangkan sendiri oleh kelompok pengembang dalam komunitas KNOC.

Kedua adalah ekspansi pasar melalui pedagang besar/eksportir karena kebutuhan yang mereka inginkan dalam jumlah besar dan harga beli yang ditawarkan cukup tinggi. Ketiga adalah perluasan jaringan toko retail/supermarket baik antar kota satu provinsi atau bahkan nasional. Yang terakhir adalah pembangunan pasar daring/online.

Laporan: Ferri Styabudi
Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *