Menyulap Lahan Bera Jadi Sentra Semangka Ala Desa Nunuk

Panen semangka di lahan Bera, di Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat (villagerspost.com/runatin)

Indramayu, Villagerspost.com – Petani di Indramayu pada umumnya membiarkan lahan garapannya tidak ditanami apapun ketika musim kemarau. Lahan Bera, istilahnya. Nah lahan Bera ini akan dibiarkan kosong hingga musim hujan tiba untuk ditanami padi kembali.

Cara ini berbeda dengan petani di Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, yang memanfaatkan lahan Bera, untuk menanam semangka. Mengapa lahan kering ini ditanami semangka dan bukan tanaman lain?

“Semangka sangat cocok bila ditanam di musim kemarau dengan cuaca yang begitu panas. Lagipula, hasil panennya akan menarin banyak konsumen, untuk mengkonsumsi buah yang kandungan airnya banyak,” kata Rasidi alias Totong (50), petani asal Desa Nunuk, kepada Villagerspost.com, Rabu (6/11).

Rasidi alias Totong (50), bersama kawannya menyiram tanaman semangka (villagerspost.com/runatin)

Totong memanfaatkan lahan Bera miliknya seluas 300 bata atau setara 4200 meter persegi. Menurut Totong, secara ekonomi, menanam semangka di musim kemarau juga untungnya lebih besar daripada menanam padi atau palawija. “Entah siapa yang memulai pemanfaatan lahan Bera untuk menanam semangka, tetapi setahu saya, dari saya kecil tradisi ini sudah ada,” ujarnya.

Semangka hasil panen, ditimbang oleh pengepul, pemasarannya hingga mencapai Jawa Tengah dan sekitarnya (villagerspost.com/runatin)

Karena itu tak heran, jika setiap musim kemarau, Desa Nunuk menjadi sentra buah semangka yang mampu memasok buah tersebut ke beberapa wilayah di pulau Jawa. Di musim kemarau, sekira 30 persen dari 397 hektare luas lahan sawah di Desa Nunuk ditanami buah semangka.

Satu musim tanam bisa berlangsung selama 4 bulan. Dan setiap musim tanam itu, petani bisa melakukan dua kali panen semangka. Umur tanam semangka biasanya antara 65-70 hari.

Totong mengaku, dari 4200 meter persegi lahan yang diolahnya dia bisa menghasilkan 5,4 ton semangka. Dengan harga jual di angka Rp3400 per kilogram, setiap kali panen, Totong bisa mendapatkan uang sebesar Rp18 juta setiap panen, belum dipotong ongkos produksi dan panen. “Kalau tanam satu hektare, hasilnya lebih bagus lagi, bisa mendapat sampai 21 juta rupiah,” tegas Totong.

Laporan: Runatin, petani muda pemulia benih dari Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *