Optimalkan Target Produksi, Kementan Bina 1700 Pengusaha Penggilingan Padi | Villagerspost.com

Optimalkan Target Produksi, Kementan Bina 1700 Pengusaha Penggilingan Padi

Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)

Petani memanen padi di sawah (temanggung-kab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Demi mengoptimalkan target produksi padi, Kementerian Pertanian membina sejumlah 1700 pengusaha agroindustri khususnya pengusaha penggilingan padi. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHH) Kementan Yusni Emilia Harahap mengatakan, para pengusaha agroindustri yang mendapatkan bimbingan itu diharapkan mampu mengelola usaha penggilingan padi sehingga dapat berjalan ekeftif dan efisien dan mencapai tujuan dari usaha tersebut di pedesaan.

“Para site manager adalah orang-orang terpilih dan padanya diberikan amanah untuk mengelola bantuan yang diberikan pemerintah yaitu mengelola unit usaha penggilingan padi. Fasilitasi dan Revitalisasi Penggilingan Padi yang diberikan agar dikelola dengan baik, efektif, efisien dan profesional sehingga usaha penggilingan padi dapat tumbuh dan berkembang mempunyai daya saing tinggi sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota gapoktan (gabungan kelompok tani-red),” kata Yusni seperti dikutip situs pertanian.go.id, Selasa (26/5).

Yusni mengatakan, pemerintahan Jokowi-JK melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan swasembada berkelanjutan komoditas padi dan jagung serta swasembada kedelai harus dicapai dalam waktu 3 (tiga tahun). Adapun target produksi padi yang harus dicapai pada tahun 2015 adalah 73,40 juta ton.

Menurut Dirjen PPHP, target produksi padi tersebut tidak akan banyak manfaatnya apabila tidak didukung oleh unit usaha penggilingan padi yang tangguh dan mempunyai daya saing yang tinggi dan pengolahan hasil samping dan limbah menjadi hasil olahan lainnya. Lebih lanjut dijelaskan Yusni, permasalahan di lapangan pada usaha penggilingan padi pada umumnya adalah rendahnya rendemen dan kualitas beras yang dihasilkan.

Selain itu, kata Yusni, pengolahan hasil samping (bekatul) dan limbah (sekam, jerami dan lainnya) dari usaha penggilingan padi belum dikelola secara baik. “Hal ini menjadi salah satu kendala dalam peningkatan daya saing dan nilai tambah beras yang dihasilkan oleh petani kita dan pencapaian target swasembada beras,” ujarnya.

Dalam rangka rangka peningkatan daya saing dan nilai tambah, Ditjen PPHP berusaha untuk membangun agribisnis yang didukung agroindustri berbasis kelompok di pedesaan dengan memanfaatkan seluruh komponen komoditi yang menjadi produk yang memiliki nilai (zero waste).

“Selain itu, agar seluruh program pengembangan tersebut dapat berjalan dan memberi dampak dengan optimal, diperlukan kerja sama degan pola Academic-Business-Community-Government (ABCG),” jelasnya.

Untuk informasi, pada tahun 2015 Ditjen PPHP melalui dana APBN mengalokasikan bantuan 423 unit usaha penggilingan padi kepada gapoktan dan 957 unit melalui dana APBNP. Tujuan utama yang ingin dicapai dari fasilitasi dan revitalisasi penggilingan adalah penurunan tingkat kehilangan hasil (losses), peningkatan rendemen giling dan peningkatan mutu beras sehingga dapat meningkatkan daya saing industri penggilingan padi Indonesia.

Program Revitalisasi Penggilingan Padi dilakukan dengan mengganti alat mesin pertanian (alsintan) yang rusak atau menambah alat mesin lain sehingga penggilingan padi dapat berfungsi dengan baik (optimal). Selain itu dapat mengolah hasil samping dan limbah padi. Selama ini hasil samping seperti bekatul belum dikelola dengan baik oleh unit usaha penggilingan padi, padahal nilai tambah dari hasil samping tersebut cukup baik dan dapat menjadi sumber pendapatan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *