Narasi Tumbuh: Memotret Kerumitan Jakarta Sebagai Karya Seni

Brosur pameran foto Narasi Tumbuh, karya fotografer Tubagus Rachmat (villagerspost.com/hesti albastari)

Jakarta, Villagerspost.com – Syamsudin Ilyas adalah jurnalis yang tumbuh di Kampung Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. “Dulu, banyak ruang bermain bagi anak,” kenangnya. “Sekarang, mau berenang saja, harus bayar pergi ke Ancol,” dalam sesi diskusi pada acara pameran foto bertajuk “Pameran Narasi Tumbuh” karya fotografer Tubagus Rachmat, di Rujak Center for Urban Studies, Cikini, Jakarta, Kamis (4/7).

Narasi Tumbuh merupakan pameran foto hasil dokumentasi Bagus–panggilan akrab Tubagus Rachmat– tentang perjuangan warga kampung kota Jakarta atas hak-hak dasar mereka untuk tumbuh dan hidup layak serta bermartabat. Pameran ini dikuratori oleh Yusni Aziz dan Yoppy Pieter. Dalam diskusi tersebut, selain Ilyas dan Bagus, hadir pula sastrawan Afrizal Malna dan Eni Rochayati dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JMRK).

Kembali ke kisah Ilyas, prihatin dengan keadaan tersebut, ia pun berbuat sesuatu bagi anak-anak di kampungnya. Alih-alih disebut kampung miskin, ia mengajak anak-anak kampung menyebut kampungnya sebagai kampung “eksotis”. Ilyas juga membuat kelas jurnalis cilik sejak tahun 2018. Kelas ini sudah berlangsung dua angkatan, dengan setiap angkatan mengambil waktu empat bulan.

Pada bulan pertama, anak-anak mempelajari teknik dasar penulisan 5W+1H. Kemudian mereka diajari teknik dasar jurnalistik. Melakukan praktik yang diawali dengan kamera kardus, anak-anak itu bermain, belajar, dan membingkai imaji. Barulah pada bulan keempat mereka diajari untuk menggunakan kamera digital.

Awalnya orang tua bertanya, “mengapa diajari dunia digital, bukan diajari mengaji?” Ilyas mengatakan, indikator keberhasilannya tidak muluk, saat masyarakat sekitar mulai merasa terlibat dalam kelas jurnalistik itu, disitulah ia merasa berhasil.

Dalam diskusi tersebut, Tubagus Rachmat, memaparkan pengalamannya mendampingi warga miskin perkotaan. Awal keterlibatannya adalah mendampingi Kampung Miskin Palembang dengan aktif di Urban Poor Consortium (UPC) sejak tahun 2004. Tahun 2010, bertepatan dengan terjadinya bencana lumpur di Porong, ia juga membantu warga terdampak bencana di sana. Sejak itu ia turut membantu dokumentasi khususnya terkait multimedia dan kini mendampingi warga di Muara Baru, Jakarta Utara..

“Hampir di setiap pelosok kota, kita dapat menemukan hal yang unik yang dapat bermakna seni. Bagi warga, membuat kandang burung dekat mesin ATM, atau membuat bangunan dua tingkat di kolong jalan tol adalah hal biasa. Akan tetapi, saat datang seorang seniman yang datang, ia memandang produk warga tersebut adalah karya seni,” kata Bagus.

Bagi Bagus, Jakarta dengan segala kerumitannya, adalah karya seni. Termasuk sifat gotong royong warga miskin kota. Dia punya pengalaman mengharukan, ketika nyaris tidak dapat pulang ke Palembang saat lebaran lantaran tak punya uang. Tak dinyana, di saat seperti itu, warga dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), justru saweran agar dia bisa mudik. “Padahal saya tahu, untuk diri sendiri pun, mereka tidak punya,” katanya.

Karya seni warga miskin kota juga tampak dari perlawanan mereka atas stigma malas dan suka membuang sampah sembarangan. “Datanglah menginap di kampung, Anda akan menemukan bahwa mereka bekerja sangat maksimal,” tegasnya.

Dia merujuk contoh di tiga kampung yang berusaha melawan stigma malas dan suka buang sampah di kali yaitu di Kampung Krapu, Tongkol, dan Lodan. “Mereka menjaga sungai, mengolah sampah, dan bahkan berani memotong rumahnya untuk jalan inspeksi,” jelasnya.

Sementara itu, Afrizal Malna mengatakan, kemiskinan Jakarta berlangsung dalam sejarah yang panjang sejak zaman Belanda. Namun yang lebih mengenaskan, warga miskin kota tidak pernah dilibatkan sebagai subyek, tapi lebih sebagai obyek yang keberadaannya bisa diganti-ganti dan digusur.

Afrizal mengenali kemiskinan sebagai aktivisme. Ia menyadari bahwa seni dapat diciptakan dari kolaborasi yang dilakukan oleh warga kampung, bukan sekadar ide yang dihasilkan oleh seorang seniman. “Kemiskinan merupakan alternatif, masyarakat membutuhkan sebuah kota yang manusiawi, kota yang tidak curiga, dan dapat menjalani hidup seperti yang diinginkan oleh warganya,” tegas Afrizal.

Eni Rochayati mengatakan, warga kampung yang merupakan bagian dari JRMK sejatinya memang seniman. “Kami adalah seniman. Kami tahu bagaimana menyuarakan, berteriak memperjuangkan hak, dan memohon agar hak kami terdengar. Kami menyuarakan bagaimana orang miskin terlanggar haknya untuk mendapatkan tempat tinggal,” terangnya. Tetapi
Eni juga berharap kemiskinan tidak hanya menjadi obyek pameran.

Semua pihak diharapkan dapat duduk bersama untuk membuat rencana ke depan dan warga kampung dapat mempertahankan apa yang sudah menjadi haknya. JRMK adalah organisasi rakyat yang memiliki visi “Kota untuk Bersama”, dimana terdiri dari warga yang cerdas, lestari, dan sadar akan haknya.

Laporan/Foto: Hesti Al Bastari

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *