Merkutic, Antiseptic Dari Serasah Pinus, Karya BP2LHK Aek Nauli

Gajah di kawasan konservasi gajah Aek Nauli (dok. forda-mof.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aek Nauli sedang mengembangkan produk hasil distilasi dari serasah pinus merkusii yang ada di areal Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli sebagai produk anti kuman dan serangga yang diberi merek “Merkutic”. Merkutic merupakan produk ektstrak serasah Pinus merkusii hasil destilasi yang dimanfaatkan sebagai pembasmi hama seperti rayap.

Peneliti Balitbang LHK Aek Nauli Hadi Saputra, S.Hut., mengatakan, pengamatan awal menunjukkan koloni rayap dapat dimusnahkan dengan menggunakan ekstrak serasah daun pinus. Ekstrak tersebut juga mematikan daun hijau pada gulma dan rumput-rumputan.

Selain itu, pengujian terhadap pacet (Leeches) menunjukkan ekstrak daun pinus mampu menghalau serangan pacet dan dengan pemberian kontak langsung akan mematikan pacet. “Saat ini produk Merkutic masih dalam tahap pengembangan untuk diproses lebih lanjut melalui pengujian lab dan penelitian kandungan esensial dari ekstrak serasah daun pinus, serta proses pembuatan kemasannya yang bagus,” kata Hadi, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (23/8).

Seperti diketahui, berbagai sumber menyebutkan, salah satu alternatif bahan baku alami yang dapat digunakan sebagai anti kuman atau anti serangga adalah tanaman Pinus merkusii yang merupakan jenis asli Indonesia. Helaian daun Pinus merkusii mengandung banyak molekul terpentine, allelopati, lignin dan lainnya. Dalam kandungan tersebut, terdapat manfaat yang besar.

Dari literatur beberapa penelitian sebelumnya diketahui bahwa kemampuan ekstrak serasah daun pinus sebagai bioherbisida untuk tanaman gulma. Selain itu kandungan terpentine (berupa golongan terpen dan terpenoid) mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Kandungan lignin pada daun pinus menjadi faktor penghambat terjadinya dekomposisi serasah sehingga daun pinus sulit untuk terurai.

Hal inilah yang melatarbelakangi Balitbang LHK Aek Nauli meneliti dan mengembangkannya menjadi produk. Juga mengingat ketersediaan bahan baku serasah Pinus merkusii sangat banyak di lantai hutan Indonesia yang didominasi oleh tegakan Pinus merkusii.

Beberapa literatur menunjukkan luasan tegakan pinus di Aceh mencapai 70.000 hektare dan total areal Kawasan tegakan pinus di Sumatera Bagian Utara seperti Aceh dan Tapanuli di perkiran mencapai 130.000 hektare. Namun, hasil analisa menggunakan Species Distribution Model (SDM) sebaran potensial untuk jenis Pinus merkusii mencapai luasan 1,87 juta hektare yang tersebar di tiga sebaran alami yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Jambi.

“Berdasarkan pengamatan jumlah seresah yang dilakukan di Arboretum Aek Nauli, 1 pohon pinus mampu menghasilkan sersah sebanyak 3,6 kg per tahun. Dengan asumsi terdapat 300 pohon pinus pada 1 hektare kawasan hutan maka dapat diketahui bahwa jumlah serasah yang dihasilkan dari pulau Sumatera dalam setahun adalah 2,02 juta ton serasah daun pinus,” kata Hadi.

“Pada tegakan yang lebih rapat seperti di hutan alam jumlah pohon pinus dalam satu hektar akan lebih banyak dengan jumlah serasah yang banyak pula. Dalam salah satu literatur menyebutkan untuk 1 hektare hutan pinus dengan kerapatan tinggi, jumlah serasah daun dapat mencapai 5,5 ton/tahun,” tambahnya.

Kepala BP2LHK Aek Nauli Pratiara, S.Hut, M.Si, menyampaikan, dengan keberadaan sumber bahan baku yang melimpah di hutan, peluang produk Merkutic sebagai bahan baku antiseptic dapat direalisasikan. Kebutuhan akan produk yang alami dan ramah lingkungan mendorong Merkutic dapat bersaing dengan produk antiseptic lainnya yang umumnya berasal dari bahan sintetis.

“Merkutic diambil dari kata Merkusii (Pinus Merkusii) yang juga bisa berarti “sederhana”. Jadi bagaimana kita bisa memanfaatkan serasah pinus yang selama ini menjadi sampah di lantai hutan, maka disitulah letak kesederhanaannya, namun walaupun begitu, produk yang dihasilkan adalah produk yang ramah lingkungan, bermanfaat dan bernilai ekonomi,” kata Pratiara.

“Balai Litbang LHK Aek Nauli terus mendorong penelitinya agar pengembangan ekstrak serasah daun pinus yang merupakan bahan dasar Merkutic terus dilakukan untuk memperoleh produk turunan lain yang lebih bermanfaat dan juga bernilai ekonomi tinggi,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *