Mendorong Petani Berdaya Tawar di Hadapan Pasar | Villagerspost.com

Mendorong Petani Berdaya Tawar di Hadapan Pasar

Pertemuan para pihak di kantor Dinas Pertanian Ngawi, dalam upaya mendorong daya tawar petani di hadapan pasar (dok. krkp)

Ngawi, Villagerspost.com – Komunitas petani, masyarakat sipil dan perwakilan pemerintahan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur bersepakat untuk mendorong posisi petani menjadi lebih kuat. Petani harus memiliki posisi tawar yang baik ketika melakukan transaksi jual beli hasil produksi ke sektor swasta seperti tengkulak atau distributor besar. Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan bersama di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, Rabu (11/9).

Parapihak yang terlibat dalam pertemuan ini adalah Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Dinas Sosial, Distributor Beras, Komunitas Petani Organik, Kelompok Petani dan Perwakilan dari organisasi masyarakat sipil yaitu jaringan kerja pertanian organik (JAKER PO). Ngawi memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Dari luas lahan 129.598 ha, 72% berupa lahan sawah, hutan dan perkebunan.

Secara umum di bagian tengah memiliki topografi yang datar dan memiliki kualitas lahan yang subur. Menurut data BPS Jawa Timur (2018) Produksi padi (GKG) kabupaten ngawi sebesar 753.199 ton. Produksi ini merupakan urutan ke tiga terbesar produsen padi di provinsi paling timur pulau jawa ini. Sedangkan Jawa Timur sendiri merupakan produsen padi terbesar nasional.

Potensi yang luar biasa yang ada di kabupaten ini bukan tanpa tantangan, tantangan kedepan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pengurangan kemiskinan pedesaan menjadi hal yang harus ditindak-lanjuti. Fakta mengenai potensi pertanian di Ngawi ini menjadikan alasan penting bagaimana mendorong penurunan kemiskinan pedesaan di kabupaten ini melalui penguatan petani, dimana sebagian besar profesi masyarakat pedesaan di kabupaten ngawi ini adalah petani.

Secara teknis budidaya, setiap tahunnya petani menerima pembinaan dan bantuan saprodi. Anggaran yang dikeluarkan pemerintah pusat dalam saprodi sungguh luar biasa besar. Namun, saprodi ini tentu saja secara serta-merta tidak linier dengan peningkatan penghasilan petani. Hal itu terjadi oleh karena factor harga panen yang sering tidak berpiohak pada petani. Ketika menjelang panen sering kali petani dibuat dilemma.

Petani kerap kali dihadapkan dengan harga panen yang tidak masuk akal. Bulan februari sampai dengan mei 2019 sebagai contoh, pada rentang bulan tersebut dimana sebagian besar petani Ngawi sedang panen raya, namun harga padi (GKP) di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk perbaikan ke depan.

Tantangan lainnya datang pada petani organik. Komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan pertanian yang ramah dengan alam dan rendah emisi serta memproduksi hasil yang sehat menghasilkan tumbuhnya kelompok-kelompok atau komunitas petani organik di ngawi. Sebagai contoh dua kelompok tersebut adalah Komunitas Ngawi Organik Center (KNOC) dan Kelompok Tani Organik Rukun Jaya.

Dua kelompok ini telah bertahun-tahun mengembangkan padi organik sampai menjadi beras siap jual di pasar. Ikhtiar ini banyak mengalami kesuksesan karena meningkatkan penghasilan petani dari lahannya Namun pengembangan budidaya untuk melibatkan banyak petani mengalami kendala. “Banyak petani yang ingin memproduksi padi organik, namun kemampuan pasar yang masih terbatas menjadi penghalang,” ucap Sofi dari Jaker PO dalam pemaparannya.

Sampai saat ini pasar beras organik hasil budidaya petani di Ngawi masih terbatas di pasar lokal Ngawi, Nganjuk dan daerah sekitarnya. Perluasan pasar beras organik menjadi tantangan bagi parapihak untuk semakin melibatkan petani masuk pada budidaya organik. Ikhtiar dalam perluasan ini tentusaja harus dibarengi dengan penguatan kelembagan dari petani itu sendiri.

Pada pertemuan ini Kepala Dinas Pertanian Ngawi Ir. Marsudi MMA menyatakan siap memberikan program bantuan kepada para petani. “Kita sudah menyiapkan program bantuan ke petani, tapi memang kelembagaan petani organik untuk siap menghadapi pasar nasional juga harus disiapkan,” ujarnya. “Selain penguatan kelembagaan, fasilitasi dari parapihak untuk mendekatkan petani dengan pasar yang lebih luas juga diperlukan,” tambahnya.

Pamini, perempuan petani organik dari desa Guyung memberikan sedikit pendapat secara spontan di forum tersebut, terkait sulitnya memasarkan produk hasil pertanian. “Kami petani, kami sudah nanam padi se-apik mungkin, kami berharap didukung pemerintah untuk menjualkan (untuk mendekatkan pada pasar-red),” tegasnya.

Selain itu, Vera Ramashinta dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kemeterian Pertanian mengatakan, pihaknya merasa memiliki kewajiban dan akan mendukung, petani agar memiliki jaminan terhadap pasar produk yang berkualitas. “Dukungan yang dapat diberikan dapat berwujud bantuan alat baik grader maupun color sorter untuk meningkatkan kualitas produk, sehingga mudah diterima di pasar,” ujar Vera.

Hariadi Propantoko dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyampaikan, perlu adanya instrumen kebijakan di tingkat daerah untuk memberikan perlindungan ke petani saat melakukan kerjasama dengan swasta. “Payung kebijakan diperlukan untuk hal itu dan saat ini dalam proses menuju kesana,” tegasnya.

Laporan/Foto: Tim KRKP
Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *