Musim Kemarau Basah, Pertanian Ekologis Jawabannya

Serangan hama wereng yang melanda wilayah pertanian di Subang, Jawa Barat (villagerspost.com/deni nurhadiansyah)
Serangan hama wereng yang melanda wilayah pertanian di Subang, Jawa Barat (villagerspost.com/deni nurhadiansyah)

Bogor, Villagerspost.com – Pakar penyakit tanaman dari Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Hermanu Triwidodo meminta para petani waspada mengadapi musim kemarau basah. Musim yang disebutkan sebagai Je windu Sengara itu, kata Hermanu akan berlangsung antara Oktober 2016-September 2017.

“Musim ini ditandai dengan adanya tekanan yang besar terkait kelimpahan air dan kemarau basah,” katanya kepada Villagespost.com, Sabtu (24/9).

Dampak yang dirasakan petani, menurut Hermanu adalah, adanya gangguan pada pola tanam, ancaman serangan hama dan penyakit tanaman yang parah seperti tikus, penggerek batang, blas, wereng, dan virus pada tanaman padi. “Keberhasilan usaha tani tergantung pada pemilihan komoditas dan cara pengelolaan yang sesuai kondisi iklim setempat yang berbeda antar daera atau pertanian selaras alam,” ujar Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara itu.

Dia menegaskan, pada musim seperti ini, penyeragaman proses produksi pada skala nasional akan menyebabkan kegagalan panen secara meluas. Hermanu menyerukan agar para petani melakukan beberapa langkah untuk mengatasi musim Je windu Sengara ini.

Pertama, memperteguh tekad dalam praktik budidaya pertanian ekologis atau ramah lingkungan yang selama ini telah dilakukan. Kedua, percaya pada pengalaman lapangan dan menolak praktik-praktik atau rekomendasi dari pihak manapun yang akan menggeser pada cara-cara lain.

“Petani jangan tergiur oleh janji-janji dan bantuan-bantuan yang memperlemah kedaulatan petani,” tegas Hermanu.

Ketiga, menularkan pengetahuan dan pengalaman ke petani sekitarnya dengan berbagai ilmu, benih, pupuk organik dan agen hayati. Keempat menyimpan hasil panen tanaman pokok untuk kebutuhan keluarga dan baru menjual sisanya.

Hermanu juga mengingatkan pada tahun Je windu Sengara ini, suasana alam akan mempengaruhi perilaku manusia. “Manusia cenderung memikirkan kebutuhannya sendiri atau kelompoknya dan lebih tega terhadap sesama,” terangnya.

Penguasa, kata dia, cenderung menindas dan melupakan kepentingan rakyat kecil. “Rakyat akan sering menerima tekanan, pemaksaan untuk ambisi-ambisi dan target pencapaian dari penguasa yang alpa,” tegasnya.

Karena itu, kata Hermanu, petani diimbau untuk: Pertama, tidak menggunakan perlawanan secara fisik dan kekerasan karena akan semakin memperparah keadaan. Kedua, mengutamakan musyawarah mufakat dalam hal-hal yang baik dan benar, damai.

“Terakhir bekerja bergotong royong sesama rakyat dalam mengatasi permasalahan dan tidak menggantungkan diri pada bantuan dan fasilitas negara,” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait Gerakan Petani Nusantara >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *