Obrolan Bahari: Membangun Indonesia Dari Pesisir

Nelayan melaut di tengah cuaca ekstrem (dok. kiara)

Semarang, Villagerspost.com – DPD Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang menggelar gelar talkshow Obrolan Bahari dengan tema “Membangun Indonesia dari Pesisir”, Rabu (26/12). Pakar Antropologi Maritim Dedi S Adhuri menjadi narasumber tunggal dalam kegiatan tersebut. Hadir dalam kegiatan para akademisi perguruan tinggi yang ada di Kota Semarang serta para aktivis sosial lingkungan Kota Semarang.

Dalam pemaparannya, Dedi menyoroti tentang kesejahteraan masyarakat pesisir terutama nelayan kecil, yang sampai sekarang dipandang memiliki masalah sosial seperti kemiskinan, pendidikan dan lainnya. Baginya, hal ini dikarenakan nelayan masih dipandang sebagai objek ketimbang subjek dari program pembangunan.

“Nelayan yang seharusnya dijadikan subyek, sampai sekarang masih dijadikan obyek dalam program pembangunan. Padahal sumberdaya nelayan itu besar, hasil tangkapan mereka pun banyak,” ujar Dedi.

Pria yang sehari-har aktif sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini mengatakan, kegiatan mencari ikan di laut menyimpan ancaman bahaya yang besar, sedangkan kemampuan manusia menghadapi ancaman itu sangat terbatas. Tetapi nelayan tetap berani hadir disana, bahkan kehadiran nelayan di laut itu lebih banyak ketimbang TNI AL atau pun polisi perairan.

Kapal nelayan lebih banyak ketimbang armada kapal TNI AL, kehadiran nelayan di laut bisa dijadikan mata aparat dalam menjaga keamanan laut. “Potensi masyarakat pesisir itu besar, misalnya lewat masyarakat adat atau kearifan lokal masyarakat pesisir kita bisa menjadikannya sebagai penjagaan terhadap ekosistem pesisir,” jelas Dedi

Dedi, mencontohkan, masyarakat Aceh mengenal Panglima Laut. Di dalam peraturannya ada muatan keadilan yang bahkan di peraturan modern tidak ada. Dan banyak sekali daerah-daerah pesisir yang memiliki kearifan lokal. “Kita harus menciptakan narasi soal nelayan yang berbeda, nelayan dan masyarakat pesisir harus dijadikan subyek dalam setiap program atau kebijakan,” tegas Dedi.

Selain kegiatan perikanan tangkap, lanjut Dedi, sektor budidaya perikanan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun yang harus ditekankan adalah masyarakat harus dilibatkan dalam perumusan program.

“Selain ditempatkan sebagai subyek, nelayan harus berkelompok agar memiliki bargaining yang baik. Misalnya dengan membuat koperasi atau kelompok bersama, gali potensi yang ada di masyarakat pesisir,” jelas Dedi. “Mari belajar sama-sama, saya senang berdiskusi dengan teman-teman seperti ini,” ajak Dedi.

Sementara itu, Ketua KNTI Kota Semarang Slamet Ary Nugroho mengatakan, saat ini KNTI di Semarang sedang menyatukan nelayan dengan menghadirkan koperasi di Kampung Tambak Lorok. “Kampung Tambak Lorok merupakan perkampungan nelayan terbesar di Kota Semarang, nelayannya banyak namun sekarang ini mereka masih berkelompok-kelompok kecil,” ujarnya.

“Dengan hadirnya koperasi, kami berharap dapat menyatukan kelompok-kelompok kecil tersebut agar persatuan nelayan terbentuk dan kesejahteraan nelayan membaik,” pungkas Slamet.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *