Oxfam: Danone Gagal Buktikan Komitmen Lawan Perubahan Iklim

Program Behinda the Brands atau dibalik merek Oxfam, tuntut komitmen perusahaan besar atasi perubahan iklim (dok. oxfam.org)
Program Behind the Brands atau dibalik merek Oxfam, tuntut komitmen perusahaan besar atasi perubahan iklim (dok. oxfam.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Danone, perusahaan raksasa produsen makanan asal Perancis, dinilai gagal untuk membuktikan komitmennya yang kuat untuk memerangi perubahan iklim dan mendukung daya lenting petani skala kecil. Oxfam mengaku sangat kecewa dengan kelemahan yang terkandung dalam kebijakan perubahan iklim yang dirilisnya baru-baru ini.

Dirilis sebelum pertemuan negosiasi iklim di Paris, kebijakan perubahan iklim yang dibuat Danone dinilai Oxfam tidak memperhatikan kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meyakinkan bahwa para petani dan masyarakat dapat mempersiapkan diri dan beradaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

“Sebagai salah satu perusahaan produsen makanan terbesar di Perancis, menyedihkan untuk melihat Danone membuat sebuah kesalahan fatal sebelum pertemuan para pihak di Paris,” kata manajer kampanye Behind the Brands Oxfam Monique van Zijl dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (20/11).

Dia mengatakan, sebelum momen iklim yang sangat penting ini, perusahaan tersebut seharusnya membuat komitmen yang kuat untuk menghadapi perubahan iklim dalam operasi perusahaaan, dan rantai pasokan mereka, bukan hanya ukuran-ukuran simbolis. “Dunia tidak bisa menunggu 10 tahun bagi perusahaan tersebut untuk bertindak mengatasi krisis iklim yang terjadi sekarang ini,” kata Zijl menambahkan.

Kebijakan Danone hanya melakukan sedikit saja upaya mengatasi kebutuhan penting untuk memangkas emisi gas rumah kaca untuk menghindari bahaya perubahan iklim dan kontribusi perusahaan tersebut atas terjadinya fenomena itu. Target perusahaan itu bahkan tidak memasukkan komitmen spesifik untuk mengurangi sumber emisi terbesar dari rantai suplainya yaitu pertanian. Hampir 60 persen jejak karbon Danone dihasilkan dari pertanian.

Kebijakan terbaru Danone juga gagal untuk menetapkan tujuan terpenting dalam mengurangi total emisinya. Dengan tenggat untuk menyetop emisi global pada tahun 2025, perusahaan itu bahkan bisa mengemisi gas rumah kaca dalam jumlah yang lebih besar lagi dalam 10 tahun ke depan.

Kebijakan lemah perusahaan ini sangat kontras dengan pesaing kuncinya di sektor yogurt yaitu General Mills pemilik merek Yoplait. Mengikuti kampanye Oxfam Behind the Brands, General Mills berkomitmen untuk dan membuat target reduksi absolut berbasis ilmiah yang menyangkut seluruh rantai nilai tambahnya.

Kebijakan Danone juga tidak memperhatikan dengan cukup kebutuhan petani skala kecil dimana Danone sangat bergantung dalam sumber komoditasnya. Danone bisa saja membangun sebuah preseden sebagai pemimpin global tetapi kebijakan mereka gagal membangun daya lenting terhadap rantai suplainya.

Perusahaan itu tidak berkomitmen untuk memberikan kepada para petani tawaran yang adil agar mereka mampu mendapatkan penghasilan tidak juga untuk beradaptasi menghadapi pola cuaca yang berubah ubah. Sebaliknya, kebijakan baru itu justru menerjemahkan daya lenting dengan meletakkan tanggung jawab kepada konsumen untuk mengubah pola makan dan pola belanja mereka ketimbang mengubah praktik rantai pasokan perusahaan.

“Petani skala kecil membawa beban dampak perubahan iklim dan berjuang dengan pendapatan yang tak memadai, tetapi perusahaan seperti Danone telah memilih untuk meninggalkan petani menghadapi dampaknya ketimbang berinvestasi membangun daya lenting mereka,” kata van Zijl.

“Menuju Paris, Danone punya peluang untuk menunjukkan kepemimpinan yang nyata menghadapi perubahan iklim, tetapi hari ini mereka malah memilih untuk tertinggal,” tambahnya.

Oxfam memperkirajan 10 perusahaan teratas–Associated British Foods, Coca-Cola, Danone, General Mills, Kellogg, Mars, Mondelez International, Nestlé, PepsiCo and Unilever– mengemisi banyak sekali gas rumah kaca. Seandainya mereka adalah sebuah negara, mereka akan ada di posisi ke-25 negara paling polutif di dunia. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *