Our Ocean Conference Dinilai Sukses, Indonesia Dianggap Terdepan dalam Perlindungan Laut

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri KKP Susi Pudjiastuti di acara press briefing, Our Ocean Conference di Bali (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Jakarta, Villagerspost.com – Our Ocean Conference yang diselenggarakan di Bali sejak tanggal 29 Oktober lalu, telah berakhir pada hari ini, Rabu (31/10). Penyelenggaraan acara ini sendiri dinilai sukses dan Indonesia dianggap menjadi negara terdepan dalam upaya perlindungan laut.

Tahun depan penyelenggaraan OOC akan bergulir ke Norwegia sebagai negara penyelenggara berikutnya. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pidato Handover Ceremony menyampaikan jika OOC 2019 berada di negara penyelenggara yang tepat.

“Tiga tahun lalu saya adalah Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, jadi saya tahu betul Norwegia memiliki perhatian yang tinggi dalam isu-isu kelautan di dunia karena mereka juga mampu mengelola lautnya dengan baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Indonesia menyerahkan secara simbolis ketuanrumahan OOC 2019 kepada Norwegia dengan memberikan replika kapal phinisi dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kepada Menteri Perikanan Norwegia Herald T. Nesvik. “Kapal pinisi merupakan simbol perjalana maritim Indonesia dan juga simbol komitmen kami terhadap isu-isu kelautan,” tegas Retno.

Berbagai hasil dan komitmen baru dalam rangka melakukan perlindungan laut muncul selama dua hari penyelenggaraan konferensi ini. Pertama, sejak pertama kali penyelenggaraan OOC pada 2014 hingga 2017 terkumpul 663 komitmen. “Dimana sepertiga atau 206 komitmen telah terselesaikan,” jelas Anastasia Kusumawardani, Tim Pengawal Komitmen OOC 2018.

“Hal ini bisa menggambarkan bahwa sepertiga negara-negara di dunia sudah menunjukan kepedulian dalam aksi menyelamatkan laut,” tegasnya.

Pada OOC 2018, tambah Anastasia, menghasilkan 287 komitmen dengan nilai yang dicapai sekitar US$10,7 miliar. “Hal yang mengejutkan adalah komitmen yang disampaikan tahun ini tak lagi didominasi oleh pemerintah, namun juga berimbang dengan stakeholder seperti Non-Government Organization, sektor swasta, dan filantropis atau perserorangan,” paparnya.

Kedua, Indonesia yang menjadi tuan rumah OOC 2018 juga memberi kejutan dengan menyampaikan 23 komitmen. Padahal pada penyelenggaraan OOC 2017 di Malta, Pemerintah Indonesia hanya menyampaikan 10 komitmen saja. “Untuk tahun ini nilai komitmen yang disampaikan Indonesia untuk melakukan aksi perlindungan laut sekitar 500 juta Dola AS,” jelas Anastasia.

Sementara itu, Suseno Sukoyono, Staf Ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga selaku Ketua Bidang 2 OOC 2018 menyampaikan, dari penyelenggaraan OOC 2018, ada dua dari enam Area of Action dalam OOC yang paling banyak menjadi fokus utama pembuat komitmen. “Yaitu Marine Pollution dan Marine Protected Areas,” katanya.

Hal ini bisa jadi dipicu dari semakin tingginya perhatian negara-negara di dunia terhadap pelestarian laut. Ketiga, menurut Suseno, pada OOC 2018 ini keikutsertaan stakeholder swasta, baik perusahaan, NGO, maupun filantropis semakin tinggi. “Artinya, upaya perlindungan laut bukan lagi hanya menjadi pekerjaan pemerintah namun juga sudah menjadi perhatian bersama,” katanya.

Sementara Ramon Van Berneveld, International Relation Officer European Union, menyampaikan kepuasannya atas kerja keras Pemerintah Indonesia yang telah sukses menyelenggarakan OOC 2018. Tak hanya berlangsung dengan baik namun juga mampu menghadirkan lebih banyak kegiatan dan mendatangkan jumlah perserta lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. “Kami tentu sangat mengapresiasi sekali atas kerja keras pemerintah Indonesia,” tegas Ramon.

“Ini semakin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara terdepan dalam hal perlindungan laut dan menjadi Poros Maritim Dunia,” tambah Suseno menanggapi pernyataan Ramon.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *