Menjaring Petani Muda Model Pemerintah

Acara peluncuran Duta Petani Muda 2016. Pemerintah juga punya program pencarian petani muda lewat penciptaan wirausahawan muda pertanian (dok. agriprofocus)
Acara peluncuran Duta Petani Muda 2016. Pemerintah juga punya program pencarian petani muda lewat penciptaan wirausahawan muda pertanian (dok. agriprofocus)

Jakarta, Villagerspost.com – Isu semakin menuanya petani dan minimnya minat generasi muda pertanian juga menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga meluncurkan program pencarian petani muda lewat penciptaan “Wirausahawan Muda Pertanian”. Lewat program ini, Kementan ingin menciptakan sumber daya manusia pertanian yang terdidik.

Kepala Bidang Penyelenggaran Pendidikan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian (BPPSDMP) Kementan Siswoyo mengatakan, masalah regenerasi di bidang pertanian memang bukan masalah kecil. “Kita harus bersama-sama membahu menyelesaikan masalah ini,” katanya dalam acara peluncuran “Duta Petani Muda” di Jakarta, Kamis (11/8).

Data Badan Pusat Statistik dimana dalam kurun waktu sepuluh tahun antara 2003 hingga 2013 jumlah rumah tangga tani berkurang sebanyak 5 juta, menurut Siswoyo, menunjukkan turunnya minat generasi muda menjadi petani sehingga tidak ada regenerasi petani. “Wajar orang tak tertarik karena tidak ada manfaat ekonomi. Ini harus kita re-branding, sekarang kita munculkan image petani modern, berdasi dan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan,” tegas Siswoyo.

Karena itulah, Kementan, kata Siswoyo, meluncurkan program pengembangan ‘Wirausawahan Muda Pertanian’. “Kita memang menggerakkan kalangan terdiduk alumni universitas dan juga sekolah menengah pertanian agar mereka mampu mengubah profesi petani menjadi profesi yang membanggakan,” ujarnya.

Program tersebut, akan berlangsung selama tiga tahun lamanya, dibagi dalam beberapa tahapan yang terukur dan terkontrol pelaksanaannya. Tahun pertama adalah tahap penyadaran dan penumbuhan. Dalam tahapan ini, pihak Kementan melakukan sosialisasi, seleksi dan membimbing para kader untuk menyusun rencana bisnis.

“Setelah itu masuk tahap penumbuhan dimana wirausahawan muda pertanian ini mulai melaksanakan rencana bisnis yang disusun dan mendapatkan pendampingan,” urai Siswoyo.

Setelah tahap ini rampung, kemudian di tahun kedua akan dimulai tahap kedua yaitu tahap kemandirian. Dalam tahap ini, para wirausahwan muda pertanian melanjutkan usahanya dan melakukan evaluasi untuk pengembangan usaha. “Di tahap ini ada bimbingan jaminan mutu produk dan pengembangan inovasi usaha,” ujarnya.

Dalam tahap ini, wirausahawan muda pertanian juga dibimbing untuk mengembangkan jejaring usaha dan pemberian penghargaan. Kemudian pada tahap ketiga akan dibentuk tim nasional, dosen pembimbing dan pembekalan dosen pembimbing. Guna memastikan rencana bisnis yang disiapkan bekerja optimal, akan ada tahap kompetisi yang bertujuan mendorong mahasiswa pertanian menjadi agripreneur yang berdayakan dan unggul.

Dalam program ini, Kementan melibatkan tujuh perguruan tinggi yaitu IPB, UGM, Universitas Syahkuala, Universitas Lampung, Universitas Hasanuddin, Universitas Padjajaran dan Universitas Brawijaya. Selain itu ada juga sembilan Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) serta SMK-PP (Sekolah Menengah Kejuruan Pendidikan Pertanian) yang ada di bawah koordinasi BPPSDMP Kementan.

Kementan dalam program ini melibatkan sejumalah 1500 anak muda. Mereka akan dibagi ke dalam 500 kelompok untuk membentuk embrio usaha di bidang pertanian. “Mereka inilah yang diharapkan mampu menjadi job creator pertanian untuk menumbuhkan minat generasi muda terjun ke usaha pertanian,” kata Siswoyo.

“Sudah saatnya dunia pendidikan kita dorong untuk melahirkan lulusan yang siap menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.

Tony Aditya, Duta Petani Muda 2014 menegaskan apresiasinya atas program-program yang diluncurkan berbagai pihak untuk menarik minat generasi muda terjun ke bisnis pertanian. “Dulu kakek-nenek saya bertani, bekerja keras supaya anak-anaknya bisa masuk universitas, jadi PNS dan bekerja di ruangan nyaman, bersih dan bergengsi. Tetapi ini kemudian mengorbankan lahan pertanian, dijual dan akhirnya menyisakan pertanian yang skill-nya itu-itu saja,” kata Tony.

Tekanan berat dunia pertanian juga semakin menjadi karena adanya perkembangan teknologi yang membuat petani dan pertanian semakin ketinggalan. “Kita memang berada di era yang serba cepat sekarang, kendalanya petani kita tidak mengenal teknologi, anak-anaknya yang bersekolah dan kenal teknologi malah tidak jadi petani,” keluh Tony.

Karena itu dengan adanya program-program semacam ini, diharapkan baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat bisa bekerjasama dengan anak-anak muda. “Ke depan diharapkan pertanian mengenal teknologi, petani punya mindset bisnis melihat peluang dan pertanian bisa mendatangkan benefit secara ekonomi,” ujarnya.

Dari situlah, kata Tony, nantinya kaum muda bisa tumbuh minatnya untuk terjun ke bidang pertanian. Pebisnis pertanian muda yang sukses mengekspor sayuran organik ke Jepang ini juga mengatakan, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi juga nantinya bisa dimanfaatkan untuk memutus rantai pemasaran hasil pertanian yang terlalu panjang. “Banyak rantai penjulan yang harus dilewati petani hingga ke rantai akhir, ini yang membuat harga menjadi mahal sementara petani tak menikmati keuntungan dari tingginya harga,” ujarnya.

Ke depan, persoalan seperti ini harus pula diselesaikan bersama sehingga masa depan pertanian menjadi cerah. Tony sendiri berharap setelah nanti terpilih Duta Petani Muda 2016, adalah para petani muda tetap mendapatkan bimbingan seperti merencanakan keuangan, memasarkan produk, dan menciptakan pasar sendiri. “Yang paling penting memang bisa memasarkan secara mandiri,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *