Momen Hari Pers Nasional, Petani Sumatera Barat Berlatih Jadi Jurnalis Warga

Para petani se-Sumatera Barat melaksanakan pelatihan jurnalisme warga bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (dok. villagerspost.com)

Padang, Villagerspost.com – Yuhesmawati tampak bersemangat menceritakan berbagai kejadian menarik yang terjadi di desanya, Nagari Lubuk Malako, Kabupaten Solok Selatan. Para petani yang bertanam padi di kabupaten itu, saat ini tengah bingung lantaran bantuan benih yang diberikan pemerintah melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) mendadak tidak diberikan lagi.

Usut punya usut, ternyata, bantuan ditarik karena para petani di sana menolak melaksanakan instruksi PPL untuk menanam padi dengan teknik yang sedang trend di Jawa yaitu Jajar Legowo. Petani, kata Yuhesmawati, menolak karena ada alasan yang masuk akal.

“Menurut kami, cara tanam seperti itu tidak efektif, kami untuk menanam benih yang sudah siap tanam saja perlu waktu lama membuat menyusun tanaman agar sesuai dengan aturan tanam jajar legowo. Padahal dari segi hasil sama saja,” katanya.

Isu menarik ini membuat Yuheswati bersemangat untuk bisa menuliskannya dalam bentuk artikel yang menarik yang bisa di muat di media massa. “Ini saya mau mencoba untuk menuliskannya, makanya saya antusian untuk bisa belajar bagaimana cara meliput masalah seperti ini dan menuangkan dalam tulisan secara berimbang,” tambahnya.

Yuheswati adalah satu dari sekitar 25 petani se-Sumatera Barat yang melakukan pelatihan jurnalisme warga yang dilaksanakan oleh para pegiat jurnalisme warga dan pegiat pertanian. Pelatihan tersebut dilaksanakan di Padang, tanggal 6-7 Februari lalu bertepatan dengan akan dilaksanakannya puncak acara peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari yang kebetulan dipusatkan di kota Padang.

Dalam pelatihan itu, para petani yang sebagiannya adalah kaum perempuan tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan. Para petani mula-mula mendapatkan materi terkait pertanian dan dunia digital. Dalam kesempatan itu para petani mendapatkan pemahaman terkait betapa pentingnya bagi petani untuk dapat memproduksi konten yang berbobot dan diproduksi melalui standar-standar jurnalisme yang baik untuk disebarkan melalui berbagai media baik berupa blog, situs yang memuat karya jurnalis warga, maupun media sosial.

Materi berikutnya adalah terkait dasar-dasar jurnalisme dan dasar-dasar jurnalisme warga. Lewat materi ini, para petani diberi pemahaman untuk dapat membentuk kerangka berpikir seperti seorang jurnalis agar mampu mengendus isu yang memiliki nilai berita dan bagaimana cara-cara melakukan perencanaan peliputan, melakukan wawancara, mengumpulkan data dan melakukan verifikasi fakta. Di bagian akhir para petani belajar mengenai dasar-dasar menulis berita dan berlatih membuat perencanaan peliputan.

Ketika masuk ke sesi tanya jawab dan diskusi, mereka tampak antusias untuk menggali lebih dalam terkait isu-isu pertanian. Salmi Hidayati, rekan se-nagari Yuheswati mengungkapkan kepeduliannya kepada pekebun karet yang mulai meninggalkan budidaya karet dan beralih ke sawit. “Harga karet jatuh, hanya 3000-4000 rupiah saja per kilogram, jai banyak yang beralih ke perkebunan sawit, penghasilan sebulan bisa sampai 10 juta rupiah,” katanya.

Sayangnya, peralihan ke sawit ini membuat petani berani merambah ke area hutan lindung untuk menambah luas lahan. “Saya memang ingin sekali menulis cerita ini, tujuannya agar pemerintah memperhatikan petani karet, berupaya meningkatkan harga karet agar petani tak beralih ke sawit yang bisa menimbulkan dampak lingkungan,” katanya.

Para petani sendiri mengaku senang dengan adanya pelatihan ini. Mereka berharap dengan mampu menulis dan menjadi jurnalis warga, mereka bisa mengabarkan berbagai sisi kehidupan petani kepada publik agar ada kepedulian pada nasib petani.

Amelia Eka Putri, dari kelompok tani Bayang Bungo Indah, Nagari Koto Berapak mengaku senang karena dengan mampu menulis dia bisa mengabarkan produk-produk hasil karya kelompok taninya kepada khalayak luas. “Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana cara mencari dan mengolah informasi yang menarik, cara mengirim berita lewat internet dan tentunya membuat berita tentang perkembangan produk sirup pala yang kami produksi untuk bisa dikabarkan kepada khalayak luas,” katanya dengan nada antusias.

“Bagi saya mengikuti pelatihan jurnalistik warga selain menambah wawasan juga dapat mengetahui perkembangan iptek, juga mendapatkan pengetahuan bagaimana cara memublikasikan informasi dan memahami jenis dan sumber informasi apa saja yang dapat kita sebarkan. Harapan saya ke depannya dapat memperlihatkan icon nagari saya kepada dunia lewat media massa online,” kata Layalin Pajrina, petani dari Barung-Barung Balantai Selatan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *