Merek Ternama Ketahuan Membeli Minyak Sawit Terkait Karhutla

Kebakaran hutan akibat pembukaan lahan gambut untuk perkebunan sawit di Riau (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter & Gamble (P&G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar ketahuan membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api di Indonesia tahun ini. Hal itu terungkap dalam analisis terbaru yang dirilis oleh Greenpeace Internasional baru-baru ini.

Dalam laporan tersebut diungkapkan, perusahaan-perusahaan ternama tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan. “Perusahaan telah menciptakan tampilan yang berkelanjutan dalam hal pemanfaatan serta kelestarian lingkungan hidup. Tetapi kenyataannya sumber bahan baku mereka berasal dari pelanggar terburuk,” kata Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Annisa Rahmawati, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (5/11).

“Perusahaan-perusahaan yang mendapat keuntungan finansial dari kebakaran hutan harus dimintai pertanggungjawaban atas kekejaman lingkungan ini dan dampak buruknya terhadap kesehatan,” tambahnya.

Dari laporan tersebut terungkap, Unilever, Mondelez, Nestle, dan P&G membeli bahan dari kelompok produsen minyak kelapa sawit yang lahannya memiliki jumlah titik panas api terbanyak, hampir mencapai 10.000 titik panas api. Pedagang minyak sawit Wilmar, Cargill, Musim Mas, dan Golden-Agri Resources (GAR) memiliki kaitan atas kebakaran tahun ini di Indonesia, mereka mensuplai lebih dari tiga perempat minyak sawit global.

Analisis terbaru lainnya juga menunjukkan tumpang tindih yang luas pada perusahaan-perusahaan ini dengan kelompok-kelompok produsen minyak kelapa sawit dengan area terbakar terbesar pada 2015-2018. Menurut laporan, lebih dari 900.000 orang di Indonesia telah menderita infeksi pernafasan atas (ISPA) yang disebabkan kabut asap dari kebakaran tahun ini, dan hampir 10 juta anak-anak berisiko mengalami kerusakan fisik dan kognitif seumur hidup akibat polusi udara.

Antara 1 Januari hingga 22 Oktober 2019, kebakaran mengakibatkan sekitar 465 megaton CO2 terlepas ke udara yang nilainya hampir mencapai total emisi gas rumah kaca Inggris skala per-tahun. Temuan baru datang ketika para perusahaan berkumpul pada acara Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Thailand.

Asosiasi ini menyatakan minyak kelapa sawit anggotanya memenuhi standar berkelanjutan, salah satu kriterianya adalah “tanpa bakar”. Namun lebih dari dua pertiga dari kelompok produsen yang terkait dengan kebakaran berulang dan semua perusahaan yang dianalisis oleh Greenpeace adalah anggota RSPO, beberapa bahkan anggota dewan pengelolanya.

Perusahaan-perusahaan global telah membuat komitmen untuk menghentikan deforestasi pada tahun 2020, tetapi sebaliknya kehilangan hutan justru semakin cepat terjadi, dan sawit telah menjadi komoditas pendorong deforestasi tertinggi. Greenpeace baru-baru ini mundur dari sebuah proses kerjasama dengan Unilever, Mondelez dan Wilmar dalam hal pembuatan platform monitoring minyak sawitnya, khususnya di Indonesia, karena mereka gagal berulang kali mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencapai target nol deforestasi.

Pemerintah di seluruh dunia belum mengambil tindakan serius terhadap perusahaan atau perusahaan barang konsumsi yang terkait dengan kebakaran. “Greenpeace menyerukan agar perusahaan yang bertanggung jawab dan yang telah mengambil keuntungan dari kebakaran ini, dituntut pertanggungjawabannya,” tegas Annisa.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *