Menyulap Daun Pisang Menjadi Wadah Persemaian | Villagerspost.com

Menyulap Daun Pisang Menjadi Wadah Persemaian

Para petani Desa Mbatapuhu memanfaatkan daun pisang untuk wadah persemaian (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Pohon pisang, termasuk tanaman yang bisa tumbuh dengan baik di Sumba yang beriklim panas. Selama ini, pisang hanya sebatas dimanfaatkan buahnya saja. Daunnya kerap kali hanya dibiarkan begitu saja, mengering, jatuh dan membusuk di tanah. Padahal, ada manfaat lain yang bisa diambil dari daun pisang.

Salah satunya dijadikan wadah persemaian alami untuk menggantikan plastik. Hal ini sudah diterapkan oleh para petani dari desa Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, Sumba Timur. Beberapa waktu lalu, saat Sumba diguyur hujan deras, para petani memanfaatkan waktu mengolah daun pisang menjadi wadah persemaian. “Buat tempat biji semai jadi lumayan banyak berkat hujan turun hehehe,” celetuk seorang ibu sambil melipatkan daun pisang sebagai persiapan persemaian sayuran.

Para petani belajar membuat tempat biji semai dari daun pisang, dibimbing oleh Radio Max Foundation Wangapu. “Heeey…kurang itu, Usi harus selebar tiga jari, inikan buat semai semangka bukan buat sayur, jadi harus agak besar. Begini nih…,” kata seorang ibu berbaju ungu lurik, ke teman di sebelahnya, sambil memberikan contoh.

Dengan menggunakan daun pisang, bibit bisa langsung dipindahkan ke lahan (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Kenapa para petani menggunakan daun pisang sebagai wadah persemaian dan bukan plastik? Alasannya sederhana, daun pisang mudah didapat tidak perlu beli. Kemudian, daun pisang juga praktis, begitu tanam langsung dipindah ke lahan kebun, akar tidak terganggu sebab tidak harus dibuka.

Berbeda dengan plastik atau polybag saat tanam harus dibuka. Plastik juga tidak mudah membusuk sehingga mencemari lingkungan, serta untuk memakai polybag, petani harus membeli pula yang berarti menambah ongkos tanam.

Karena itu mereka memilih memanfaatkan potensi alam yang ada. “Ini sama halnya dengan menghargai ciptaan Sang Penguasa Semesta. Apakah masih berpikiran pakai plastik?” ujar para petani.

Laporan/Foto: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *