Ngarot, Tradisi Mewariskan Nilai Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Nunuk | Villagerspost.com

Ngarot, Tradisi Mewariskan Nilai Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Nunuk

Pemberian cangkul, benih, dan dedaunan untuk membuat pestisida nabati kepada kaum muda Desa Nunuk, membuka acara tradisi Ngarot (villagerspost.com/runatin)

Indramayu, Villagerspost.com – Terkisah, di masa sekitar tahun 1686, Canggara Wirena, Kuwu (kepala desa) sebuah kawasan yang kini bernama Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat, menggelar sebuah upacara sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah. Bedanya, upacara syukuran ini, tidak dilakukan usai panen, melainkan di awal musim tanam berikutnya, dengan harapan, hasil panen berikut sama melimpahnya dengan panen yang lalu.

Dalam kisah tradisional masyarakat Desa Lelea di masa itu, tersebutlah seorang tetua kampung yang bernama Ki Buyut Kapol yang dianggap berjasa membuka lahan persawahan, sekaligus mengajarkan masyarakat bertani di desa tersebut. Ki Buyut Kapol, rela memberikan sebidang sawah untuk digunakan para petani berlatih cara mengolah lahan budidaya padi yang baik yang mampu memberikan hasil berlimpah.

Para muda mudi Desa Nunuk yang terlibat tradisi Ngarot diharapkan mewarisi nilai-nilai luhur tradisi pertanian termasuk pertanian ramah lingkungan (villagerspost.com/runatin)

Ajaran Ki Buyut Kapol ini, kemudian diadopsi oleh masyarakat desa sekitar Desa Lelea, termasuk desa Nunuk. Kembali ke Canggara Wirena, sebagai ungkapan terimakasih atas jasa Ki Buyut Kapol, sang kepala desa kemudian membuat sebuah upacara bernama “Ngarot”, sekaligus ungkapan syukur atas keberhasilan panen musim lalu dan harapan agar panen ke depan juga sama melimpahnya.

Nah, tradisi Ngarot ini juga akhirnya diadopsi oleh masyarakat di sekitar Desa Lelea, termasuk Desa Nunuk. Membangkitkan kembali tradisi leluhur tersebut, pada Sabtu (4/1), masyarakat Desa Nunuk menggelar kembali tradisi Ngarot.

Seperti apa upacaranya? Acara yang dilaksanakan setiap tahun menjelang musim tanam ini, adalah acara syukuran yang dilakukan oleh muda mudi yang masih bujang dan perawan. Sebagai tradisi masyarakat petani, Ngarot juga berisi kegiatan yang tidak terlepas dari pertanian.

Para muda-mudi lajang dan perawan ini harus melakukan kerja bakti atau dalam bahasa setempat disebut jurugan. Mereka bekerja bersama-sama membenahi jalan atau saluran irigasi yang menuju ke sawah sebagai bentuk kepedulian pemuda dan pemudi terhadap pertanian di desanya.

Syukuran usai melakukan kerja bakti membersihkan saluran irigasi dan rangkaian tradisi Ngarot lainnya (villagerspost.com/runatin)

Dalam pembukaan upacara Ngarot ini, secara simbolis pemerintah desa juga memberikan benih, baik benih padi dan benih palawija, pupuk, dedaunan yang bisa diramu menjadi pestisida nabati, serta alat-alat pertanian kepada pemuda-dan pemudi. Hal ini dilaksanakan sebagai imbauan pemerintah desa supaya para pemuda dan pemudi senang bertani dan memberitahukan bahwa awal musim tanam telah dimulai.

Terkait diberikannya dedaunan yang bisa diolah menjadi pestisida alami, juga menjadi lambang agar pemuda-pemudi mewarisi tradisi bertani berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Laporan/Foto: Runatin, petani muda pemulia benih asal Desa Nunuk, jurnalis warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *