Mengubah Eceng Gondok Jadi Pakan Ikan

Eceng gondok menutupi permukaan air danau Limboto di Gorontalo, Sulawesi (dok. pusluh.kkp.go.id)
Eceng gondok menutupi permukaan air danau Limboto di Gorontalo, Sulawesi (dok. pusluh.kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong pemanfaatan eceng gondok untuk dijadikan bahan baku pakan ikan. Hal ini bisa menjadi terbosan baru dalam memanfaatkan tanaman yang sekama ini lebih sering menjadi gulma atau tanaman pengganggu di ekosistem perairan baik sungai maupun danau.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, bila dikembangkan dengan teknologi canggih, pakan ikan dari eceng gondok dapat mengefisiensikan pakan ikan bagi pembudidaya. “Apabila terus dikembangkan dengan menggunakan aplikasi teknologi pakan yang lain seperti teknologi bioflok dan enzim, saya yakin, efisiensi pakan akan meningkat dan ini akan menguntungkan,” ujar Slamet seperti dikutip kkp.go.id, Kamis (7/1).

Slamet mengatakan, pada waduk-waduk atau danau yang ditumbuhi eceng gondok, pembudidaya jenis Keramba Jaring Apung (KJA) maupun pengelola waduk dapat membantu mengumpulkan eceng gondok, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Dengan pemanfaatan eceng gondok untuk pakan ikan, diharapkan lambat laun permasalahan eceng gondok akan tertangani.

Eceng gondok itu kemudian bisa diolah menjadi tepung untuk campuran pakan ikan. “Ini dapat dikelola secara kelompok sehingga bisa lebih menguntungkan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar,” kata Slamet.

Dia menjelaskan, setelah di buat tepung maka kadar proteinnya hampir sama dengan pakan ikan halus yaitu 12,51%. Dengan kadar yang lebih tinggi dan harga yang lebih ekonomis, memungkinkan pembudidaya meraup laba.

“Saat ini harga dedak di pasaran sekitar Rp3 ribu–4ribu/kg, sementara tepung eceng gondok perkiraan harganya sekitar Rp1.000/kg,” terangnya.

Ke depan, solusi permasalahan gulma enceng gondok ini akan terus dikembangkan dengan mengajak stake holder yang terkait. Seperti Badan Pengelola Waduk, Pabrikan Pakan dan juga Kelompok Pembudidaya. Kemudian UPT perikanan budidaya melakukan pembinaan serta alih teknologi penepungan eceng gondok ini.

“Mengolah gulma menjadi sumber pendapatan merupakan sinergi positif yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan dan menuju perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak KKP melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) meresmikan pabrik mini untuk percontohan produk pakan ikan mandiri di Sukabumi, Jawa Barat. Slamet Soebjakto menjelaskan, selama ini produksi budidaya ikan sebanyak 1,2 ton perhari, maka pabrik mini tersebut dapat menjadi contoh bagi pabrik pakan ikan mandiri lainnya.

“Mini plant ini, juga merupakan tempat percontohan pabrik pakan ikan mandiri. Dan bagi perekayasa, lokasi ini dapat enjadi tempat untuk melakukan perekayasaan terkait formulasi pakan, sehingga menghasilkan pakan ikan mandiri yang efisien dan memanfaatkan bahan baku lokal,” ujarnya.

Selama ini, pakan ikan mandiri yang diproduksi oleh BBPBAT telah memanfaatkan bahan baku lokal seperti tepung ikan, tepung tapioka dan eceng gondok. Ketiga bahan baku tersebut mengandung sekitar 30 persen yang dibutuhkan. Menurut Slamet, harganya pun terbilang ekonomis.

“Pakan ikan mandiri yang diproduksi oleh BBPBAT Sukabumi ini telah memanfaatkan bahan baku lokal seperti tepung ikan, tepung tapioca, dan juga eceng gondok. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Dengan kandungan protein sekitar 30%, sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), dapat dimanfaatkan untuk budidaya lele, nila dan patin. Harganya pun relatif terjangkau, yaitu Rp5.000 per kg,” terangnya.

Lebih lanjut menjelaskan, hasil perekayasaan BBPBAT Sukabumi yang berupa enzim Mina Grow, juga dapat dikombinasikan penggunaannya dalam produksi pakan ikan mandiri ini, sehingga semakin meningkatkan efisensi pakan ikan yang diproduksi dan pada akhirnya mampu meningkatkan produksi.

Dengan adanya mini plant produksi pakan ikan mandiri ini, juga sebagai pendukung Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) yang telah digaungkan sejak tahun 2015. GERPRI bertujuan untuk mendorong kemandirian kelompok masyarakat dalam memproduksi pakan ikan secara mandiri dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“GERPARI tetap menjadi salah satu program unggulan perikanan budidaya. Melalui GERPARI akan terbentuk kelompok-kelompok baru yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan perekonomian daerah dan memanfaatkan sumberdaya alam daerah sebagai bahan baku lokal pakan ikan,” pungkas Slamet. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *